Bunga Matahari yang Gigih

Hayuning Ratri Hapsari | Angelia Cipta RN
Bunga Matahari yang Gigih
Ilustrasi Bunga Matahari yang Gigih (Gemini AI)

Di sebuah kebun hijau nan luas yang dikelilingi bukit dan sungai kecil yang mengalir tenang, hiduplah berbagai jenis bunga. Mawar dengan kelopaknya yang anggun, pohon teh yang rapi dan teratur, Anggrek yang lembut dan penuh pesona, serta Bunga Matahari yang berdiri paling tinggi di antara mereka semua.

Bunga Matahari selalu menghadap ke arah yang sama ke tempat matahari terbit. Setiap pagi, ia membuka kelopak kuningnya lebar-lebar, seakan siap menyambut hari dengan senyum.

Setiap sore, ia mengikuti pergerakan cahaya hingga matahari tenggelam di balik bukit. Namun, tidak semua bunga menyukai kebiasaan itu. Tak heran banyak dari mereka mencemoohnya karena sikap anehnya.

“Kenapa kau selalu menengadah seperti itu?” sindir Mawar suatu hari.

“Seolah hidupmu hanya bergantung pada matahari saja.”

Pohon teh juga ikut menimpali, “Lihatlah kami. Kami tumbuh tanpa harus terus berharap pada sesuatu yang belum tentu datang.”

Bunga Matahari hanya tersenyum. Ia tidak marah. Tidak pula membalas ejekan mereka. Ia tahu, setiap bunga memiliki caranya sendiri untuk bertahan hidup dan mekar menjadi indah.

Bagi Bunga Matahari, cahaya bukan sekadar kebutuhan. Cahaya adalah arah dan tujuan hidup. Bahkan ini juga menggambarkan sebuah harapan dan alasan mengapa ia bisa tetap berdiri tegak meski angin sering datang tanpa permisi.

Hari-hari berlalu dengan damai, sampai suatu musim yang tak biasa datang. Langit yang biasanya biru cerah mulai berubah kelabu. Awan tebal menggantung rendah, menutupi matahari selama berhari-hari.

Padang yang semula hangat berubah dingin dan lembap. Angin bertiup lebih kencang, membawa rasa cemas ke setiap sudut.

Pohon teh mulai bersiaga. Anggrek kehilangan warna cerahnya. Sementara, Mawar mulai menunduk, kelopaknya merapat, seolah ingin menghilang dari dunia.

Bunga Matahari juga mulai melemah. Batangnya yang tinggi membuatnya paling rentan diterpa angin. Tanpa cahaya matahari, kelopaknya tak lagi secerah dulu. Namun, meski tubuhnya goyah, ia tetap menghadap ke arah yang sama ke tempat matahari biasa muncul, meski kini yang terlihat hanya awan gelap.

Seekor Burung Pipit yang berteduh di dekatnya bertanya dengan suara kecil, “Kenapa kau masih menghadap ke sana? Bukankah matahari sudah lama pergi?”

Bunga Matahari menjawab lirih, “Matahari tidak pergi. Ia hanya tertutup. Dan aku tidak ingin lupa ke mana seharusnya aku berharap.”

Hari berganti hari. Hujan turun deras. Tanah mulai becek. Beberapa bunga tak kuat lagi menahan beban musim. Mereka roboh satu per satu. Dalam hari yang gelap dan dingin itu, ejekan berubah menjadi ketakutan.

“Apa kita akan mati di sini?” bisik Mawar.

“Bagaimana jika matahari tak pernah kembali dan bersinar lagi?” keluh Pohon Teh dengan suara gemetar.

Tak ada yang berani menjawab, semuanya hening ketakutan.

Bunga Matahari sendiri nyaris menyerah. Ada malam-malam panjang ketika ia merasa lelah menunggu. Ketika angin berbisik bahwa harapan hanyalah kebodohan. Ketika hujan seakan berkata bahwa bertahan hanya akan membuatnya lebih sakit.

Namun setiap kali rasa itu datang, Bunga Matahari kembali mengingat satu hal bahwa arah tidak ditentukan oleh apa yang terlihat hari ini, melainkan oleh apa yang ingin dicapai esok hari.

Ia boleh lemah, tangkainya mungkin hampir patah. Tapi ia tidak ingin membelakangi cahaya, meski cahaya itu belum tampak.

Suatu pagi, setelah hujan panjang yang melelahkan, langit mulai berubah. Awan hitam perlahan menipis. Angin yang biasanya dingin berubah hangat dan akhirnya seberkas cahaya menembus celah awan.

Matahari kembali.

Bunga Mataharilah yang pertama merasakannya. Kelopaknya yang pucat perlahan menguning kembali. Batangnya menguat. Ia berdiri tegak, seolah mendapatkan kehidupan baru.

Cahaya menyebar ke seluruh padang. Mawar membuka kelopak merahnya dengan ragu. Pohon teh mengangkat wajahnya pelan-pelan. Anggrek kembali berwarna.

Mereka terdiam dalam perasaan bersalah.

Bunga Matahari, yang selama ini dianggap terlalu bergantung, justru menjadi yang paling siap menyambut hari baru. Dari tubuhnya yang tinggi dan kuat, biji-biji kecil mulai jatuh ke tanah benih kehidupan baru yang tersebar ke seluruh padang.

Biji-biji itu tumbuh. Padang menjadi lebih luas, lebih hidup, lebih berwarna dari sebelumnya. Mawar mendekat dengan suara pelan, “Maafkan kami. Kami salah menilaimu.”

Bunga Matahari tersenyum, “Aku tidak menunggu pengakuan. Aku hanya melakukan apa yang membuatku tetap hidup.”

Sejak hari itu, padang tidak lagi mengejek bunga yang berbeda. Mereka belajar bahwa setiap makhluk memiliki caranya sendiri untuk bertahan. Ada yang kuat dengan keindahan. Ada yang bertahan dengan diam dan ada pula yang hidup dengan harapan

Bunga Matahari tetap menghadap matahari setiap hari, bukan karena ia lemah tanpa cahaya, melainkan karena ia memilih untuk tidak melupakan arah pulangnya.

Kadang, yang dianggap terlalu berharap justru mereka yang paling kuat bertahan. Kesetiaan pada harapan, meski diuji berkali-kali, akan selalu menemukan jalannya sendiri dan tidak semua yang berbeda layak diremehkan. Baik Mawar, Bunga Matahari, Pohon Teh hingga Anggrek mereka punya keunikan dan caranya sendiri untuk bertahan hidup, begitupun dengan manusia. 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak