Jejak-Jejak Miko

Hayuning Ratri Hapsari | Imas Hanifah N
Jejak-Jejak Miko
Ilustrasi telapak tangan kucing. (Pixabay/mdtoast)

Sudah seminggu lamanya, suara gemerincing kalung yang khas itu tidak lagi terdengar di lorong rumah. Bagi orang lain atau tetangga, suara tersebut mungkin hanya berasal dari benda remeh yang tak memiliki arti, tapi bagi Sean, suara itu adalah sesuatu yang penting, semacam sambutan tetap yang begitu hangat setiap kali pagi tiba. Sayangnya, seminggu belakangan, pagi hari Sean selalu datang dengan sunyi yang tidak biasa, kesunyian yang jelas-jelas mengisyaratkan kehilangan. 

Sean beranjak dan menuang kopi ke cangkir favoritnya. Lalu secara otomatis, tangannya bergerak mengambil sebuah mangkuk keramik kecil yang ada di sudut dapur. Ia baru tersadar saat jemarinya menyentuh pinggiran mangkuk yang kosong. Tidak ada lagi Miko yang mengeong nyaring di dekat kakinya, menuntut jatah sarapan dengan ekor yang melingkar di pergelangan kaki Sean. 

Pemuda itu menghela napas, meletakkan kembali mangkuk ke posisinya. “Kebiasaan lama memang sulit dihilangkan,” ucapnya pelan.

Menjelang sore hari, Sean duduk di sofa ruang tamu. Sinar matahari senja masuk melalui celah-celah jendela, membentuk garis-garis keemasan di atas karpet motif kucing, hadiah dari sang mama. Biasanya, di jam seperti ini, Miko akan berguling-guling di atas karpet itu, atau mencakarnya. Dan di saat-saat tertentu, kalau di luar sedang hujan, ia hanya akan meringkuk hingga menyerupai gumpalan awan oranye yang bernapas pelan dan damai. Sean sering menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk memperhatikan naik-turunnya perut Miko. Gemas. 

Sean mencoba mengalihkan pikiran dengan membaca buku, tapi fokusnya tiba-tiba teralihkan oleh bulu-bulu halus yang masih menempel di bantal sofa. Ia menatap bantal sofa berlama-lama, dan merasa tidak berkeinginan untuk membersihkannya. Baginya, bulu-bulu itu adalah salah satu bukti bahwa Miko pernah ada, pernah menjadi bagian dari apa yang ia sebut sebagai keluarga, bukan sekedar peliharaan dan memori indah yang akan mengabur. 

Ah, kehilangan memang jenis duka yang aneh. Dunia di luar sana tetap berputar seolah tidak ada yang terjadi, namun di dalam dinding rumah seseorang, mungkin ada sebuah lubang besar yang tidak bisa ditambal hanya dengan kata-kata, “Itu cuma kucing.”

Miko bukan hanya kucing. Ia adalah saksi bisu malam-malam Sean yang penuh lembur, teman bicara saat Sean merasa dunia terlalu ramai, dan pemberi cinta tanpa syarat yang tidak pernah menuntut penjelasan sama sekali. Selalu ada, selalu menerima. 

Ketika malam perlahan naik, Sean akhirnya memutuskan untuk membereskan mainan-mainan Miko. Sebuah bola karet merah, tikus-tikusan dari kain perca yang sudah agak robek, dan seutas tali sepatu usang. Ia memasukkannya ke dalam kotak kerdus dengan gerakan perlahan, seolah-olah benda-benda itu terbuat dari bahan yang mudah pecah.

Saat Sean menutup kotak itu, ia menemukan segumpal bulu lainnya di dekat laci. Mata Sean berkaca-kaca, tapi ia juga tersenyum. Sean mulai menyadari bahwa meskipun ruangan di rumahnya kini terasa sangat kosong, tapi jejak-jejak kecil yang ditinggalkan Miko telah dan akan menetap selamanya. Di dalam hati, juga pikiran Sean. 

Hidup nyatanya harus terus berjalan, Sean memahami itu. Besok pagi, ia mungkin masih akan refleks menoleh ke arah mangkuk keramik kosong, atau tanpa sadar menghindari menginjak area karpet tertentu, takut ada ekor Miko di dalamnya. Namun, rasa sakit dari kehilangan itu perlahan mulai berubah dan mengalirkan ketenangan. Sean bersyukur karena pernah dipercaya untuk menjaga sebentuk nyawa yang kecil dan berharga seperti Miko. 

Sean lalu mematikan lampu ruang tamu. Di dalam kegelapan, ia tidak lagi merasakan kesendirian. Ia masih merasa ditemani oleh kenangan-kenangan manis dan hangat, dari jejak-jejak yang ditinggalkan oleh Miko. Kucing yang paling ia cintai. 

(*)

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak