Entah kenapa aku ingin menulis ini, kau tahu sebenarnya aku tidak benar-benar suka bercerita. Membuat cerita lebih tepatnya. Aku lebih menyukai puisi dan kau tahu itu. Beberapa hari yang lalu tepat di bulan Agustus kau membelikan dua buku penggembira dengan judul buku: Buku tentang ruang (buku puisi) dan satu novel cetakan kedua milik Aan Mansyur Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi.
Barangkali perdebatan singkat itu, tentang buku yang aku kira buku puisi dan ternyata tidak (ini novel) yang sebelumnya tidak benar-benar kubaca. Dan enggan kusentuh.
Aku akhirnya membukanya juga. Malam itu panas sekali, kipas angin berputar pelan tapi tak cukup. Lampu redup, jendela terbuka lebar, suara jangkrik memenuhi ruangan. Kau sudah tidur, atau pura-pura tidur—susah dibedakan akhir-akhir ini. Buku itu tergeletak di samping tempat tidur, masih berbau kertas baru, seperti menunggu dihakimi.
Halaman pertama kubuka pelan. Tak ada puisi. Hanya paragraf panjang, kalimat mengalir tanpa ampun. Aku membencinya seketika. Tapi tetap kubaca.
Ceritanya tentang lelaki yang kehilangan segalanya, tapi bertahan dengan cara paling menyedihkan: mengingat. Setiap bab sebagai tamparan pelan. Terlalu biasa. Terlalu mirip apa yang kita lihat setiap hari tapi pura-pura tak tahu.
Aku sampai di bagian lelaki itu duduk di tepi sungai, memandang air hitam, lalu menangis tanpa suara. Air mata jatuh pelan, seperti keringat yang tak henti di malam panas. Aku berhenti membaca. Menutup bukunya. Kemudian. Kutatap kipas yang berputar lambat.
Kau bangun tengah malam, mungkin karena gerah. Melihat aku di sofa, dan buku di pangkuan. Kau tak bertanya. Hanya mengambil handuk kecil dari lemari, lalu mengusap keringat di dahiku, lalu kembali tidur. Gestur itu lebih keras daripada kata.
Keesokan harinya kulanjutkan. Bab demi bab. Lelaki itu bukan pahlawan. Hanya orang yang gagal berhenti mencintai sesuatu yang pergi dan terasa sangat dekat sekali.
Selesai jam dua pagi. Panas masih menempel di kulit. Buku kututup, tapi terbuka di dada. Aku tatap punggungmu yang naik-turun pelan. Aku takut. Bukan takut kehilanganmu. Tapi takut jadi lelaki itu—yang masih menangis di tepi sesuatu yang tak ada lagi.
Pagi harinya kau bertanya, “Sudah baca?”
Aku mengangguk.
“Bagus?”
Aku diam. Lalu bilang, “Aku benci novel ini.”
Kau tersenyum tipis. “Tapi kau selesai.”
Itu kalimat terakhir soal buku itu. Kadang kau buka lagi malam-malam, baca bagian yang sama berulang, seperti mencari yang hilang. Aku tak akan bertanya. Mungkin kau juga takut kalau jadi lelaki itu.
Beberapa minggu kemudian kutulis sebuah puisi di belakang kertas kosong kecil dengan judul:
Hingga Rasaku Asin Untuk Perempuan Lain
Malam semakin purba sementara aku masih terpekur dalam lamunan. Menatap detik menit bergantian. Menikmati kelebat senyummu sendirian
Maaf, aku tak sempat membuat sajak untukmu malam lalu. Aku sibuk sosokmu di langitku. Hingga malam dan pagi ini; memaknai
Dan aku mencintaimu. Perlahan, kubiarkan kalimat ini. Mencecap setiap relung hati. Hingga rasaku asin untuk perempuan lain
Kertasnya kusobek, lalu kubuang. Malamnya kau temukan, kau tempel lagi dengan selotip, tersimpan di halaman 147-148. Tempat lelaki itu berhenti menangis, tapi tak berhenti untuk hidup.
Lalu kita tak bicara lagi soal buku itu.
Waktu berlalu seperti air sungai yang diam-diam mengikis batu. Buku itu tetap di rak, tapi halaman 147-148 sedikit menguning, selotipnya mulai lepas. Kau sering duduk di teras sore hari, menatap langit yang mulai jingga, sambil memegang secangkir teh hangat. Aku tahu kau sedang membaca ulang bagian itu dalam pikiranmu, tapi aku tak pernah bertanya. Takut jawabannya akan membuat segalanya lebih nyata.
Suatu malam, hujan deras mengguyur Banyuwangi. Listrik padam, hanya lilin yang menyala redup di meja makan. Kau tarik buku itu dari rak, duduk di sebelahku. "Ingat puisi ini?" katamu, membuka halaman yang kusobek dulu. Aku mengangguk pelan, hati berdegup. "Kenapa kau buang?" tanyamu lagi, suara lembut tapi menusuk.
Aku terdiam lama. "Karena takut," jawabku akhirnya. "Takut rasaku jadi asin untuk yang lain, termasuk diriku sendiri." Kau tersenyum, tapi matamu basah. "Aku juga," bisikmu. "Lelaki itu... dia seperti kita. Menangis diam-diam, tapi bertahan."
Malam itu kita bicara panjang. Tentang kenangan yang pergi, tentang cinta yang tak sempurna, tentang bagaimana buku itu seperti cermin yang retak. Kau cerita tentang masa kecilmu, bagaimana ayahmu pergi tanpa pamit, meninggalkan ibumu yang menangis di tepi sungai setiap malam. Aku bercerita tentang mimpi burukku, tentang kehilangan yang tak pernah kuceritakan. Akhirnya hujan pun reda, tapi air mata kita mengalir pelan, seperti membersihkan luka lama.
Pagi harinya, kita bangun dengan mata bengkak tapi hati lebih ringan. Kau beli buku baru, kali ini puisi murni dari penyair yang kau suka. "Untuk kita," katamu. Aku baca keras-keras di teras, sambil kau sandarkan kepalamu di bahuku. Lelaki itu tak lagi menghantui. Kita bukan dia. Kita memilih hidup, bukan hanya bertahan.
Beberapa bulan kemudian, aku tulis puisi baru. Kali ini tak kusobek. Kusimpan di halaman akhir buku itu:
Waktu
Inilah ragaku, Kekasih. Raga yang dijanjikan waktu. Raga yang siap menampung seluruh kebahagian di hidupmu.
Sebab satu menit menatapmu saja aku sudah bisa merasakan bagaimana cinta nantinya bisa kita satukan
Juga pada detik kesekian, kurasakan ada yang berdebar. Di dadaku yang gersang.
Lalu aku melihat apa-apa saja padamu. Lantaran di kedalaman hatimu diam-diam di sana aku berteduh.
Dan adakah kebahagian lain?
Selain menjadi bagian dari riwayat takdir semesta, yang sekala menyatukan kita berdua; hingga renta usia
Kau membacanya, lalu memelukku erat. "Bagus," katamu. Aku pun tersenyum. Kali ini, aku tak membenci apa pun. Hanya bersyukur.