Hujan turun deras sore itu. Hannah sampai di depan gedung tiga lantai yang ia lihat di aplikasi sebelumnya. Bangunan kos-kosan itu terlihat cukup tua, sebagian catnya terkelupas, memiliki pagar besi yang cukup tinggi dengan papan nama yang hampir pudar, dan dinding bagian bawah sebagian tumbuh lumut-lumut hijau yang merayap.
Hannah maklum. Selama dua minggu lebih ia mencari tempat tinggal baru, kos-kosan di depannya menawarkan harga yang lebih murah dibandingkan yang lain. Sebagai penulis amatir yang penghasilannya masih pas-pasan, Hannah butuh ruang kecil yang tenang, cukup untuk tidur dan bekerja. Baginya, tak perlu yang terlalu mewah dan mahal, yang penting ia bisa bekerja dengan tenang.
Cukup dengan pengamatannya, Hannah menekan bel di samping pagar besi. Seorang perempuan paruh baya menyambut dengan senyum ramah. Mempersilakan masuk dengan gaya khas seorang ibu kos. Hannah tebak, perempuan itu adalah Bu Sulastri yang bicara dengannya di telepon kemarin.
“Saya Hannah, Bu, yang kemarin menghubungi Ibu untuk menyewa kamar di sini.” Hannah mengulang perkenalan yang sempat ia lakukan melalui telepon sebelumnya.
Wanita itu mengangguk. “Iya, Nduk. Tapi di sini cuma ada satu kamar yang kosong di ujung lorong lantai 3. Apa nggak masalah?”
Hannah tak masalah. Apalagi mengingat harga yang ditawarkan cukup murah. Bahkan Bu Sulastri dengan baik hati memberikan diskon 20% karena kamar itu sudah lama sekali kosong. Dari yang Hannah dengar, lantai tiga juga cukup sepi karena penyewanya rata-rata pekerja yang pergi pagi pulang petang, beberapa ada yang hanya menumpang tidur saja. Dia pikir, suasana itu sangat ia butuhkan untuk menunjang pekerjaannya sebagai penulis.
Kamar 037 yang Hannah tempati berada di ujung lorong lantai tiga. Ketika Hannah masuk, kamar itu sudah cukup bersih. Meskipun bau barang-barang lama masih menyeruak indera penciuman. Tampaknya Bu Sulastri serius tentang petugas kebersihan yang ia datangkan untuk membersihkan kamar kosong di bangunan ini setiap minggu.
Tepat pukul 23.30, Hannah selesai merapikan barang-barangnya. Ia segera bersiap untuk tidur sebelum mulai melanjutkan pekerjaannya esok hari. Untuk sekarang, Hannah hanya ingin beristirahat dengan tenang.
Malam semakin larut. Hannah hampir saja terlelap ketika suara langkah kaki yang berat terdengar tepat dari atas kamarnya. Perempuan dua puluh tujuh tahun itu mengernyit. Sejauh yang dia ingat, Bu Sulastri sempat menjelaskan di lantai empat hanya ada jemuran dan gudang. Hannah mencoba mendengarkan suara itu dengan seksama.
Duk … duk … duk …
Duk … duk … duk …
Suara langkah itu semakin cepat, kadang seperti menjauh, kadang berhenti tepat di atas kamarnya. Ah, mungkin ada penghuni lain yang lagi ngangkat jemuran, pikir Hannah, lalu kembali memejamkan mata hingga terlelap.
***
Satu bulan berlalu sejak pertama kali Hannah menempati Kamar 037. Selama itu, tak ada hal-hal aneh yang dia alami, selain suara-suara aneh di atas kamarnya yang entah dari mana sumbernya. Tak ambil pusing, Hannah memilih mengabaikan suara-suara yang dia dengar tiap malam dan mencoba fokus hidup normal seperti biasa.
Hari itu, jam sudah menunjukkan pukul 20.15 ketika Hannah sampai di kos setelah belanja beberapa camilan dan kebutuhan lain. Di luar langit sudah gelap. Sebagian besar kamar kos di bangunan yang dia tempati sudah mulai menyala. Beberapa di antaranya masih gelap—mungkin orangnya masih di luar.
Sesampainya di kamar Hannah langsung menyalakan laptop. Sembari menunggu, ia merebus air untuk menyeduh kopi dan menyiapkan beberapa camilan. Sekitar lima belas menit kemudian, Hannah sudah kembali duduk di depan laptop dengan jari sibuk mengetik kata demi kata. Sesekali ia menyesap kopi dan berhenti sejenak mengambil jeda.
Satu jam berlalu, Hannah beranjak sebentar dari posisinya untuk mengisi ulang camilan yang hampir habis. Belum sempat kembali duduk, langkah Hannah terhenti saat mendengar suara dari balik cermin di atas meja rias kamarnya. Cermin itu tak terlalu besar, panjangnya hanya sekitar 30 sentimeter, lebarnya tak sampai 20 sentimeter.
Hannah terdiam. Bulu kuduknya meremang saat suara itu terdengar semakin jelas—memanggil namanya. Dengan langkah perlahan, ia mendekati cermin itu.
“Hannah … Han … nah ….” Terdengar suara serak yang semakin jelas seperti suara nenek-nenek.
Tiba di hadapan cermin, Hannah melihat wajahnya sendiri. Namun, semakin lama wajah itu semakin tak seperti dirinya. Wanita dalam cermin itu tersenyum lebar. Semakin lebar … hingga ujung bibirnya nyaris menyentuh telinga. Sementara matanya melotot menatap Hannah yang mematung di depannya. Lalu tiba-tiba … perempuan itu tertawa kencang.
Hannah terlonjak bangun. Napasnya tersengal. Keringat dingin menempel di leher dan punggung—membuat baju yang ia kenakan terasa lembap dan lengket. Ia menatap sekeliling. Kamarnya masih terang seperti yang ia ingat terakhir kali sebelum tertidur. Laptop masih terbuka di depannya. Dengan tangan sedikit gemetar, Hannah menampar wajahnya beberapa kali untuk mengembalikan kesadaran.
Penulis muda itu terdiam beberapa saat. Hening. Malam begitu tenang. Tak ada suara apapun, bahkan binatang di luar pun tak ada yang bersuara. Namun di pikiran Hannah, suara yang memanggil namanya dalam mimpi masih terus terbayang. Suara itu terasa begitu nyata dan seolah ia bisa merasakan ada kehadiran sosok lain di kamarnya.
Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Matanya tertuju pada jam yang menunjukkan pukul 00.37. Tangannya meraih botol minum dan menenguknya dengan cepat. Setelah merasa sedikit tenang, Hannah memutuskan untuk menutup laptop dan berpindah ke ranjang—berharap bisa tidur kembali. Dari tempat tidur, ia menatap cermin berbingkai kayu dengan ukiran klasik masih tergantung di tempatnya. Saat melihat cermin itu, Hannah tiba-tiba merinding. Pandangannya terpaku. Dia merasa seolah ada sesuatu yang mengawasi dari dalam sana. Jantung Hannah berdegup kencang, hawa dingin mengalir ke seluruh tubuhnya.
Tik. Tok. Tik. Tok. Suara jarum jam terus berdetak menandakan waktu yang juga terus berlalu. Lampu yang ia biarkan menyala terang tak mampu mengusir rasa takutnya. Hannah menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut, memaksa matanya terpejam. Namun, belum sempat terlelap, suara langkah kaki itu kembali terdengar. Kali ini bukan dari atas, tetapi lebih dekat. Semakin dekat … dan berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
Terdengar suara ketukan pelan. Semakin lama, ketukan itu semakin keras dan cepat. Hannah menelan ludah, kedua tangannya semakin erat mencengkeram selimut. Beberapa saat kemudian, ketukan itu berhenti. Dengan sisa keberanian yang ada, ia mencoba mengintip dari balik selimut. Tiba-tiba terdengar bunyi “tak!” bersamaan dengan lampu yang padam seketika. Jantung Hannah berdetak semakin kencang. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Dari pintu, terlihat jelas bayangan putih menembus masuk dan melayang perlahan ke arah cermin di atas meja rias.
Tubuh Hannah seolah membeku saat sosok itu tiba-tiba menatapnya sambil tersenyum lebar. Dengan suara serak, sosok itu berkata, “Selamat malam, Hannah.” Sebelum akhirnya menghilang masuk ke dalam cermin.
Setelah itu, semuanya gelap. Hannah tak tahu lagi apa yang terjadi di kamarnya. Esoknya, ia terbangun saat hari sudah terang dengan kondisi lampu masih menyala. Gadis itu menghela napas lega menyadari semua yang terjadi semalam mungkin hanya mimpi buruk.
***
Hari demi hari berlalu. Mimpi buruk itu masih terus terbayang di pikiran Hannah. Tidurnya tak lagi nyenyak. Setiap kali ia memejamkan mata, sosok itu selalu datang. Hal aneh semakin sering terjadi. Mulai dari bayangan wajah di cermin yang tak selaras dengan dirinya, suara langkah kaki dan ketukan pintu yang datang hampir setiap malam, hingga bisikan-bisikan lirih yang terus memanggil namanya.
Kamar 037 yang Hannah tempati tak lagi memberikan ketenangan. Pekerjannya pun menjadi berantakan. Ia tak lagi bisa memaksimalkan produktivitasnya menulis. Setiap kali jari-jarinya menari di atas keyboard, suara ketikan terasa menggema aneh, seolah dipantulkan kembali. Rasanya, Hannah muak sekali. Ia berharap dapat hidup dan bekerja dengan tenang di tempat ini. Nyatanya, malah mendapat gangguan makhluk ghoib yang tak pernah ia sangka.
Siang itu, Hannah merenung. Memikirkan kembali semua yang terjadi sejak awal kepindahannya. Ia mengedarkan pandang ke sekeliling kamar. Mencoba mencari tahu awal dari gangguan mengerikan ini dan cara untuk menghentikannya. Lalu tatapan Hannah berakhir di satu titik. Cermin. Ya, cermin itulah yang menjadi awal munculnya gangguan di kamarnya. Dengan langkah mantap, Hannah melepaskan gantungan cermin dan membawanya ke lantai empat untuk diletakkan di gudang.
Dengan langkah ringan, Hannah kembali ke kamarnya. Satu masalah hilang. Hari ini, ia harus menyelesaikan naskah yang sempat terabaikan. Gadis duapuluh lima tahun itu kemudian duduk di depan laptop dan mengetik dengan tenang. Tubuhnya sesekali bergerak mengikuti irama musik yang ia dengarkan melalui headphone. Tak ada gangguan malam itu. Tepat pukul 23.40, Hannah berhasil menyelesaikan targetnya menulis dan segera bersiap tidur.
Malam berlalu tanpa gangguan. Tak ada suara langkah kaki. Tak ada ketukan pintu. Tak ada bisikan kecil yang memanggil namanya. Hannah tertidur lebih cepat dari biasanya dengan tubuh yang terasa ringan.
Sementara itu, dalam mimpinya, Hannah melihat seorang perempuan cantik yang mirip sekali dengan almarhumah ibunya. Wanita itu tersenyum, mengulurkan tangannya kepada Hannah.
“Ibu?” Kening Hannah mengernyit heran. Tak ada jawaban, perempuan bergaun putih itu hanya tersenyum sembari memberikan isyarat pada Hannah untuk mengikutinya.
Hannah melangkah pelan. Ia berhenti ketika melewati sebuah pintu dengan bingkai ukiran kayu yang tampak familiar. Matanya bergantian menatap punggung perempuan bergaun putih dan pintu yang baru saja ia lewati. Ingatan gadis itu melayang. Dia terlonjak ketika menyadari satu hal. Bingkai pintu yang tampak dari kayu berukir itu sama persis dengan bingkai cermin yang ada di kamarnya.
“Kau sudah tahu, Hannah?” suara lembut seorang perempuan bergema tepat di samping telinganya. Hannah seketika menoleh, matanya terbelalak melihat sosok perempuan yang sebelumnya terlihat mirip dengan almarhumah ibunya kini berubah menjadi sosok menyeramkan yang datang di mimpi-mimpi Hannah sebelumnya.
Tubuh Hannah kaku, ia ingin berlari sekuat tenaga dari tempat itu dan kembali ke kamarnya. Namun, tak ada jalan. Tempat itu serupa tanah lapang, tak ada apapun di sana. Bahkan pintu yang sempat ia lewati pun menghilang begitu saja.
“Kau tak bisa lari, Hannah. Sekarang di sinilah tempatmu.” Sosok itu perlahan memudar diiringi dengan suara tawa yang menggelegar.
***
Dua minggu berlalu. Hannah tak pernah lagi terlihat di kos-kosan Bu Sulastri maupun di sekitar tempat itu. Pemilik kos mengira dia pergi berlibur ke kampung halamannya, tetapi sama seperti penyewa sebelumnya. Hingga satu tahun kemudian, Hannah tak juga muncul.
Satu setengah tahun setelah Hannah menghilang, seorang penyewa baru menghubungi Bu Sulastri. Wanita paruh baya itu lantas membersihkan kamar Hannah dan memindahkan barang-barangnya ke gudang lantai empat.
Kamar 037 kembali terisi. Dan di balik cermin rias kamar itu … ada sesuatu yang selalu mengintai diam-diam.