Menjadi dewasa sering dianggap sebagai sesuatu yang harus segera dicapai. Mampu mengurus diri sendiri, punya pekerjaan yang settle, dan merancang masa depan seolah menjadi tolok ukur untuk menentukan apakah seseorang sudah cukup dewasa. Padahal, setiap orang punya keadaan yang berbeda untuk sampai ke titik tersebut.
Premis itu terasa kuat dalam The Sound of Magic. Di balik kisah musikal dan fantasi yang penuh warna, drama ini memperlihatkan kehidupan anak muda yang sudah dibebani persoalan orang dewasa.
Drama ini mengisahkan Yoon Ah Yi (diperankan Choi Sung Eun), siswi SMA yang harus bekerja paruh waktu untuk menghidupi dirinya dan sang adik setelah ditinggalkan orang tuanya. Di tengah kondisi tersebut, ia tetap berusaha mempertahankan prestasi akademiknya dan menyimpan keinginan untuk segera menjadi dewasa agar bisa memiliki pekerjaan yang stabil. Di sekolah, ia bersaing dengan Na Il Deung (diperankan Hwang In Yeop), siswa berprestasi yang juga hidup di bawah tekanan ekspektasi keluarganya.
Kehidupan Ah Yi kemudian berubah setelah bertemu Ri Eul (diperankan Ji Chang Wook), pesulap misterius yang tinggal di sebuah taman hiburan terbengkalai. Pertemuan tersebut memunculkan pertanyaan tentang arti tumbuh dewasa.
Realita Anak Muda yang Dipaksa Dewasa
Hal menarik dari The Sound of Magic bagi saya justru bukan unsur sihirnya, tetapi realita yang ada di balik cerita tersebut. Yoon Ah Yi masih seorang siswi SMA, tetapi kehidupannya sudah dipenuhi urusan yang biasanya identik dengan orang dewasa.
Ia harus mencari uang, memikirkan kebutuhan adiknya, dan berusaha tetap berprestasi di sekolah. Keinginannya untuk cepat dewasa pun terasa masuk akal karena ia melihat kedewasaan sebagai jalan keluar dari hidup yang serba tidak pasti.
Namun, drama ini tidak berkutat pada Ah Yi. Na Il Deung juga menyimpan masalah yang berbeda. Ia tidak harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi dituntut untuk menjadi siswa terbaik dan memenuhi harapan keluarganya.
Drama ini tidak menggambarkan masa muda sebagai fase yang ringan dan menyenangkan. Ada anak-anak yang harus tumbuh lebih cepat karena keadaan, sementara sebagian lainnya tumbuh di bawah tuntutan untuk memenuhi standar kesuksesan.
Ri Eul dan Makna Sihir yang Sebenarnya
Pertanyaan “Apakah kamu percaya pada sihir?” yang terus dibawa Ri Eul awalnya mungkin terdengar seperti bagian dari gimmick karakter seorang pesulap. Namun, semakin jauh cerita berjalan, pertanyaan tersebut terasa seperti inti dari drama ini.
Bagi Ah Yi yang sudah terlalu terbiasa menghadapi kenyataan, percaya pada sesuatu yang tidak masuk akal mungkin terasa seperti kemewahan yang sudah lama tidak ia miliki.
Kehadiran Ri Eul kemudian menjadi semacam angin segar bagi Ah Yi. Ia menawarkan dunia yang berbeda dari keseharian Ah Yi yang penuh tuntutan. Ada sulap, musik, dan suasana seperti dongeng yang membuat Ah Yi kembali melihat bahwa hidup masih bisa memiliki sisi yang menyenangkan.
Di titik ini, saya merasa “sihir” dalam drama ini tidak harus dipahami secara harfiah. Sihir bisa dimaknai sebagai kemampuan untuk tetap membayangkan kehidupan yang berbeda dari keadaan sekarang.
Hal serupa juga berlaku bagi Il Deung. Ia punya masa depan yang sudah terlihat cukup jelas, tetapi belum tentu merupakan masa depan yang benar-benar ia pilih. Pertemuan dengan Ri Eul membuatnya mulai melihat bahwa hidup tidak harus selalu mengikuti jalur yang sudah disiapkan orang lain.
Musikal yang Membuat Cerita Terasa Berbeda
Gagasan tersebut kemudian diperkuat lewat format musikal yang menjadi ciri khas The Sound of Magic. Lagu-lagu dalam drama ini tidak hanya digunakan sebagai hiburan, tetapi juga menjadi cara karakter menyampaikan perasaan yang sulit diucapkan lewat dialog.
Secara visual, pendekatan tersebut juga digarap dengan cukup menarik. Perpaduan warna, koreografi, efek visual, dan suasana taman hiburan terbengkalai membuat serial ini terasa seperti dongeng yang sengaja ditempatkan di tengah kehidupan yang realistis.
Dari sisi akting, Choi Sung Eun cukup berhasil membawa Ah Yi sebagai remaja yang dipaksa kuat karena keadaan, tetapi sebenarnya masih menyimpan banyak keraguan.
Hwang In Yeop juga mampu menunjukkan sisi Il Deung yang tertekan di balik sosok siswa berprestasi. Sementara itu, Ji Chang Wook memberikan karakter Ri Eul sisi eksentrik sekaligus misterius yang membuat penonton terus bertanya-tanya tentang dirinya.
Meski begitu, format musikalnya mungkin terasa kurang nyaman bagi penonton yang tidak terbiasa dengan perpindahan mendadak dari dialog ke nyanyian. Durasi enam episode juga membuat beberapa konflik terasa diselesaikan terlalu cepat, terutama menjelang akhir cerita.
Namun, terlepas dari kekurangan tersebut, The Sound of Magic tetap berhasil meninggalkan kesan karena menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar drama fantasi.
Tag
Baca Juga
-
Bias dalam Rekrutmen: Mengapa Status Pernikahan Membatasi Peluang Kerja?
-
Keberanian Gen Z Mendobrak Tradisi: Mewarisi Tak Harus Mengikuti
-
If You Wish Upon Me: Menemukan Alasan Hidup dari Mereka yang Menanti Ajal
-
Budaya Romantisasi Kemiskinan: Toxic Positivity yang Mengabaikan Realita
-
Politik di Ruang Pengasuhan: Kecemasan Membesarkan Anak di Negeri Sendiri
Artikel Terkait
-
Segera Tayang! Intip Fakta-Fakta Menarik Drama Korea 'New Recruit 4'
-
Review The Husband: Pernikahan Retak yang Berubah Jadi Cerita Penuh Misteri
-
Sangkar Emas dan Romansa Toxic: Membedah Era Revolusioner dalam Drama Blazing Elegance
-
Review Drama Korea: The Apartment Job, Kupas Skandal Korupsi dengan Humor
-
If You Wish Upon Me: Menemukan Alasan Hidup dari Mereka yang Menanti Ajal
Ulasan
-
Review Toko Buku Abadi: Novel Unik dengan Alur Cerdas dan Banyak Perspektif
-
Menjelajahi Kedalaman Luka dan Nostalgia dalam The Grand Budapest Hotel
-
The Island of the Blue Dolphins: 18 Tahun Sendirian di Pulau Terpencil?
-
Review The Husband: Pernikahan Retak yang Berubah Jadi Cerita Penuh Misteri
-
Masjid Riyadhus Sholihin Jember, Jejak Dakwah yang Tak Pernah Sepi Peziarah
Terkini
-
Tragedi Bencana di Luar Jawa: Saat Nyawa Korban Tersandera Birokrasi dan Rantai Pasok Pusat
-
David Alonso, Calon Rookie MotoGP 2027 Ini Ternyata Anak Didik Marc Marquez
-
Bahaya Laten Self-Diagnosis: Saat Gangguan Mental Berubah Jadi Tren Estetika di Media Sosial
-
Dicibir karena Animasi Jelek, Niu Lai Jadi Box Office Saingi The Odyssey
-
Tayang 2027, Ini Jajaran Pemain Utama Film Akgu: The Secret of the Moon