Aku menemukan folder itu pukul 01.43, di laptop lama yang bahkan aku lupa masih menyala. Namanya simpel. Terlalu simpel untuk sesuatu yang membuat jantungku seolah berhenti.
Bukan kapital semua, bukan clickbait. Cuma satu kata. Seolah yakin aku bakal membuka.
Awalnya aku pikir ini cuma folder iseng. Mungkin sisa file tugas, atau draf cerpen gagal yang dulu pernah aku tulis saat lagi sok filosofis. Namun, saat aku buka, isinya membuat tengkukku dingin. Ada puluhan file video. Judulnya tanggal, dan semuanya… belum terjadi.
Aku mengeklik satu yang paling atas.
2026-03-11.mp4
Di layar, aku muncul. Versi aku yang jelas lebih kurus, duduk di bangku rumah sakit. Mataku cekung, tetapi wajahku tenang. Tenang banget, seperti orang yang akhirnya capek berantem sama hidup.
“Akhirnya ya,” kata versi diriku di video. “Kalau kamu nonton ini, berarti kamu nemuin folder ini sebelum waktunya.”
Aku menutup laptop. Napasku kacau.
Oke. Chill. Mungkin ini prank, deepfake, AI, atau apa pun kecuali… ini. Tanganku gemetar saat membukanya lagi. Video berlanjut.
“Aku bikin ini karena aku tahu, di titik tertentu, kamu bakal nanya: ‘Hidup gue ujungnya apa sih?’”
Aku menelan ludah.
“Jawabannya ada di folder ini.”
Aku melompat ke file lain.
2025-12-02.mp4
Aku lagi berdiri di depan cermin. Rambut lebih panjang. Ada bekas luka kecil di alis kanan—luka yang belum aku punya sekarang.
“Catatan kecil,” kata dia. “Luka ini gara-gara kamu maksa bertahan di hari yang harusnya kamu berhenti.”
Aku langsung memegang alisku. Mulus. Belum ada apa-apa.
Folder itu bukan cuma berisi video. Ada dokumen teks juga. Judulnya sama absurdnya.
KEPUTUSAN.txt
Isinya cuma satu kalimat: Ending hidupmu berubah setiap kali kamu menghindari keputusan.
Aku mulai sadar: ini bukan ramalan. Ini rekaman dari kemungkinan. Setiap video berbeda. Di satu video aku menjadi penulis. Di video lain aku bekerja kantoran, mukanya mati tetapi hidup. Ada versi aku yang menikah. Ada versi aku yang sendirian sampai akhir. Bahkan ada satu file bernama:
2027-08-19_final.mp4
Tanganku berhenti. Final?
Aku hampir tidak berani membuka. Namun, justru itu yang membuatku mengeklik. Video itu gelap. Baru beberapa detik kemudian wajahku muncul. Lebih tua. Lebih tenang. Lebih… selesai.
“Kalau kamu sampai ke ending ini,” katanya, “berarti kamu berhenti lari.”
Aku bengong.
“Folder ini gak pernah muncul ke semua versi kamu. Cuma ke versi yang capek setengah mati tapi masih penasaran.”
Aku ingin ketawa. Ini terlalu spesifik untuk sebuah bohong.
“Dengerin baik-baik,” lanjutnya. “Hidup gak butuh jawaban sempurna. Cuma butuh satu keputusan yang jujur.”
Video berhenti. Aku menutup laptop pelan-pelan. Kepalaku ramai. Semua pilihan hidup yang aku tunda tiba-tiba muncul berbarengan. Takut gagal. Takut menyakiti orang. Takut salah jalan. Takut menyesal. Takut hidup.
Aku membuka laptop lagi. Folder ENDING masih ada. Aku klik kanan. Ada opsi Delete. Ada opsi Rename. Ada opsi Open.
Tanganku hover lama. Akhirnya, aku rename folder itu. Bukan ENDING, tetapi: START.
Begitu aku tekan enter, layar laptop tiba-tiba blank. Folder itu hilang. Laptop mati. Dan untuk pertama kalinya setelah lama sekali, aku tidak panik. Karena sekarang aku tahu satu hal: Ending tidak pernah disembunyikan. Dia menunggu kita berhenti menunda.
Dan malam itu, aku mengambil satu keputusan kecil yang seharusnya sudah kuambil sejak lama. Tanpa folder. Tanpa bocoran. Tanpa takut.