Insiden sebelum Kencan Pertama

Hayuning Ratri Hapsari | Imas Hanifah N
Insiden sebelum Kencan Pertama
Ilustrasi seorang lelaki berkemeja sedang bersiap-siap. (Pexels/Антон Залевський)

Seumur hidup, tak pernah aku punya semangat untuk menyetrika baju sendiri. Namun, hari ini adalah pengecualian. Kemeja andalanku, kemeja keberuntunganku yang selalu menemaniku di saat-saat penting, harus terlihat rapi. Walaupun sudah berkali-kali dipakai, tapi aku yakin kemeja ini, pada hari ini pun, akan memberikanku suatu keberuntungan. 

Setelah cukup lama hanya bertukar pesan, foto, dan sesekali melakukan panggilan video, akhirnya waktu melihat pacarku yang cantik itu tiba juga. Oh, aku sudah tak sabar sebenarnya. 

Sengaja, aku berangkat pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Mungkin perjalanan ke kafe itu hanya akan memakan waktu tiga puluh menitan paling lama. Tak apa jika menunggu satu jam sebelum waktu yang aku dan Dewi sepakati. Aku tak akan keberatan. Karena, aku juga tak ingin membuatnya menunggu. 

Aku akan pergi dengan angkutan umum kereta. Sebenarnya, aku punya dana lebih untuk naik taksi, tapi tampaknya naik kereta terasa akan lebih menyenangkan. Aku akan punya waktu lebih juga untuk berpikir tentang apa yang harus dilakukan atau dibicarakan. Kata orang-orang, bertatap muka langsung kadang-kadang beda jauh rasanya dengan hanya mengobrol melalui chat atau telepon. Aku tak boleh kehabisan topik. 

Aku harus mulai mencari kiranya apa saja yang akan seru untuk dibicarakan dengan Dewi. Apakah soal kucingnya yang suka kabur-kaburan, atau soal kol goreng, makanan kesukaannya yang kurang sehat itu. Hal-hal kecil yang bisa membawa aku dan Dewi kepada obrolan-obrolan menarik lainnya, sampai-sampai kami lupa apa yang kami obrolkan pertama kali. 

Saat aku semakin larut dalam semua pikiran itu, kurasakan ada yang aneh. Para penumpang kereta memang cukup banyak, akan tetapi rasanya tidak perlu sampai berdesak-desakan. Aku melirik ke arah ibu-ibu mencurigakan yang baru saja kusadari terus menatapku. Apakah ini semacam ....

Aku segera melirik ke belakang, dan kudapati seorang bapak-bapak yang terperangah sembari memegang dompet ... milikku! Ya, itu milikku!

Copet!“ teriakku. Si bapak-bapak itu malah hendak kabur dengan masih menggenggam dompetku, dan tepat pada saat itu, kereta berhenti, pintunya terbuka. Penumpang lain segera menghalangi agar si pencopet tak bisa kabur. Saat aku merebut dompetku sendiri, si bapak itu menonjok wajahku, seketika orang-orang tersulut dan memukul balik si pencopet. Kemudian, di tengah kericuhan itu, baru aku sadari kalau ponselku sempat terjatuh. Layarnya pecah dan rupanya tak bisa dihidupkan. 

Petugas keamanan segera membawa si pencopet dan aku pun harus ikut untuk dimintai keterangan. Kupikir tak akan lama, tapi rupanya lebih dari satu jam kemudian, masih belum juga selesai. Aku tidak bisa menghubungi Dewi, nomor WA-nya tak bisa kuingat, jadi tidak bisa aku hubungi lewat ponsel milik orang lain, setidaknya untuk mengabari. 

Setelah dua jam, akhirnya prosesnya selesai. Si pencopet yang rupanya sedang dihimpit perkara ekonomi itu mungkin akan dihukum selama beberapa bulan. Petugas keamanan mengatakan akan menghubungiku lagi nanti. Namun, aku tak begitu peduli. Saat ini, aku hanya ingin segera menemui Dewi. 

Aku memesan taksi menuju kafe. Tidak sampai sepuluh menit. Tepat saat aku hendak masuk ke kafe itu, kulihat Dewi tampaknya akan beranjak pergi. Buru-buru aku menghampirinya. Ia terlihat terkejut. Mungkin melihat wajahku yang agak berantakan. 

“Kamu kenapa?” tanyanya.

“Tadi aku hampir kecopetan, tapi aku lawan copetnya. Cuma hapeku jadi jatuh. Jadi gak bisa kasih kabar ke kamu.”

Ia kemudian terlihat lebih lega dan tersenyum. Senyum yang sangat manis. 

(*)

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak