Film Balas Budi: Misi Balas Dendam Penuh Humor dan Kejutan

Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Film Balas Budi: Misi Balas Dendam Penuh Humor dan Kejutan
Poster film Balas Budi (IMDb)

Film Balas Budi (2026) adalah produksi Indonesia yang menggabungkan genre komedi romantis dengan elemen investigasi kriminal, disutradarai oleh Reka Wijaya. Diproduksi oleh Im-a-gin-e, Anami, dan Ten Cuts, film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 5 Februari 2026.

Dengan durasi 88 menit dan rating R13, cerita ini relevan di era digital di mana penipuan asmara atau love scamming semakin marak.

Dibintangi oleh Michelle Ziudith sebagai Alma, Yoshi Sudarso sebagai Budi, serta ensemble cast seperti Niken Anjani (Ayu), Givina (Uli), Gisella Anastasia (Thalita), Asri Welas, dan Ferry Salim, film ini menjanjikan hiburan ringan tapi bermakna tentang pengkhianatan, persahabatan, dan pembalasan.

Empat Korban Bersatu Melawan Penipu

Salah satu adegan di film Balas Budi (IMDb)
Salah satu adegan di film Balas Budi (IMDb)

Sinopsisnya berpusat pada Alma, seorang perempuan mandiri yang jatuh cinta pada Budi, pria tampan dan perhatian yang tampak seperti pasangan idaman. Budi menyelamatkan Alma di momen krusial, membangun hubungan yang tampak sempurna hingga hari pernikahan.

Akan tetapi, mimpi itu runtuh saat Alma menemukan bahwa Budi adalah penipu profesional yang menggunakan identitas palsu—seperti koki Prancis atau pengusaha sukses—untuk menguras harta korbannya hingga miliaran rupiah.

Alma bukan korban pertama; ia bertemu dengan Ayu, Uli, dan Thalita, tiga perempuan lain yang mengalami nasib serupa. Bersama, mereka membentuk aliansi untuk membongkar kebohongan Budi dan melancarkan misi balas dendam yang penuh kekonyolan, penyamaran, dan kejutan.

Cerita ini bukan sekadar romansa gagal, tapi tentang bagaimana korban bangkit melalui solidaritas, tanpa menyalahkan diri sendiri.

Tema utama film ini adalah girl power dan perlawanan terhadap manipulasi emosional. Balas Budi mengangkat isu love scamming dengan cara edukatif tapi tidak menggurui, mengingatkanku betapa mudahnya jatuh ke perangkap relasi kuasa di dunia maya.

Solidaritas antar perempuan menjadi jantung narasi: dari awalnya saling curiga, mereka berkembang menjadi tim detektif amatir yang saling menguatkan. Ini mencerminkan dinamika pertemanan perempuan sehari-hari—penuh dialog mengalir, interaksi spontan, dan humor jenaka.

Film ini juga menyentuh emosi lebih dalam, seperti rasa kehilangan kepercayaan dan kekuatan untuk bangkit, sambil menekankan pesan bahwa perempuan bersatu bisa mengalahkan penipu ulung.

Pendekatan feel-good membuatnya ringan, tapi tetap punya taji sosial, terutama di Indonesia di mana kasus serupa sering muncul di berita.

Review Film Balas Budi

Salah satu adegan di film Balas Budi (IMDb)
Salah satu adegan di film Balas Budi (IMDb)

Dari segi akting, Michelle Ziudith bersinar sebagai Alma. Karakternya energik, cerdas, dan emosional, dengan kemampuan breaking the fourth wall yang membuatnya terasa dekat denganku sebagai penonton.

Ziudith berhasil menyampaikan transisi dari korban naif menjadi pemimpin pemberontak, lengkap dengan humor dan trauma yang berimbang.

Yoshi Sudarso sebagai Budi memerankan antagonis karismatik dengan baik; wajah tampannya mendukung peran sebagai manipulator, meski karakternya lebih sebagai katalisator daripada fokus utama.

Ensemble perempuan—Niken Anjani, Givina, dan Gisella Anastasia—menunjukkan chemistry kuat. Mereka membawa nuansa berbeda: Ayu yang pragmatis, Uli yang konyol, dan Thalita yang dramatis, membuat aliansi mereka terasa autentik. Pendukung seperti Asri Welas dan Ferry Salim menambah warna komedi, meski peran mereka terbatas.

Sutradara Reka Wijaya membawa gaya segar dengan teknik breaking the fourth wall, mirip serial Fleabag, di mana karakter berbicara langsung ke kamera untuk berbagi pikiran lucu atau introspektif. Ini memberikan identitas visual unik, membuat film berbeda dari rom-com lokal biasa.

Sinematografi rapi dengan warna-warna cerah dan editing cepat yang mendukung alur investigasi. Musik latar ringan, campuran pop dan score ketegangan, memperkuat nuansa komedi dan drama.

Tetapi, durasi singkat membuat beberapa konflik terasa kurang dieksplorasi, seperti latar belakang korban yang lebih dalam atau twist akhir yang agak mendadak.

Kekuatan film ini terletak pada relevansinya dengan isu kontemporer. Plot sederhana tapi gregetan, dengan aksi balas dendam yang penuh tawa dan kejutan, membuatnya entertaining.

Tema girl power dieksekusi dengan baik, menunjukkan solidaritas sebagai senjata melawan pengkhianatan, tanpa jatuh ke klise male gaze berlebih. Humornya dekat dengan budaya Indonesia, seperti lelucon sehari-hari tentang cinta dan uang.

Edukasi halus tentang waspada terhadap scammer menambah nilai, terutama untuk penonton muda. Di sisi lain, kelemahannya adalah alur yang terkadang chaotic—editing lompatan dan continuity hilang membuatnya terasa seperti serial yang dipaksa jadi film.

Beberapa adegan, seperti pesta yang mengganggu, merusak pengembangan karakter perempuan. Pendekatan fourth wall kadang terasa gimmick, dan akhir cerita bergeser ke drama berat yang kurang fun. Secara keseluruhan, film ini lebih cocok untuk platform OTT daripada bioskop, di mana durasi lebih panjang bisa memperkaya narasi.

Balas Budi adalah tontonan ringan yang menyegarkan, dengan pesan empowering tentang cinta, kepercayaan, dan pembalasan.

Meski tidak sempurna, ia berhasil menghibur sambil mengingatkan bahaya manipulasi emosional. Rating dariku: 8/10. Layak ditonton untuk yang mencari komedi dengan makna, terutama di akhir pekan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak