Mawar Merah dan Kaktus yang Berhati Besar

Hayuning Ratri Hapsari | Angelia Cipta RN
Mawar Merah dan Kaktus yang Berhati Besar
Ilustrasi Kisah Mawar Merah dan Kaktus (Gemini AI)

Di sudut taman istana yang luas, tumbuhlah sekuntum mawar merah dengan kelopak paling indah yang pernah ada. Warnanya merah menyala seperti bara senja, aromanya harum mewangi. Semua makhluk yang melintas selalu terpikat olehnya lebah, kupu-kupu, bahkan angin pun seolah ingin berlama-lama menyentuh kelopaknya.

Namun, keindahan itu menyimpan rahasia pahit. Mawar itu berduri dan durinya bukan sekadar pelindung. Ia adalah hasil dari luka, ketakutan, dan rasa kecewa yang bertahun-tahun menumpuk di dalam hati kecilnya.

“Dia cantik, tapi menyakitkan,” begitu bisik para penghuni taman.

Mawar mendengar semuanya.

Ia pernah berharap dicintai tanpa takut dilukai, tetapi berkali-kali tangan-tangan serakah mencoba memetiknya tanpa izin hingga mencabutnya kasar membuat kelopaknya rusak. Mereka tak peduli durinya menusuk, tak peduli kelopaknya gemetar. Ketika tangan-tangan itu terluka, merekalah yang marah. Mawarlah yang dituduh kejam.

Sejak itu, ia berdiri lebih tegak. Durinya semakin tajam. Bukan karena ingin melukai, tetapi karena tak ingin disakiti lagi.

“Lebih baik sendiri, daripada tersakiti” gumamnya suatu pagi, ketika embun menetes perlahan dari kelopaknya.

Hari itu, angin membawa sesuatu yang asing. Bukan bau tanah taman yang subur, bukan pula wangi bunga lain. Bau itu kering, panas, dan getir seperti matahari yang terlalu lama menyentuh bumi.

Tak lama kemudian, sebuah pot tanah liat diletakkan tak jauh darinya. Di dalamnya tumbuh sesuatu yang sama sekali berbeda dari bunga-bunga taman, dia adalah Kaktus.

Warnanya hijau pucat, penuh duri dari ujung hingga pangkal. Tak ada kelopak lembut, tak ada aroma harum. Ia berdiri kaku, seolah tak peduli pada dunia sekitarnya.

Mawar mendengus pelan.

“Makhluk aneh,” katanya dalam hati. “Siapa pula yang menaruh duri sebanyak itu?”

Hari-hari berlalu. Mawar tetap menjadi pusat perhatian taman. Sementara kaktus lebih sering diam, menahan terik matahari tanpa mengeluh. Sesekali, burung-burung kecil bertengger di dekatnya, lalu pergi lagi.

Suatu sore, hujan turun deras. Mawar bersyukur tanahnya basah, kelopaknya segar. Namun ia melihat pot kaktus nyaris tak menampung air. Air hujan langsung mengalir pergi.

“Kasihan dia. Kalau tanpa air, dia bisa mati layu” ucap Mawar tanpa sadar.

Kaktus tersenyum tipis, “Aku tidak membutuhkan air sebanyak itu.”

Mawar terkejut, “Kau bisa berbicara?”

“Tentu, sama seperti halnya kau bisa merasakan,” jawab kaktus tenang.

Sejak hari itu, mereka mulai berbincang. Awalnya canggung. Mawar terbiasa dipuji, sementara kaktus terbiasa diabaikan. Namun entah mengapa, percakapan mereka terasa jujur. Tak ada yang berpura-pura indah.

“Kau hidup di tempat yang keras,” kata Mawar suatu hari. “Panas, kering, dan sunyi.”

Kaktus mengangguk, “Gurun mengajarkanku bertahan. Air sedikit, angin kasar, malam dingin. Jika aku tak berduri, aku tak akan bisa hidup.”

Mawar terdiam.

“Aku juga berduri,” katanya pelan. “Tapi semua orang membenciku karenanya.”

Kaktus menatap Mawar lama, seolah membaca setiap luka yang tersembunyi di balik kelopaknya.

“Apakah durimu pernah kau anggap kutukan, Mawar?”

Mawar menghela napas, “Setiap hari.”

Suatu pagi, seorang anak kecil masuk ke taman. Matanya langsung tertuju pada Mawar merah.

“Indah sekali,” katanya riang sambil meraih batang Mawar tanpa ragu.

Mawar menegang, “Jangan sentuh aku.” bisiknya, tetapi terlambat.

Tangan kecil itu terluka. Anak itu menangis. Pengasuhnya datang tergesa-gesa, memarahi Mawar tanpa mendengar penjelasan.

“Bunga berbahaya!” serunya.

Mawar ingin menjerit. Ingin menjelaskan bahwa ia tak pernah meminta disentuh sembarangan. Bahwa durinya hanya penjaga, bukan senjata. Saat itulah, anak kecil itu melihat kaktus.

“Yang itu lebih menyeramkan,” katanya. “Jelek dan banyak durinya.”

Namun kaktus tetap diam tak mempedulikan ucapan si pengasuh anak itu. Ia tahu tak perlu menjelaskan siapa dirinya.

Malam itu, di bawah langit yang indah bertabur bintang, Mawar menangis. Embun di kelopaknya terasa seperti air mata.

“Aku lelah,” katanya pada kaktus. “Aku ingin dicintai tanpa dituduh menyakiti.”

Kaktus berbicara dengan suara lembut, namun mantap.

“Aku hidup dengan duri lebih banyak darimu. Tapi aku tak pernah membencinya.”

“Bagaimana mungkin?” tanya Mawar.

“Karena aku tahu, tanpa duri, aku sudah lama mati. Duri inilah yang menjadi pelindung bagiku. Kau tahu, tak selamanya yang kau pikirkan baik itu juga baik.” ucapnya lagi.

Keesokan harinya, sesuatu yang tak biasa terjadi. Di ujung batang kaktus, muncul kuncup kecil berwarna kuning cerah. Mawar terbelalak takjub bercampur kaget.

“Kau bisa berbunga?”

Kaktus tersenyum, “Tidak sering. Tapi selalu tepat waktu.”

Mawar menatap bunga kecil itu sederhana, tak semewah dirinya, namun penuh kehidupan. Saat itu, sesuatu bergetar di dalam hatinya. Ia menyadari bahwa duri bukanlah tanda kebencian pada dunia, melainkan bukti cinta pada diri sendiri.

Hari-hari berikutnya, Mawar tak lagi membenci durinya. Ia belajar berdiri tanpa takut dianggap jahat. Ia memahami bahwa tak semua makhluk akan mengerti caranya mencinta.

Dan ketika angin berbisik lembut di antara taman dan gurun, Mawar dan Kaktus tetap berdiri berdampingan dua makhluk berduri yang memilih bertahan, masing-masing dengan cara mencintai yang berbeda.

Setiap makhluk mencintai dengan caranya sendiri. Duri bukan selalu tanda kebencian, melainkan bentuk perlindungan dari hati yang pernah terluka.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak