Satu Mimpi Kecil yang Tertindas

Hayuning Ratri Hapsari | Fitri Suciati
Satu Mimpi Kecil yang Tertindas
Ilustrasi seorang gadis yang ingin merasakan menikmati makanan hangat seperti orang lain (Canva AI)

"Mie goreng kecap asin satu, bubur ayam satu!" teriak seorang pelayan kedai makan di tengah ramainya hiruk pikuk pasar.

Anne melambatkan langkahnya sejenak, membenarkan tas belanja di pundaknya sembari menatap rangkaian para pengujung kedai makan tersebut. Hawa dingin kembali membuatnya merinding, ditemani bunyi perutnya yang masih meraung kelaparan meski ia telah menikmati satu lembar roti tawar pagi itu. 

Melihat orang-orang dengan penuh tawa menikmati sarapan sederhana mereka di pagi hari turut membuat ia iri. Bahkan untuk membeli sarapan satu mangkuk bubur ayam dan satu gorengan cakue saja ia belum mampu. 

Yah mau bagaimana lagi, baru memulai pekerjaan di tempat baru dan belum menerima gaji pertamanya membuat gadis itu terpaksa harus menahan diri untuk sekadar mencicipi sarapan yang hangat dan menenangkan perutnya.

"Satu minggu lagi, aku akan memesan satu mangkuk bubur ayam, satu piring mie goreng kecap asin, dan tentunya gorengan cakue di tempat ini," gumamnya sambil berlalu, membayangkan gaji pertamanya yang akan segera ia terima minggu depan. Anne pun melanjutkan langkahnya, kembali berbelanja kebutuhan memasak hari itu dan segera pulang.

Tak pernah rumit, keinginan pertama Anne setelah mendapatkan gaji hanya ingin memanjakan dirinya dengan sarapan yang hangat dan pantas. Karena selama ia bekerja, gadis itu hanya mendapatkan makan satu lembar roti tawar tanpa selai apa pun. 

Kalau dibilang lapar, tentu saja ia masih merasa lapar, apalagi dirinya terbiasa sarapan nasi di kampung. Namun sekarang, hanya satu lembar roti untuk memulai hari. Tak sepadan dengan tenaga besar yang ia keluarkan untuk bekerja.

Menjadi seorang asisten rumah tangga dan menjaga seorang anak kecil yang selalu aktif dengan kegiatan sekolah dan les di luar mengharuskan Anne untuk berlalu-lalang dan bergerak tanpa henti setiap hari. Setidaknya ia juga ingin merasakan sarapan yang hangat dan mampu memberinya tenaga.

Tak muluk, Anne tak meminta jatah makan yang lebih pada sang majikan. Namun, ia hanya ingin membelinya sendiri dengan uang gaji pertamanya nanti.

Satu minggu berlalu, hari itu akhirnya tiba juga. Hari gajian Anne. Namun, tak seperti yang ia bayangkan, menerima gaji penuh dan bersiap membeli makanan yang ia inginkan Anne justru akhirnya terpaksa menunda keinginannya tersebut.

"Ini gaji kamu, Anne. Aku kasih separuh dulu, sisanya baru aku berikan 2 minggu lagi. Nunggu Tuan kamu closingan dari restorannya dulu!" ujar sang Nyonya yang langsung membuat semangat Anne hancur.

"Tapi, Nyo-nya ...." Anne terbata, ingin rasanya ia melontarkan protes, tetapi ia hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih setelahnya.

Keesokan harinya ketika Anne kembali berbelanja di pasar, gadis itu berhenti di kedai makan tempat ia ingin membeli bubur. Dengan tatapan lapar dan memelas yang sama. Harusnya hari ini ia dapat menikmati sarapan hangat itu, tetapi ia terpaksa harus menunggu 2 minggu lagi. 

Meski sudah menerima separuh gaji, Anne bukanlah sosok yang egois dan mementingkan diri sendiri. Ia lebih memilih untuk mengutamakan kiriman uang untuk orang tuanya di kampung dan menyisakan untuk ditabung dan sedikit keperluan pribadinya di sini. 

Sabar sudah menjadi makanan sehari-hari gadis itu, bahkan untuk sekadar menikmati sarapan hangat saja Anne harus kembali menundanya. Mimpinya tak besar, hanya sebatas keinginan kecil untuk menyenangkan diri dengan sarapan hangat setelah gajian. Namun, sepertinya Anne harus melewati serangkaian ujian kesabaran lagi untuk mewujudkan hal itu. Meski begitu ia tetap semangat dalam menjalani hari-harinya. Kembali melenggangkan langkahnya mantap untuk melewati hari ini. 

Mungkin ia terlihat lemah dan terlalu penurut. Tak memperjuangkan hak dan juga kepentingannya sendiri. Tetapi, tiap orang memiliki jalannya masing-masing, dan Anne hanya sosok yang tengah berjuang untuk memperbaiki nasib diri dan keluarganya. Di tempat yang bahkan terlalu asing dan penuh dengan cobaan.

2 minggu kemudian, Anne duduk di tempat yang telah lama ia impi-impikan, memesan sarapan yang telah ia idamkan selama satu bulan terakhir. Kepulan hangat dan aroma wangi dari bubur ayam di hadapannya membuat hatinya menghangat. Bahkan ia terasa tak lapar lagi setelah melihat mejanya dipenuhi dengan 3 menu sekaligus. 

Ya, satu piring mi goreng kecap asin, satu mangkuk bubur ayam, dan tentunya satu piring cakue panas yang baru saja selesai digoreng. Serta teh hangat yang melengkapi. Ia mengucap syukur penuh doa, karena akhirnya keinginan kecilnya ini bisa terpenuhi.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak