Seekor kucing oranye yang cukup gemuk tiba-tiba memburuku tepat setelah aku membuka pintu gerbang kost. Namanya Dora, dan kucing itu sering diberi makan oleh para penghuni kost, termasuk aku. Namun, tak ada satu pun dari kami yang akan membiarkannya masuk ke dalam kost jika malam tiba. Ya, Dora selalu dibiarkan di luar gerbang, tidur di mana pun yang mungkin bisa membuatnya merasa lebih hangat. Padahal, ibu kost tidak pernah melarang para penghuni untuk mengurus kucing. Bu kost bilang, “Silakan, boleh pelihara kucing ata anjing. Tapi harus bertanggung jawab, ya.”
Ketika aku mengingat soal itu, aku selalu mempertanyakan diri sendiri tentang, apakah benar aku menyukai seekor kucing? Dahulu, saat masih kecil, aku tidak tahan melihat seekor kucing kedinginan dan akan membawanya masuk ke rumah, bahkan membuatnya menjadi teman tidur semalaman. Aku akan menyayangi kucing apa pun jenisnya, tidak peduli bagaimana keadaannya. Jika sakit, aku akan merawatnya sampai sembuh. Sekarang, semua hal itu seakan-akan jauh dari jangkauan. Terlalu banyak permasalahan hidup yang menghuni ruang kepala ini, sehingga hal-hal semacam itu tak bisa kulakukan lagi.
Beberapa hari lalu, aku kehilangan pekerjaan. Bukan karena dipecat, tapi karena perusahaan tempatku bekerja dinyatakan bangkrut. Gaji terakhirku bahkan belum sepenuhnya dibayarkan. Padahal, tadinya aku sudah bilang kepada ibuku di kampung kalau gaji tersebut akan dikirimkan untuk membantu melunasi utang keluarga kami.
Tentu kenyataan bahwa aku kehilangan pekerjaan tanpa persiapan apa-apa adalah sesuatu yang tidak pernah kuharapkan sama sekali. Dan kini, aku harus kembali berjuang dari nol. Kukatakan kepada ibuku bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa aku akan kembali mendapatkan pekerjaan dan mengiriminya uang yang banyak.
Aku mengatakan semua itu tanpa tahu apakah lusa aku masih bisa makan atau tidak.
Memikirkan segala kemalangan membuatku sangat lelah. Jadilah setelah satu hari lalu aku hanya rebahan dan mengutuk hidup, hari ini aku kembali bergerak. Kuambil langkah dengan berat menuju rumah temanku, Cintya, yang katanya hendak membuka warung seblak. Aku lihat status WhatsApp-nya kemarin:
“Yang bisa kerja di warung, datang aja ke rumah.”
Saat aku membacanya, status itu baru saja dibuat. Tanpa buang-buang waktu, aku pun langsung membalas dan mengatakan kepada Cintya, kalau aku tertarik dengan pekerjaan apa pun yang ada di warung seblak barunya. Untungnya, ia menyambut pesanku dengan sangat baik. Setelah aku ungkapkan soal aku yang baru saja kehilangan pekerjaan, Cintya semakin merangkulku.
“Datang aja, nanti kamu bisa langsung kerja. Gampang kok.”
Walaupun aku buruk dalam hal masak-memasak, tapi setelah aku melihat tutorial masak seblak di YouTube, aku merasa itu tidaklah terlalu sulit. Aku pikir, aku bisa mempelajarinya terlebih dahulu dan mungkin tak akan memakan waktu lama. Terlebih Cintya yang aku tahu orangnya sabar dan pengertian. Ia pasti akan mengajariku dengan baik.
Satu-satunya hal yang tidak kuduga adalah ternyata, setelah sampai di warung seblaknya, sudah ada pekerja lain. Total pekerjanya jadi tiga orang, termasuk Cintya yang juga ikut turun tangan. Baik Cintya maupun pekerja tersebut sudah lihai. Aku jadi agak gugup, walaupun seperti yang aku bilang tadi, Cintya begitu telaten mengajariku. Menjelang siang, warung seblak sangat ramai. Aku cukup senang, karena bertemu banyak orang membuatku mampu melupakan semua permasalahan yang kupunya.
Setelah semua keramaian itu, rasanya aku hampir pingsan. Remuk semua badanku.
“Syukur kamu ada di sini, jadi aku sama karyawanku gak kewalahan. Makasih ya, besok datang lagi, kan?” tanya Cintya sambil menyodorkan amplop dan kresek berisi seblak.
Aku menerimanya dengan semringah. “Ini beneran dikasih langsung hari ini?”
Cintya tersenyum. “Iya, ambil aja. Kalau sistemnya mau mingguan atau bulanan juga boleh. Nanti kita obrolin.”
Aku mengangguk. “Makasih banyak, ya. Besok aku pasti datang lagi.”
Cintya merangkulku untuk kesekian kali. Aku betul-betul merasa ingin menangis pada saat itu, tapi sekuat tenaga aku menahannya. Malu.
Di perjalanan pulang, langkahku terasa lebih ringan. Aku mungkin harus beli koyo untuk sedikit menyamarkan rasa pegal-pegal, tapi itu tak apa. Bukan masalah. Ini lebih baik daripada aku hanya berguling-guling di kamar sampai lelah sambil memikirkan banyak hal yang ruwet.
Tepat saat aku hendak membuka gerbang kost, Dora datang menghampiriku entah dari mana. Ia membawa sepotong ayam goreng di mulutnya, lalu meletakkannya di hadapanku, kemudian mengeong-ngeong sangat keras.
Aku hanya menggeleng. “Tidak, aku tidak mau. Buatmu saja.”
Dora tak mendengarkan. Ia terus mengeong. Aku merasa kasihan dan memutuskan untuk membawanya masuk ke kamar. Berikut ayam gorengnya.