Jejak Jari

M. Reza Sulaiman | Septiani __
Jejak Jari
Ilustrasi jari-jari hitam. (Dok. Gemini AI)

Balai kota sedang ricuh. Pasalnya, anak-anak melakukan aksi massa. Mereka melakukan protes terhadap orang dewasa yang telah melanggar hak privasi mereka. Perbedaan pendapat antara orang dewasa dan anak-anak tidak menemukan mufakat. Akhirnya, mereka memutuskan untuk memanggil Pak Wali Kota.

“Jadi, apa masalahnya?” tanya Pak Wali Kota.

Jari yang bersalah, Pak. Saya sudah berusaha menahan diri, tetapi jari tidak ingin mendengarkan,” ujar salah satu orang dewasa.

“Tidak benar, Pak. Saya lihat dengan mata dan kepala sendiri. Orang dewasa sangat menikmatinya,” ujar salah satu anak.

Perdebatan terjadi lagi. Pak Wali Kota memegang kepalanya yang berdenyut. Dia lalu memukul meja beberapa kali untuk meredakan kericuhan. Pak Wali Kota menghela napas sejenak sebelum memperhatikan orang dewasa dan anak-anak dengan saksama.

“Orang dewasa, kenapa kalian melakukannya?” tanya Pak Wali Kota.

“Anak-anak lucu sekali, Pak. Saya tidak ingin melihatnya sendiri. Kelucuan itu harus dilihat satu dunia.”

“Untuk menghasilkan uang, Pak. Anak-anak memang tidak tahu balas budi. Mereka pikir dari mana uang untuk memenuhi kebutuhan mereka.”

Mendengar hal itu, amarah menguasai anak-anak. Mereka berteriak dan berbicara bersamaan. Pak Wali Kota kembali memukul meja dengan pelan. Meski begitu, sudah cukup untuk menenangkan anak-anak yang ricuh. Seorang anak laki-laki bermata bulat mengangkat tangannya, memohon izin untuk disilakan berbicara. Pak Wali Kota tersenyum lembut lalu mempersilakan anak itu berbicara.

“Wahai Pak Wali Kota yang terhormat, izinkan saya untuk bertanya. Apakah orang dewasa menghadirkan anak-anak ke dunia untuk mengharapkan balasan? Apakah orang dewasa memang orang yang pamrih? Apakah nanti kami akan menjadi orang dewasa yang pamrih? Kalau demikian, saya memilih untuk tidak menjadi dewasa selamanya,” ujar anak laki-laki itu.

“Dan lagi, apakah anak-anak tidak bisa memiliki diri mereka seutuhnya? Kami hanya ingin orang dewasa bisa menghargai privasi kami dan bertanya apakah kami setuju atau tidak. Kami juga ingin merasa nyaman dan aman,” lanjut anak laki-laki bermata bulat itu.

Pak Wali Kota meminta waktu untuk berpikir. Meski sudah tidak ricuh, suasana Balai Kota sangat mencekam. Orang dewasa memberikan tatapan yang tajam pada anak-anak.

“Saya sudah memutuskan. Pertama, selama satu bulan akan diadakan Hari Tanpa Gadget. Kedua, jari-jari orang dewasa akan sekolah lagi,” ujar Pak Wali Kota mantap.

Orang dewasa tidak bisa mengelak lagi. Anak-anak bersorak riang mendengar keputusan Pak Wali Kota.

***

Hari pertama Hari Tanpa Gadget tidak berlangsung dengan baik. Jari-jari orang dewasa menjadi gatal karena tidak menyentuh gadget. Mereka terus menggaruk jari-jarinya. Mereka tidak tahan. Diam-diam, mereka mengambil gadget dan memainkannya. Anak-anak hanya menghela napas melihat perilaku orang dewasa. Anak-anak lalu melaporkannya pada Pak Wali Kota.

Pak Wali Kota mengeluarkan keputusan untuk menyita gadget milik orang dewasa. Hari kedua terasa mencekam. Ada perang dingin antara orang dewasa dan anak-anak. Meski begitu, orang dewasa tetap memasak dan memberi makan anak-anaknya.

Hari berjalan begitu lambat bagi orang dewasa. Biasanya mereka menghabiskan waktu dengan bermain gadget. Hari kedua masih berjalan dengan tidak baik. Orang dewasa merasa bosan dan stres.

Hari ketiga, orang dewasa mulai mencari cara mengatasi rasa bosan. Webinar cara mengatasi rasa bosan pada Hari Tanpa Gadget mulai bermunculan. Anak-anak senang dengan Hari Tanpa Gadget. Selain privasi mereka tidak lagi terganggu karena orang dewasa mengunggah konten tentang mereka tanpa izin, orang dewasa juga lebih perhatian dan punya lebih banyak waktu untuk mereka. Diam-diam, anak-anak berharap Hari Tanpa Gadget dilakukan selamanya.

Hubungan sosial menjadi lebih intim karena orang dewasa tidak lagi berkumpul sambil bermain gadget. Meski begitu, ada juga sisi lain dari Hari Tanpa Gadget. Bagaimanapun juga, mereka tinggal di era teknologi. Orang dewasa yang bekerja menggunakan gadget mengalami kesulitan.

Gadget mereka yang disita akhirnya dikembalikan oleh Pak Wali Kota setelah melihat orang dewasa sudah bisa mengendalikan diri. Berkat Hari Tanpa Gadget, orang dewasa tidak lagi terlalu menggantungkan hidup pada gadget. Mereka sudah bisa membagi waktu antara dunia maya dengan dunia nyata. Kota menjadi damai pada hari-hari selanjutnya.

***

Hari ini adalah hari pertama jari-jari orang dewasa bersekolah. Jari-jari itu akan belajar banyak hal. Untuk hari pertama, jari-jari akan belajar cara menahan diri agar berpikir dahulu sebelum bertindak.

Jari-jari dihadapkan pada sebuah informasi yang belum jelas kebenarannya. Beberapa jari ada yang langsung bertindak sebelum berpikir. Jari itu dengan cepat menekan tombol share tanpa memikirkan konsekuensi dari menyebarkan informasi itu. Tampak juga jari jempol dan telunjuk berselisih. Jari tengah, jari manis, dan jari kelingking bingung harus memihak pada siapa. Pada akhirnya, jari jempol menang dan berhasil menyebarkan informasi itu ke grup chatting. Hanya ada segelintir jari yang berhasil menahan diri.

Pengajar menepuk kepalanya pelan. Dia menghela napas melihat jari-jari lebih banyak bertindak dahulu sebelum berpikir. Pengajar lalu mengeluarkan bahan ajarnya. Dia menjelaskan bahwa ketika menerima informasi, jari-jari harus menganalisis isi informasi itu terlebih dahulu. Jari-jari harus mencari tahu kebenaran dari informasi tersebut. Jari-jari mengangguk.

Hari-hari selanjutnya, jari-jari diberi tes seperti hari pertama. Jari-jari harus belajar menahan diri. Tidak hanya itu, jari-jari juga diajarkan untuk menahan diri dalam mengunggah sesuatu, terutama jika berkaitan dengan privasi anak-anak. Mereka diajarkan pula cara menahan diri agar tidak memberikan komentar yang mengandung kebencian pada konten orang lain.

Sepulang sekolah, jari-jari menyampaikan apa yang mereka pelajari di sekolah kepada orang dewasa. Anak-anak senang. Orang dewasa tidak lagi melanggar privasi mereka. Anak-anak bisa bermain dengan bebas tanpa takut akan bahaya yang mengintai. Dalam hatinya, anak-anak berharap orang dewasa akan seperti itu selamanya.

***

Hari-hari yang damai di kota terus berlanjut. Tidak ada lagi perang dingin antara orang dewasa dengan anak-anak. Orang dewasa juga sudah mengurangi penggunaan gadget, kecuali untuk membahas pekerjaan. Mereka ingin memiliki banyak waktu bersama anak-anak. Tidak lagi menggantungkan hidup pada dunia maya yang penuh ilusi.

Hingga suatu hari, kedamaian itu buyar. Sebuah berita di surat kabar menggemparkan seisi kota. Kasus anak hilang dalam jumlah yang sangat banyak. Orang dewasa geram. Mereka bertanya-tanya kenapa baru terbongkar setelah jumlahnya banyak. Ada oknum yang menyembunyikannya.

Anak-anak merasa ngeri. Sejak itu, mereka tidak lagi keluar dari rumah. Anak-anak menyembunyikan dirinya dari dunia yang sudah tidak aman untuk mereka bermain dengan bebas. Seisi kota menjadi muram. Anak-anak tidak lagi tertawa dan tersenyum. Mereka murung. Mainan tidak bisa mengembalikan tawa dan senyum. Orang dewasa tidak tahu harus melakukan apa untuk mengembalikan senyum anak-anak.

Sementara itu, di balik tembok yang catnya sudah luntur dan menghitam, jari-jari berkuku hitam terus berkutat di layar gadget-nya. Seringai yang membuat bulu roma bergidik muncul di wajahnya. Jejak jari hitamnya memenuhi dunia maya.

Ah, kasihan sekali dengan jari-jari. Kepala mengambinghitamkannya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak