Perpustakaan pusat kota selalu menjadi tempat persembunyian favorit Senja. Di antara aroma kertas tua dan kayu yang lembap, ia merasa waktu berhenti berputar. Baginya, buku adalah teman bicara yang paling jujur, sampai suatu sore di musim hujan, ia menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata.
Senja sedang mencari kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono yang sudah jarang disentuh orang. Saat ia menarik buku bersampul biru pudar itu, selembar kertas terselip jatuh. Itu adalah sketsa pensil yang sangat detail wajah seorang gadis yang sedang membaca di dekat jendela, dengan cahaya matahari sore jatuh di bahunya. Senja tertegun. Gadis dalam gambar itu adalah dirinya.
Di sudut bawah kertas, terdapat tulisan tangan yang rapi: "Untuk gadis yang selalu duduk di sudut jendela. Namamu adalah melodi yang belum berani kunyanyikan."
Jantung Senja berdegup kencang. Selama berbulan-bulan, ia merasa sendirian di sudut itu. Siapa yang memperhatikannya dalam diam?
Minggu-minggu berikutnya menjadi permainan teka-teki. Setiap kali Senja kembali ke perpustakaan, ia menemukan "jejak" baru di dalam buku yang sama. Kadang setangkai bunga mawar yang dikeringkan, kadang sebait lirik lagu tentang kerinduan. Senja mulai sering melirik ke sekeliling, mencoba mencari sepasang mata yang mungkin sedang menatapnya.
Hingga suatu Selasa yang mendung, seorang pria muda dengan jaket denim cokelat duduk di meja seberang Senja. Pria itu tampak sibuk dengan buku sketsa besar di pangkuannya. Rambutnya sedikit berantakan, dan ada noda karbon pensil di ibu jarinya.
Senja memberanikan diri. Ia berjalan mendekat, membawa kertas sketsa wajahnya yang ia temukan minggu lalu. "Aku rasa... ini milikmu," bisik Senja pelan.
Pria itu mendongak. Matanya yang jernih bertemu dengan mata Senja. Ia tampak gugup, pipinya sedikit bersemu merah. "Ah, kau menemukannya. Aku Elang. Aku minta maaf jika itu membuatmu tidak nyaman. Aku hanya... sulit mengutarakan kata-kata, jadi aku menggambar."
Senja tersenyum, sebuah senyum yang membuat Elang merasa musim hujan baru saja berakhir. "Sketsanya indah sekali. Tapi, kau bilang aku adalah melodi yang belum berani kau nyanyikan. Kenapa?"
Elang menutup buku sketsanya, lalu menarik napas panjang. "Karena aku takut melodinya akan pecah jika aku terlalu terburu-buru. Beberapa hal indah butuh waktu untuk dimainkan, bukan?"
Sore itu, perpustakaan yang sunyi menjadi saksi sebuah awal yang baru. Tidak ada lagi pesan tersembunyi di balik buku. Mereka menghabiskan waktu dengan berbicara tentang banyak hal—tentang kopi yang terlalu pahit, tentang lagu-lagu lama, dan tentang bagaimana dua orang asing bisa merasa begitu akrab hanya lewat goresan pensil.
Saat mereka melangkah keluar, hujan telah reda, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Elang tidak lagi menggambar dari jauh. Ia berjalan di samping Senja, menggenggam tangannya dengan lembut.
"Jadi, kapan aku bisa mendengar melodi itu?" tanya Senja saat mereka sampai di persimpangan jalan.
Elang menatap Senja dengan binar yang tulus. "Mulai hari ini, Senja. Melodi itu sudah dimulai sejak kau menyapa di meja perpustakaan tadi."
Di halaman 127 buku kehidupan mereka, sebuah cerita baru baru saja ditulis bukan dengan pensil yang bisa dihapus, melainkan dengan tinta cinta yang akan abadi.