Pertama kali bertemu dengannya saat dia sedang bermain dengan teman-temannya. Manusia sering menyebutnya dengan petak umpet. Aku tidak tahu bagaimana aturan main permainan itu. Aku hanya tahu itu permainan bersembunyi karena dia sering bersembunyi di balikku setiap memainkan permainan itu.
Saat itu, dia mengenakan kaos lengan pendek berwarna merah dengan celana selutut berwarna merah. Sesuatu berwarna putih berlepotan di wajahnya. Giginya tanggal satu. Terlihat setiap dia tertawa lebar.
Pada suatu hari yang cerah, dia berdiri di hadapanku. Kedua tangannya memegang pinggang. Matanya berbinar cerah. Bibirnya mengulum senyum. Dia menatapku sejenak lalu berkata, “Mulai sekarang, kamu akan jadi markas rahasiaku. Aku akan menyimpan benda rahasiaku di sini.”
Dia lalu menyimpan kotak kaleng berkarat di rongga diriku. Aku menggoyangkan diriku hingga angin heran melihatku. Aku senang sekali. Rasanya seperti sedang melakukan tugas yang penting. Dia sudah memercayakan benda rahasia itu padaku, maka aku harus menjaganya apa pun yang terjadi. Rahasianya sekarang menjadi rahasiaku juga, meskipun aku tidak tahu apa isi di dalamnya. Mungkin dia akan menunjukkannya padaku suatu hari nanti. Aku akan menanti hari itu tiba.
Setiap hari dia mendatangiku. Dia selalu membawa sesuatu dan memasukkannya di kotak kaleng berkarat itu. Rasa penasaranku makin bertambah, tetapi aku tetap sabar menanti hari itu tiba. Dia sudah memercayaiku, maka aku harus menghormati rasa percayanya.
Dia selalu datang dan aku selalu menunggunya. Meski kami tidak saling bicara, kehadirannya sudah membuatku senang. Kadang, dia menghabiskan waktu dengan membaca komik. Aku suka melihatnya tertawa terpingkal-pingkal. Aku pun ikut tertawa dengan menggoyangkan diriku.
Hanya saat udara menjadi dingin dan air jatuh dari langit, dia tidak datang mengunjungiku. Tentu saja aku juga tidak ingin dia datang. Dia akan kebasahan dan kedinginan. Sebab aku juga kebasahan, sehingga aku tidak bisa memberinya tempat berteduh yang hangat. Aku selalu menggunakan kesempatan saat air jatuh dari langit untuk memperindah diriku. Bagian diriku yang lain akan terlihat segar.
Ketika musim air jatuh dari langit berlalu, dia datang mengunjungiku. Aku sudah melihatnya sejak dia mengenakan pakaian putih merah. Sejak dari waktu itu, dia terus bertambah tinggi. Meskipun tidak akan bisa setinggi diriku. Menyenangkan sekali kalau tingginya setara denganku. Kami bisa berbincang berhadapan atau membaca komik bersama.
Pernah suatu ketika, lama sekali dia tidak mengunjungiku. Setiap saat aku selalu menunggunya. Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak bisa memperkirakannya dengan waktu milik manusia. Hari-hari bagiku hanya terang menjemput gelap dan gelap menjemput terang. Aku kalang kabut. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Aku bertanya pada angin yang berhembus, lalu bertanya pada burung yang melintas. Tidak ada yang tahu. Karena terus memikirkannya, beberapa bagian diriku gugur berjatuhan dan menyatu dengan tanah.
Hingga pada suatu hari yang cerah, dia muncul di hadapanku. Sosoknya jauh berbeda dari terakhir kali aku melihatnya. Bulu tipis tumbuh di atas bibirnya. Suaranya lebih berat dari sebelumnya. Tubuhnya juga bertambah tinggi. Dia mengenakan pakaian putih abu-abu hari itu. Setelah melepas ranselnya di tanah, dia mengeluarkan benda persegi. Tangannya berkutat di benda itu. Sesekali berbicara dengan nada yang kesal. Kalau sudah begitu, dia akan meletakkan benda persegi itu sembari menggerutu, “Kalah lagi!”. Kemudian, menyenderkan dirinya pada diriku.
Sejak mengenakan pakaian putih abu-abu, dia lebih sering mengunjungiku. Entah untuk memainkan benda persegi itu atau hanya sekadar menyenderkan dirinya padaku sembari menerka bentuk awan putih di langit biru. Meski aku kehilangan sosoknya yang senang tertawa, diganti dengan sosok yang mudah kesal, aku tidak masalah selama dia menghabiskan waktunya denganku. Meski begitu, aku tetap merindukan dirinya yang dulu. Sekarang, dia tidak pernah lagi membuka kotak kaleng berkarat itu. Entah karena dia sudah lupa dengan keberadaan kotak itu atau dia sudah tidak punya rahasia lagi untuk disembunyikan. Aku tidak tahu yang mana.
Pernah suatu waktu, aku melihat keanehan pada dirinya. Dia lebih sering melamun lalu tertawa kecil. Kadang, tertawa kecil sembari tangannya berkutat pada benda persegi. Kadang juga, dia menempelkan benda persegi itu di telinganya lalu berbicara sendiri. Tapi hal paling aneh bagiku ketika dia mengajak manusia lain mengunjungiku. Dia memberi manusia itu sekumpulan bunga yang diikat dengan pita warna merah. Aku bahkan masih ingat percakapan mereka berdua. Aku suka sama kamu. Mau enggak jadi pacarku? Tanyanya pada manusia itu yang dibalas dengan anggukan malu-malu. Aku tidak paham apa yang terjadi, tapi sepertinya aku sudah menjadi saksi peristiwa penting dalam hidupnya. Tapi, sejak hal yang aneh itu terjadi, semuanya berubah. Dia tidak pernah datang mengunjungiku lagi.
***
Belakangan aku lebih sering memikirkan dia. Bagaimana keadaannya atau seberapa tinggi dia sekarang? Aku terus menanyakannya pada diriku. Kotak kaleng berkarat miliknya masih ada padaku. Aku tidak seprima dulu lagi. Entah akan sempat atau tidak untuk memberikan kotak kaleng berkarat itu padanya. Apalagi sejak mesin beroda empat datang di tempat ini, kecemasanku makin bertambah hingga bagian diriku yang lain mulai luruh menyatu dengan tanah. Tinggal menghitung waktu untuk tiba giliranku. Bila hari itu tiba, harapanku hanya satu, semoga tidak ada yang menderita.
***
Suara berisik mesin ditambah dengan suara berdebum memenuhi tanah yang hijau itu. Tidak hanya itu, sorak-sorai juga ikut menambah semarak. Makin berisik dan berhenti saat suara berdebum yang nyaring terdengar. Seorang laki-laki berteriak dengan gembira.
“Pak, yang terakhir sudah tumbang!”
Laki-laki yang dipanggil dengan Pak langsung mengangkat kepalanya. Dia kemudian menggulung kertas yang sedang dilihatnya dan melangkah menuju laki-laki yang berteriak tadi.
Di hadapannya, tumbang sebuah pohon tua yang sudah meranggas. Pohon tua itu pohon paling besar di tanah yang hijau itu, karena itu agak lama proses untuk menumbangkannya. Laki-laki itu membuka kembali kertas yang dipegangnya lalu tersenyum puas. Pabrik ini akan berkembang pesat suatu hari nanti, pikirnya. Saat akan kembali ke tempatnya, kakinya menendang sebuah kotak kaleng berkarat. Dia mengambil kotak kaleng berkarat itu lalu membukanya. Di dalamnya terdapat banyak gambar rumah pohon yang kelihatan sekali digambar oleh seorang anak kecil.
“Ah, ternyata punyaku,” ujarnya lalu memasukkan kotak kaleng berkarat itu dalam tasnya. Dia kembali membuka gulungan kertas yang dipegangnya dan melihatnya sembari memamerkan barisan giginya yang kekuningan.