Ketika membayangkan film atau cerita horor, kebanyakan orang pasti langsung memikirkan tentang hantu, jumpscare, atau scene makhluk tak kasat mata yang bikin merinding. Nyatanya, kisah horor tak melulu tentang itu. Cerita pendek klasik dari Charlotte Perkins Gilman yang terbit pada 1892, The Yellow Wallpaper, menggambarkan pengalaman horor melalui kondisi psikologis si pemeran utama yang merasa cemas yang tak ada ujung. Tanpa memunculkan sosok-sosok tak kasat mata, buku ini tetap sukses membuat bulu kuduk pembaca berdiri.
Sinopsis The Yellow Wallpaper
The Yellow Wallpaper menceritakan kisah tentang seorang perempuan yang mengalami gangguan mental setelah melahirkan atau yang biasa disebut postpartum disorder. Demi mempercepat proses pemulihannya, sang suami yang juga berprofesi sebagai dokter menyarankannya menjalani rest cure, yaitu beristirahat total tanpa melakukan aktivitas apapun yang dianggap dapat menguras tenaga dan pikiran di sebuah rumah terpencil. Kegiatan yang paling disukainya, menulis, juga tidak diperbolehkan. Padahal lewat menulis, ia bisa mencurahkan perasaannya yang sedang tak karuan saat itu. Karenanya, ia menjalani hari di rumah tersebut yang sangat membosankan.
Selama menjalani masa pemulihan di sebuah rumah terpencil, ia menghabiskan sebagian besar waktunya di sebuah kamar dengan wallpaper berwarna kuning. Awalnya, ia hanya merasa tidak menyukai motif wallpaper tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, perhatian dan pikirannya mulai terpusat pada pola-pola aneh di dinding itu. Merasa takut, ia menceritakan perasaannya ini kepada suaminya namun hanya menganggapnya berhalusinasi. Tak ada tanggapan, rasa takut dan cemasnya berlangsung berlarut-larut dan membuatnya melakukan hal-hal yang tak pernah ia bayangkan.
Dari sinilah cerita berkembang menjadi semakin mencekam dan membawa pembaca menyelami kondisi psikologis sang tokoh utama tanpa harus mengandalkan kemunculan hantu atau makhluk supranatural.
Horor Dibangun dari Kondisi Psikologis Tokoh Utama
Berbeda dari cerita horor pada umumnya yang mengandalkan hantu atau makhluk supranatural, The Yellow Wallpaper menghadirkan rasa takut melalui kondisi psikologis tokoh utamanya. Tokoh utama digambarkan mengalami gangguan mental yang semakin memburuk akibat isolasi, kurangnya kebebasan, dan perlakuan yang meremehkan kondisinya. Hal ini membuat ketegangan tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi tumbuh perlahan seiring perubahan cara berpikir, emosi, dan persepsi tokoh terhadap lingkungannya.
Semakin dalam, pembaca dibawa menyelami cara berpikir si tokoh utama yang mulai kesulitan membedakan kenyataan dan imajinasi. Ia menjadi semakin terobsesi dengan pola pada wallpaper kuning di kamarnya, yang kemudian ia anggap memiliki makna tersembunyi. Ia menganggap, setiap malam ada wanita yang keluar dari motif dinding itu yang menatap tajam padanya. Perubahan ini menciptakan suasana yang tidak stabil dan membuat pembaca ikut merasakan kebingungan, kecemasan, serta tekanan psikologis yang dialami tokoh tersebut.
Penggunaan sudut pandang orang pertama membuat pengalaman ini terasa semakin intens dan personal. Pembaca seolah-olah berada langsung di dalam pikiran tokoh utama, menyaksikan secara langsung bagaimana pikirannya perlahan runtuh. Karena tidak mengandalkan jumpscare atau kejutan visual, horor dalam cerita ini justru terasa lebih realistis, mendalam, dan meninggalkan kesan yang kuat setelah cerita selesai dibaca.
Kritik pada Cara Pandang Kesehatan Mental Perempuan saat Itu
Di balik nuansa horornya, cerpen The Yellow Wallpaper ini juga diciptakan sebagai kritik terhadap cara pandang masyarakat di abad 19 mengenai kesehatan mental perempuan. Sang narator yang juga tokoh utama menunjukkan gejala-gejala depresi pasca melahirkan. Alih-alih diberi ruang untuk melakukan hal yang disuka dan menuangkan emosinya, ia justru 'dikurung' dan dipaksa diam.
Situasi ini berkaitan dengan peran perempuan yang belum terlalu bebas, salah satunya dalam kegiatan intelektual, seperti menulis. Perempuan juga digambarkan belum memiliki kendali atas dirinya sendiri sehingga mau tak mau harus menuruti perkataan laki-laki. Melalui cerita ini, Charlotte Perkins Gilman menunjukkan bagaimana perempuan pada masa itu kerap tidak didengar dan dianggap tidak mampu memahami kebutuhannya sendiri. Meski berlatar lebih dari satu abad yang lalu, isu tentang kesehatan mental, validasi perasaan, dan pentingnya didengarkan masih terasa relevan hingga saat ini.
Meski telah terbit lebih dari satu abad lalu, The Yellow Wallpaper tetap menjadi bacaan yang selalu dicari pecinta sastra klasik hingga saat ini. Cerita pendek ini membuktikan bahwa horor tidak selalu hadir dalam bentuk hantu, tetapi juga bisa lahir dari tekanan psikologis dan kenyataan yang dialami manusia. Jika kamu mencari bacaan singkat yang mencekam sekaligus penuh makna, karya klasik ini layak masuk daftar bacaanmu. Tertarik buat baca?
Baca Juga
-
Mengapa The Yellow Wallpaper Dianggap Karya Sastra dengan Kritik Feminisme?
-
Bukan Pajeon Biasa! Ini 5 Fakta Menarik Padakjeon, Pancake Korea Tinggi Protein yang Lagi Viral
-
Mengenal Kimpul, Umbi Lokal Pengganti Nasi yang Sedang Viral Jadi Seblak hingga Tteokbokki
-
Jangan Dibuang, 5 Tips Membuat Tteok dari Nasi Sisa, Irit dan Gluten Free!
-
Bukan Sembarang Donat, Ini 5 Keunikan Kkwabaegi, Donat Kepang Khas Korea
Artikel Terkait
Ulasan
-
Kembali ke Titik Nol: Saat Bisnis Tak Lagi Sekadar Mengejar Untung
-
The Boy Who Harnessed the Wind: Kisah Nyata Remaja yang Menyelamatkan Desa dengan Kincir Angin
-
Review Lucky: Bertabur Bintang, Sayangnya Naskah Terlalu Dangkal Dinikmati
-
Ulasan Pyramid Game: Ketika Perundungan Menjadi Hal yang Dianggap Wajar
-
Makna Lagu 'Petal' Ariana Grande: Luka Jadi Bahan Bakar untuk Tumbuh
Terkini
-
Candu Solusi Instan: Pemberdayaan UMKM atau Kegagalan Cipta Lapangan Kerja?
-
Akses Pendidikan Perempuan: Sudahkah Merdeka Belajar Benar-benar Setara?
-
Intip 4 OOTD Y2K Pop-Punk ala Choi Yena, Gaya Lebih Cute dan Rebel!
-
Mengapa The Yellow Wallpaper Dianggap Karya Sastra dengan Kritik Feminisme?
-
Disuruh Jajan demi Selamatkan Negara? Dompet Kita: Giliran Gue Lagi?