Pahlawan Yasmin

Bimo Aria Fundrika | Hafsah H.
Pahlawan Yasmin
Ilustrasi Merawat Orang Tua Sambil Belajar (Gemini AI)

“Demikian kuliah tamu singkat yang disampaikan oleh Bu Yasmin. Sekarang saatnya sesi tanya jawab.”

Seorang moderator mengambil alih acara seminar yang baru saja kuakhiri. Beberapa peserta mengacungkan tangan, moderator lalu memepersilakan gadis berkerudung kuning untuk menyampaikan pertanyaannya.

“Kalau boleh tahu, apa yang membuat Bu Yasmin tegar disaat-saat sulit ibu? Bagi saya, masalah yang ibu hadapi tidaklah mudah. Ibu adalah sosok yang kuat.”

Kulemparkan senyum pada gadis itu. Pertanyaan yang sama yang sudah ribuan kali aku dengar. Mataku menerawang jauh, mengingat kembali masa-masa itu.

“Kami sudah berusaha yang terbaik, tapi nyawa Pak Andika sudah tidak bisa terselamatkan.”

Air mataku tumpah begitu saja mendengar berita kematian ayah. Sosok yang sangat aku cintai kini telah berpulang.

“Setelah ini siapa yang akan mengurus ibu? Kakak-kakakmu sudah tidak peduli lagi dengan ibu yang sudah renta ini.”

Kalimat yang diucapkan ibu semakin menamparku, menambah kepedihan di hatiku. Ya, aku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Kedua kakakku sudah berkeluarga dan tidak tinggal bersama kami lagi eskipun kami masih hidup di satu kota yang sama. Ayah yang sakit-sakitan membuatku harus berjuang sendiri, untuk diriku, dan keluargaku.

Ketika aku duduk di kelas XII, menikmati bangku kuliah adalah sebuah mimpi dan harapan yang besar bagiku yang serba kekurangan. Ayah hanyalah guru mengaji di langgar dan berpendidikan SD, semestara ibu adalah seorang guru madrasah.

Penghasilan ayah dan ibu tentu tidak cukup untuk biaya pendidikanku. Nekat, hanya dengan tekad yang kuat aku mendaftarkan diri ke sebuah kampus negeri. Aku sudah memutuskan untuk berpendidikan, ayah dan ibu harus bangga padaku! Begitu kira-kira tekadku kala itu.

Satu bulan setelah test, aku mendapati diriku lolos seleksi universitas negeri. Aku masih ingat bagaimana ayah terlihat lebih ceria dari biasanya. Aku tahu di lubuk hatinya pasti Ia bangga padaku. Kedua kakakku hanya berpendikan SMA, sekolah hingga ke perguruan tinggi adalah hal yang baru di keluarga kami.

Waktu pun berlalu, ketika aku semester 3, ayah mulai sakit-sakitan. Ayah mengidap penyakit diabetes dan kolesterol. Kondisi ayah yang seperti itu menuntutku untuk bekerja lebih keras lagi, bukan hanya untuk kebutuhan kuliah dan kebutuhan sehari-hari. Namun juga untuk biaya pengobatan ayah.

Semester 3 dan 4 adalah saat-saat sulit bagiku, materi perkuliahan yang semakin rumit, tugas kuliah yang seakan tidak memberi tolenrasi, dan pekerjaan yang memaksaku harus terus bertahan, demi ayah.

“Yasmin, kamu sudah makan, Nak? Jangan tertalu keras dengan tubuhmu. Kamu juga butuh istirahat dan makan teratur,” ucap ayah saat melihatku datang sore itu.

“Sudah, Yah, dikampus, Ayah nggak usah khawatir. Aku sudah istirahat kok tadi.”

Aku tersenyum melihat ayah yang masih menghawatirkanku. Aku memang sempat tertidur 2 jam saat jam kosong tadi siang.

“Berjanjilah untuk selalu tegar. Hidup ini tidak pernah menjanjikan kesenangan dan kemudahan. Tapi kemudahan dan kesenangan akan datang pada orang yang selalu melibatkan Tuhan. Mencoba tegar, meski tidak mudah, berharap hanya pada Tuhan. Tuhan akan selalu bersama kita, Yasmin.”

Kalimat ayah begitu menggetarkan hatiku. Ayah benar, Tuhan selama ini selalu membantuku. Memudahkanku untuk melanjutkan pendidikan, membantuku mengurus kedua orang tuaku sendirian.

Aku sangat menyesali kedua kakak-kakakku menikahi orang yang tidak peduli pada ayah dan ibu. Padahal dulu, kakak yang mengajariku untuk berbakti pada orang tua.

“Kalimat yang diucapkan ayah saat itu selalu terngiang di telinga ibu, dan menguatkan ibu hingga detik ini," jawabku atas pertanyaan gadis berkerudung kuning di seminarku ini.

Setelah di persilakan oleh moderator, seorang pemuda berkacamata mencoba menyampaikan pertanyaannya, “pernah nggak Bu Yasmin merasa hidup ini nggak adil? Dan semua seperti nggak berpihak pada ibu?”

Ingatanku kembali berkelana.

“Yasmin, apa rencana kamu setelah lulus kuliah?” tanya Bu Lisa, dosen pembimbing skripsiku kala itu.

“Saya ingin bekerja, Bu,” jawabku mantap.

“Kamu tidak ingin sekolah lagi?”

Sebuah harapan kembali terbit di benakku. Namun mengingat kondisiku saat ini, semua seperti hanya impian belaka.

“Kalau kamu mau jadi anak bimbing ibu lagi. Ibu sangat bersedia, Yasmin. Semuanya ibu yang tanggung,” ucap Bu Lisa lagi.

Apa Bu Lisa sedang menawarkan sebuah kesempatan S2 secara cuma-cuma?

“Kamu bisa memikirkannya dulu. Silakan temui ibu setelah yudisium.”

Aku pun pamit dari ruangan Bu Lisa. Bimbingan skripsiku memang telah berakhir setelah Bu Lisa menandatangi berkas agar aku bisa mengikuti sidang ujian akhir.

Diluar ruangan Bu Lisa, pikiran dan perasaanku campur aduk menjadi satu. Sedih, haru, senang, semuanya memenuhi rongga dadaku.

Sedih karena harusnya ayah bisa melihat sebentar lagi aku akan lulus. Senang karena skripsiku hampir selesai dan Bu Lisa menawarkan S2 secara gratis. Dan haru, karena aku bertemu dengan sosok sebaik Bu Lisa.

Beliau tidak hanya seorang dosen pembimbing bagiku, bahkan sudah seperti ibuku sendiri. Aku banyak belajar mengenai perjuangan dan kemandirian dari Bu Lisa.

Ketika ayah meninggal, jiwaku sangat terpuruk. Aku seperti hilang arah, tidak tahu harus berbuat apa. Semua yang kulakukan hingga saat ini untuk ayah, untuk mengangkat derajat keluarga kami, agar kehidupan kami membaik. Namun takdir berkata lain. Semangat dan tumpuan hidupku kini sudah menghadap Sang Pencipta.

Kehilangan harapan bukan sebuah alasan untuk menyerah, kan?

Setelah yudisium, aku kembali mengadap Bu Lisa dan aku ingin sekolah lagi!

Hari berganti hari, perayaan kelulusanku pun digelar. Pendaftaran dan test untuk ‘study’ lanjutku telah kujalani.

Kini aku resmi menyandang status sebagai mahasiswa magister. Sebuah pencapaian yang tidak pernah terlintas dibenakku 5 tahun yang lalu. Ketika aku SMA, bisa lulus saja sudah merupakan prestasi bagiku. Namun Tuhan memberiku kesempatan lebih.

Aku ingat kalimat ayah sore itu, “Muliakanlah orang tuamu maka Tuhan akan memuliakanmu.”

Aku merasa hidup ini tidak adil, mengapa kedua kakakku lebih mementingkan istri dan anak-anak mereka dibandingkan ayah dan ibu?

Terlebih disaat ayah mulai sakit-sakitan, tidakkah mereka berfikir kalau mereka sibuk, aku juga lebih sibuk. Kuliah, kerja, mengurus ayah. Semua kulakukan sendiri.

Disaat mereka tidak memiliki uang, aku pun sama. Semua kepahitan ini kutelan dengan ikhlas, dan sekarang hadiah dari Tuhan itu datang.

Tuhan selalu membantuku disaat-saat sulit dan aku hampir putus asa. Tuhan tidak pernah menjanjikan ini mudah, tapi Tuhan berjanji akan selalu bersama kita, kan? Kalimat ayah yang selalu kuingat.

Tidak hanya beasiswa S2 dari Bu Lisa, beliau juga beberapa kali membiayai SPPku. Terutama sebelum, saat dan setelah ayah berpulang.

ku memang menceritakan kondisi keuanganku pada beliau yang kebetulan juga dosen waliku. Saat aku ingin mengambil cuti, justru beliau menolongku bertubi-tubi.

Menjelang kelulusanku, Bu Lisa juga mengajakku ke Jepang secara gratis. Diantara semua mahasiswa bimbingannya hanya aku dan Mona yang dipilih Bu Lisa untuk menghadiri pertukaran pelajar ke negeri sakura itu.

Menginjakkan kaki di negara orang lagi-lagi hanyalah mimpi bagi Yasmin. Namun Tuhan membuatnya nyata!

“Semua ketekunan, kerja keras, dan keikhlasanmu tidak akan berujung sia-sia. Mungkin hidup terasa tidak adil, tapi kamu yakin kan kalau Tuhan Maha Adil?” ucapku menjawab pertanyaan kedua sesi tanya jawab kali ini.

Moderator pun menutup acara kuliah tamu ini karena waktu telah berakhir.

Aku kerapkali mengisi berbagai kuliah tamu. Namun kuliah tamu kali ini terasa berbeda. Bisa menjadi pemateri di sebuah podium besar seperti ini adalah hal mustahil bagi Yasmin kecil yang pemalu.

Pendidikan dan karir yang kuperoleh setelah lulus pun merupakan hal yang tak terduga akan nyata dalam hidupku.

Kata orang, aku sosok wanita sukses. Yasmin bukanlah siapa-siapa tanpa sosok ayah. Satu-satunya pahlawan dalam cerita hidupku selain Tuhan.

Ayah, aku menyayangimu.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak