Setiap pagi, Matahari selalu bangun lebih dulu dari siapa pun. Ia terbit dengan setia, menyinari gunung, sungai, rumah-rumah kecil, dan ladang yang membentang luas. Namun ada satu tempat yang selalu membuatnya merasa hampa, sebidang tanah kering di pinggir desa, tanah kosong yang retak dan sepi, tanpa bunga, tanpa rumput, tanpa kehidupan yang terlihat.
“Untuk apa aku bersinar di sana?” gumam Matahari suatu pagi.
“Aku memberi cahaya, memberi hangat, tapi tak ada yang tumbuh. Tak ada yang berubah. Apa sinarku tak berguna bagi tanah itu?”
Tanah itu memang tampak mati. Retak-retak panjang seperti luka lama, warnanya coklat kusam, dan debu beterbangan setiap kali angin lewat. Tak ada petani yang menanaminya. Tak ada anak-anak yang bermain di sana. Semua orang menganggap tanah itu tak ada artinya dan hampa.
Setiap hari Matahari tetap menyinarinya, tapi perasaan kecewa semakin berat. Ia merasa cahayanya terbuang percuma.
“Laut berkilau karenaku,” keluhnya.
“Bunga mekar karenaku. Padi menguning juga karenaku. Tapi tanah itu tetap kering dan kosong.” Matahari lagi-lagi menghela napas beratnya.
Hari demi hari berlalu. Musim berganti. Matahari tetap setia, meski hatinya semakin lelah.
Suatu hari, hujan turun. Tidak deras, hanya gerimis lembut yang membasahi tanah retak itu. Tetes demi tetes meresap perlahan, membawa kesegaran yang hampir tak terlihat. Setelah hujan berhenti, Matahari kembali muncul dan menyinari tanah itu seperti biasa.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Di bawah tanah jauh dari pandangan Matahari ada sebuah biji kecil. Sangat kecil. Hampir tak berarti. Ia telah lama terkubur di sana, dibawa angin entah dari mana, lalu jatuh dan tertimbun debu.
Biji kecil itu tidak tahu apa-apa tentang dunia luar. Ia hanya tahu satu hal hangat. Setiap kali Matahari bersinar, kehangatan itu menembus tanah, perlahan, sabar, tanpa suara. Dan biji kecil itu merasakannya.
“Hangat,” bisiknya dalam kegelapan.
“Setidaknya aku tidak sendirian.”
Biji itu tidak langsung tumbuh. Ia terlalu kecil. Tanah di sekitarnya terlalu keras. Air terlalu jarang. Tapi setiap pagi, Matahari datang. Tanpa tahu siapa yang ia bantu. Tanpa tahu bahwa di bawah tanah, ada kehidupan yang menunggu.
Hari demi hari, biji kecil itu mulai berubah. Bukan tumbuh tinggi. Bukan menjadi hijau. Melainkan, berani.
Ia mulai mengirimkan akar kecil ke dalam tanah, mencari sisa-sisa air. Ia menahan dingin malam dan panasnya siang. Setiap kali hampir menyerah, kehangatan Matahari kembali datang, mengingatkannya bahwa bertahan masih layak dicoba.
Sementara itu, Matahari semakin murung.
“Aku lelah,” katanya pada awan suatu sore.
“Aku bersinar tanpa hasil. Tak ada yang melihat. Tak ada yang tumbuh di pekarangan kering itu.”
Awan yang lembut hanya tersenyum manis, “Tidak semua yang hidup ingin dilihat,” katanya pelan.
Matahari tak menjawab.
Waktu terus berjalan. Retakan tanah perlahan mengecil. Tidak drastis. Tidak mencolok. Jika seseorang lewat, mereka tidak akan menyadarinya. Tanah itu masih tampak kosong.
Namun di bawahnya, biji kecil kini telah menjadi tunas. Ia mendorong tanah perlahan, sedikit demi sedikit. Setiap dorongan membutuhkan keberanian. Setiap hari adalah perjuangan.
“Aku ingin melihat cahaya,” kata biji yang berubah tunas dalam hati.
“Aku ingin tahu seperti apa dunia yang selalu menghangatkanku.”
Suatu pagi, setelah gerimis di malam sebelumnya, keajaiban kecil terjadi. Sebuah ujung hijau muncul di permukaan tanah. Ukurannya sangat kecil, sangat rapuh dan hampir tak terlihat. Matahari yang terbit pagi itu hampir tak menyadarinya.
“Tunggu, apa itu?” katanya pelan.
Ia mendekatkan cahayanya, lebih hangat, lebih lembut. Ujung hijau itu bergetar kecil, lalu berdiri sedikit lebih tegak.
“Itu tumbuhan?” Matahari berbisik, tak percaya.
Hari demi hari, tunas kecil itu tumbuh perlahan. Tidak cepat. Tidak megah. Tapi nyata. Daunnya kecil, warnanya hijau pucat, namun tetap hidup. Orang-orang desa mulai memperhatikannya.
“Lihat, ada tanaman di tanah kosong itu,” kata seorang anak dengan lantangnya.
“Ah, paling juga tidak bertahan lama, tanah itu tandus dan juga kering. Banyak bunga yang sudah mati di sana,” jawab orang dewasa.
Namun Matahari kini bersinar dengan cara berbeda. Bukan karena ingin membuktikan sesuatu, tapi karena hatinya hangat oleh harapan baru.
Tunas kecil itu tumbuh menjadi tanaman kecil. Akarnya menguatkan tanah. Retakan semakin sedikit. Serangga kecil mulai datang. Burung-burung mulai melintasi awan dan bertengger di pohon besar sebentar. Kehidupan perlahan kembali.
Suatu hari, tanaman kecil itu berbunga. Bunganya sederhana. Tidak besar, tidak mencolok. Tapi indah dengan caranya sendiri. Matahari menatapnya lama.
“Jadi, selama ini kau ada di sana?” katanya lirih.
“Aku kira cahayaku sia-sia.”
Tanaman kecil itu bergoyang pelan tertiup angin, seolah tersenyum.
“Tanpa sinarmu, aku takkan pernah berani tumbuh,” ucap tanaman mungil itu.
Matahari terdiam.
Ia menyadari sesuatu yang selama ini tak ia pahami, kebaikan tidak selalu memberi hasil yang instan. Kadang ia bekerja dalam diam. Kadang ia tumbuh dalam gelap. Bahkan terkadang ia butuh waktu lama untuk muncul ke permukaan.
Sejak hari itu, Matahari tak pernah lagi mengeluh menyinari tanah kosong. Ia tahu, di balik tanah yang tampak sunyi, mungkin ada biji kecil yang sedang belajar bertahan.
Sementara, biji kecil itu, Ia terus tumbuh menjadi tanaman yang kuat, mengubah tanah kosong menjadi ladang kecil penuh kehidupan. Kebaikan yang tulus tak pernah benar-benar sia-sia. Ia hanya menunggu waktu untuk tumbuh menjadi hal yang lebih besar dan bermakna.