Asal Usul Babi Ngepet dan Lilin Penarik Kekayaan

M. Reza Sulaiman | Angelia Cipta RN
Asal Usul Babi Ngepet dan Lilin Penarik Kekayaan
Ilustrasi Pesugihan Babi Ngepet (Gemini AI)

Desa Subur Makmur selalu terasa lebih sunyi dibandingkan desa-desa lain di sekitarnya. Bukan karena penduduknya sedikit, melainkan karena ada sesuatu yang membuat suara enggan tinggal terlalu lama. Angin pun sering lewat tanpa bunyi, seolah takut mengganggu. Kabut turun hampir setiap malam, menggulung jalanan tanah, sawah, dan rumah-rumah kayu yang berjajar tidak rapi.

Orang-orang tua desa percaya bahwa Subur Makmur berdiri di atas tanah yang pernah bersekutu dengan iblis. Tidak semua janji itu baik. Pak Wiryo tahu betul soal itu. Ia dahulunya hanyalah petani kecil dengan sebidang sawah warisan yang tidak pernah cukup untuk memberi makan keluarganya. Setiap panen, hasilnya habis untuk utang pupuk dan kebutuhan sehari-hari. Anaknya sering sakit, istrinya sering menangis diam-diam di dapur, dan Pak Wiryo sendiri mulai kehilangan harga dirinya sebagai kepala keluarga.

Hingga suatu malam, rasa putus asa mengalahkan rasa takut. Ia mengikuti bisikan orang-orang yang tidak pernah berani menyebutnya secara terang-terangan: pesugihan babi ngepet. Bukan ilmu yang diwariskan, bukan pula amalan yang bisa dibagi. Pesugihan itu harus diminta sendiri, dengan niat sendiri, dan konsekuensi sendiri. Setidaknya, itulah yang Pak Wiryo yakini saat melangkahkan kaki ke hutan larangan di ujung desa pada malam Jumat Kliwon dua tahun silam.

Di bawah pohon randu besar yang rimbun dengan akar menjalar seperti ular, ia bertemu sesuatu yang tidak seharusnya ditemui manusia. Wujudnya samar, tinggi, hitam, dan besar. Suaranya dalam dan membuat dada sesak. Perjanjiannya sederhana, namun kejam. Pak Wiryo akan diberi kekayaan dengan cara berubah menjadi babi hitam pada malam-malam tertentu. Ia harus mencuri harta warga yang lalai, yang pintunya tidak diberi doa, dan yang hatinya lengah. Sebagai gantinya, ia harus menjaga satu hal, yakni sebuah lilin putih.

Lilin itu bukan sekadar penerang. Api lilin adalah nyawanya, penanda keselamatan. Jika apinya kecil dan bergoyang, artinya ia sedang beraksi. Jika nyalanya stabil, berarti ia aman. Namun, jika lilin itu padam, maka pertanda buruk akan datang. Entah tertangkap warga, entah mati, atau sesuatu yang lebih mengerikan akan terjadi.

Pak Wiryo menerima segala konsekuensinya. Ia pulang dengan tangan gemetar, namun hati penuh harap agar bisa segera kaya dan meninggalkan lingkaran kemiskinan. Sejak malam itu, hidupnya berubah. Uang datang tanpa asal yang jelas. Anak dan kerabatnya pun heran, namun Pak Wiryo selalu punya alasan. Sawah bertambah, rumah diperbaiki, dan anaknya bisa berobat. Namun, satu hal tidak pernah berubah setiap malam Jumat Kliwon: Pak Wiryo mengurung diri di kamar belakang bersama istrinya, menyalakan lilin putih, dan melarang siapa pun masuk.

Warga mulai berbisik. Ada yang kehilangan uang, ada yang mendengar suara babi berlari di atap rumah, ada pula yang melihat bayangan hitam melintas di sawah saat malam hujan. Namun, tidak ada yang berani menuduh. Sampai malam itu tiba. Malam ketika hujan turun tanpa jeda dan angin bertiup tidak biasa. Pak Wiryo mulai melakukan ritual menjadi babi, dan istrinya duduk di depan lilin putih sambil memeluk lututnya. Api lilin bergoyang hebat, mengecil, lalu membesar kembali. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Di kejauhan, suara teriakan terdengar. Obor dinyalakan, anjing menggonggong keras, dan suara kentongan memecah kabut. Istri Pak Wiryo pun panik. Ia tahu warga mulai curiga. Ia tahu babi hitam perwujudan suaminya itu sedang dalam bahaya. Tangannya gemetar saat menutup jendela. Namun, angin lebih cepat. Satu embusan kuat menerobos masuk dan membuat api lilin padam.

Sekejap, ruangan gelap gulita. Istrinya berteriak, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia merasakan sesuatu seperti ditarik paksa dari tubuhnya, disertai rasa panas dan nyeri luar biasa. Di saat yang sama, jeritan mengerikan terdengar dari arah sawah; jeritan yang bukan suara manusia, tetapi terlalu pilu untuk disebut suara binatang.

Pagi harinya, warga menemukan seekor babi hitam besar tergeletak mati di pinggir sawah. Tubuhnya penuh luka bacok dan darah mengering di tanah. Namun, yang membuat semua orang terdiam adalah wajah babi itu. Ada guratan yang terlalu mirip manusia. Ada mata yang seolah ingin menangis. Pak Wiryo menghilang.

Istrinya ditemukan pingsan di rumah. Kamar belakang kosong. Lilin putih meleleh habis, sumbunya hitam seolah terbakar dari dalam. Warga mengira semua telah berakhir. Mereka salah. Beberapa hari kemudian, istri Pak Wiryo jatuh sakit. Tubuhnya lemas dan napasnya berat. Matanya kosong, seperti menatap sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Setiap malam ia mengigau, menyebut nama suaminya dan meminta lilin dinyalakan.

Dukun desa dipanggil. Ia hanya menghela napas panjang. “Ini sisa perjanjian,” katanya pelan. “Pesugihan tidak selalu berhenti saat pelaku mati. Utangnya bisa diwariskan, bukan secara niat, melainkan secara korban.”

Anak Pak Wiryo menangis histeris. Ia tidak pernah ikut ritual, tidak pernah tahu. Namun, pesugihan tidak peduli pada ketidaktahuan. Dalam beberapa versi perjanjian, jika rahasia terbongkar atau gagal, tumbal akan diambil dari keluarga terdekat, terutama mereka yang hidup dari hasil kekayaan itu. Istri Pak Wiryo pun meninggal tepat empat puluh hari setelah kematian babi hitam. Tidak ada suara, tidak ada jeritan, hanya napas yang perlahan berhenti.

Sejak saat itu, rumah Pak Wiryo menjadi kosong. Tidak ada yang berani menempatinya. Kabut selalu lebih tebal di sana. Orang-orang mengaku kadang melihat cahaya kecil berkelip dari jendela kamar belakang, seperti api lilin yang mencoba menyala kembali namun selalu padam sebelum fajar.

Warga desa Subur Makmur akhirnya belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan sekolah atau kitab mana pun. Kekayaan yang datang tanpa usaha adalah undangan bagi sesuatu yang tidak kasat mata. Perjanjian gelap tidak pernah benar-benar pribadi, dan jalan pintas menuju kaya sering kali berujung pada jalan terpendek menuju kehilangan. Kini, setiap malam Jumat Kliwon, warga menyalakan lampu rumah, membaca doa, dan menutup pintu rapat-rapat. Bukan karena takut pada babi ngepet, melainkan karena mereka sadar bahwa keserakahan manusia sering kali lebih mengerikan daripada makhluk apa pun yang hidup di balik kegelapan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak