Kupu-Kupu yang Lupa Daratan

M. Reza Sulaiman | Ukhro Wiyah
Kupu-Kupu yang Lupa Daratan
Ilustrasi Kupu-kupu Kirana dan Teman-Temannya (Gemini AI)

Matahari muncul perlahan dari balik bukit kecil di tepi hutan. Cahaya keemasan menyentuh pucuk-pucuk rumput yang masih basah oleh embun. Tetesan air berkilau seperti manik-manik kecil. Udara terasa segar, membawa aroma tanah dan bunga liar yang bermekaran di padang dekat sungai.

Di atas bunga matahari yang tinggi menjulang, seekor kupu-kupu berwarna jingga keemasan mengepakkan sayapnya perlahan. Namanya Kirana.

Kirana dan Keindahan Sayapnya

Sayap Kirana lebar dan berkilau. Jika ia terbang, penghuni di padang rumput sering berhenti dan menoleh. Bahkan, burung pipit kecil pun kadang berdecak kagum.

"Lihat, itu Kirana!" bisik Lala, si kelinci, suatu pagi.

"Iya, cantik sekali," sahut Bimo, si tupai.

Kirana mendengar pujian itu. Ia terbang lebih tinggi, berputar-putar di udara, lalu mendarat dengan ringan di atas bunga yang paling tinggi. "Pagi yang indah untuk terbang tinggi," gumamnya sambil merentangkan sayapnya lebar-lebar.

Kesombongan di Atas Bunga Matahari

Di bawahnya, pada batang bunga yang sama, seekor ulat hijau kecil merayap perlahan. Namanya Santi. Tubuhnya mungil dan bergerak pelan; satu per satu kaki kecilnya menempel di batang.

"Selamat pagi, Kirana," sapa Santi pelan.

Kirana melirik sekilas. "Oh, pagi."

Santi tersenyum. "Hari ini langit cerah sekali. Enak, ya, kalau bisa terbang seperti kamu."

Kirana tertawa kecil. "Tentu saja enak. Terbang itu jauh lebih menyenangkan daripada merayap di batang seperti itu."

Santi menunduk. "Aku memang belum bisa terbang."

"Belum atau memang tidak bisa?" tanya Kirana ringan, lalu ia terbang meninggalkan bunga itu tanpa menunggu jawaban. Santi memandang ke atas; Kirana sudah menjadi titik kecil di langit biru.

Pertemuan dengan Koloni Semut

Di dekat akar pohon besar yang rindang, koloni semut bekerja sejak pagi. Mereka berbaris rapi membawa potongan daun, remah-remah makanan, dan biji-bijian kecil menuju sarang. Di antara mereka ada Rara, semut pekerja yang gesit dan selalu ceria.

"Cepat, sebelum matahari semakin panas!" seru Rara.

Semut-semut kecil itu berjalan dengan langkah cepat namun teratur. Tiba-tiba, bayangan besar melintas di atas mereka. Kirana terbang rendah, lalu mendarat di batu dekat sarang semut.

"Halo, semut-semut kecil," katanya dengan suara ringan.

Rara mendongak. "Pagi, Kirana."

"Kalian sibuk sekali. Tidak lelah berjalan terus seperti itu?" tanya Kirana.

Rara tersenyum. "Kami memang bekerja bersama. Kalau sedikit demi sedikit dikumpulkan, nanti persediaan kami cukup."

Kirana mengibaskan sayapnya. "Ah, kalian selalu di tanah. Tidak pernah bosan melihat dunia dari bawah?"

Rara menggeleng. "Dunia dari bawah juga luas, Kirana. Kami melihat akar pohon, lubang kecil, dan jalan-jalan rahasia."

Kirana tertawa kecil. "Namun, kalian tidak pernah melihat awan dari dekat. Kalian tidak tahu rasanya angin menyentuh sayap."

Rara terdiam sejenak. "Mungkin benar. Namun, kami tahu rasanya bekerja bersama."

Kirana tidak menjawab. Ia terbang lagi, naik semakin tinggi hingga semut-semut itu terlihat seperti titik hitam kecil. "Betapa kecilnya mereka," pikir Kirana. Angin pagi meniup lembut sayapnya. Ia merasa bebas, merasa berbeda, dan merasa lebih istimewa.

Badai yang Tak Terduga

Siang hari datang dengan sinar matahari yang lebih terik. Padang rumput berubah hangat. Bunga-bunga menghadap ke arah matahari. Sungai kecil berkilau memantulkan cahaya. Kirana terbang melintasi sungai, naik turun mengikuti aliran angin. Ia mendarat di atas batu besar di tengah sungai. Di sana, seekor katak bernama Arman sedang duduk dengan mata setengah terpejam.

"Hai, Arman!" seru Kirana.

Arman membuka mata. "Oh, Kirana. Terbang lagi?"

"Tentu saja," jawab Kirana bangga. "Aku sudah melihat hampir seluruh padang rumput hari ini."

Arman mengangguk pelan. "Hati-hati kalau angin kencang."

Kirana tertawa kecil. "Aku sudah biasa terbang tinggi. Tidak perlu khawatir."

Arman memandang ke arah langit. Di kejauhan, awan putih mulai berubah menjadi abu-abu tipis. "Kadang langit bisa berubah cepat," katanya pelan. Namun, Kirana sudah terbang lagi, mengikuti kupu-kupu lain yang melintas jauh di atas.

Sore mulai merayap. Bayangan pepohonan memanjang. Angin berubah sedikit lebih kencang. Daun-daun bergesekan, menimbulkan suara berbisik. Di atas bunga liar dekat hutan, Santi, si ulat, masih merayap pelan mencari daun segar untuk dimakan.

Tiba-tiba, suara gemuruh pelan terdengar dari kejauhan. Santi berhenti. Ia mengangkat kepalanya sedikit. Langit yang tadi biru kini dipenuhi awan kelabu. "Kok jadi gelap?" gumamnya.

Di sisi lain padang, semut-semut berhenti sejenak. Rara menoleh ke atas. "Kita percepat langkah!" serunya. "Hujan akan turun!"

Terjatuh ke Tanah Basah

Semut-semut bergerak lebih cepat, membawa sisa makanan masuk ke dalam sarang. Sementara itu, Kirana masih terbang tinggi. Ia menikmati angin yang kini bertiup lebih kuat. "Anginnya seru!" katanya sambil berputar.

Tiba-tiba, setetes air jatuh di sayapnya. Lalu satu lagi. Lalu banyak. Hujan turun mendadak. Awalnya gerimis halus, lalu berubah menjadi rintik-rintik deras. Tetesan air terasa berat di sayap tipis Kirana. Ia mencoba terbang lebih tinggi, tetapi angin mendorongnya ke samping.

"Kenapa jadi berat?" gumamnya panik.

Air mulai menempel di sayapnya, membuatnya sulit mengepak. "Kirana! Turun!" terdengar suara Arman dari batu sungai.

Namun, Kirana kesulitan mengendalikan arah. Angin meniupnya ke arah semak-semak dekat tanah. Ia mencoba mengepak lebih keras, namun sayapnya terasa lengket dan berat. Sebuah embusan angin kencang datang tiba-tiba. Kirana terhuyung di udara. Lalu, ia terjatuh. Tubuhnya mendarat di atas tanah basah, di antara rumput yang tinggi. Lumpur memercik ke sayapnya.

Hujan terus turun. Kirana mencoba berdiri, tetapi sayapnya terkulai, basah, dan sulit digerakkan. "Tidak... tidak..." bisiknya. Untuk pertama kalinya sejak ia bisa terbang, Kirana tidak bisa naik ke udara.

Pertolongan dari yang Terkecil

Hujan membuat tanah menjadi lembek. Air mengalir kecil di antara akar rumput. Santi, si ulat, merayap perlahan ke bawah daun besar untuk berlindung. Saat itulah ia melihat sesuatu berwarna jingga di tanah.

"Kirana?" panggilnya pelan.

Kirana menoleh dengan wajah cemas. "Santi..."

Santi mendekat perlahan. "Sayapmu basah."

Kirana mencoba mengepak, tetapi hanya bergerak sedikit. "Aku tidak bisa terbang," katanya lirih.

Hujan masih turun, meski mulai lebih pelan. Santi menatap sekeliling. "Kita harus mencari tempat yang lebih kering."

"Aku tidak bisa bergerak jauh," jawab Kirana.

Santi terdiam sejenak, lalu berkata, "Tunggu di sini."

Ia merayap secepat mungkin menuju sarang semut. Di sana, Rara dan semut lain sedang menutup pintu masuk dengan daun kecil agar air tidak masuk.

"Rara!" panggil Santi.

Rara menoleh. "Ada apa?"

"Kirana jatuh. Sayapnya basah."

Rara langsung keluar dari barisan. "Di mana dia?"

"Di dekat semak besar."

Tanpa ragu, Rara memberi aba-aba. "Beberapa ikut denganku!"

Semut-semut kecil berbaris keluar mengikuti Santi yang memimpin jalan. Kirana menggigil di tanah basah. Hujan mulai berhenti, tetapi angin masih dingin. Ia menatap langit yang kini kelabu. "Aku ingin terbang...," bisiknya lirih.

Tiba-tiba ia melihat Santi datang diikuti beberapa semut. "Kami datang!" kata Santi.

Rara mendekat. "Kita harus membawanya ke tempat kering."

"Tetapi aku berat," ujar Kirana lemah.

Rara tersenyum kecil. "Kami memang kecil, tetapi kami banyak."

Semut-semut mengelilingi tubuh Kirana. Mereka mendorong perlahan dari sisi-sisi tubuhnya, menggeser daun kering di bawahnya agar tidak menyentuh lumpur. Santi merayap ke daun besar yang terbalik, lalu berkata, "Kita bisa melindunginya di bawah sini."

Dengan usaha bersama, mereka membantu Kirana bergerak sedikit demi sedikit ke bawah daun lebar yang cukup kering. Hujan akhirnya berhenti. Tetesan terakhir jatuh dari ujung daun. Kirana terbaring; napasnya masih cepat.

"Kalian semua membantuku?" tanyanya pelan.

Rara mengangguk. "Tentu saja."

"Tetapi aku sering meremehkan kalian."

Santi tersenyum lembut. "Hari ini kamu butuh kami."

Pelajaran tentang Kerendahan Hati

Kirana menunduk. Air mata membasahi matanya, bukan lagi karena hujan. "Aku selalu merasa lebih tinggi," katanya pelan. "Aku lupa bahwa suatu hari aku bisa jatuh."

Angin sore kini berembus pelan. Awan mulai menipis, memberi jalan pada cahaya jingga matahari terbenam. Sayap Kirana perlahan mulai mengering. Ia mencoba mengepak sedikit. Kali ini, sayapnya bergerak lebih ringan.

Rara menatapnya. "Nanti kalau sudah benar-benar kering, kamu bisa terbang lagi."

Kirana menatap Santi dan Rara bergantian. "Bolehkah aku tinggal di dekat kalian dahulu?" tanyanya pelan.

Santi tersenyum. "Tentu."

Rara tertawa kecil. "Asal jangan lagi bilang kami kecil dan tidak penting."

Kirana tersenyum malu. "Tidak akan."

Matahari tenggelam perlahan, meninggalkan warna oranye dan ungu di langit. Padang rumput kembali tenang. Kirana memandang ke arah langit yang luas, lalu ke tanah tempat teman-temannya berdiri. Ia menggerakkan sayapnya sekali lagi. Kini ia tahu, terbang tinggi memang menyenangkan, tetapi daratanlah yang membuatnya bisa bangkit kembali.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak