Aku dan Sosok Perempuan Penunggu Jembatan Batu

Hayuning Ratri Hapsari | Habibah Husain
Aku dan Sosok Perempuan Penunggu Jembatan Batu
Ilustrasi Aku dan Wanita Penunggu Jembatan Batu (Gemini AI/NanoBanana)

Malam itu akan selalu kuingat sebagai malam ketika aku mempertanyakan apakah aku benar-benar berhasil pulang dengan selamat. Peristiwa itu terjadi sekitar dua tahun lalu, pada malam Jumat yang dinginnya terasa tidak wajar. Aku baru saja pulang dari tempat kerja lembur di kota kecil tempatku tinggal. Jam di dashboard motor menunjukkan hampir pukul satu dini hari, dan tubuhku sudah terlalu lelah untuk berpikir jernih.

Aku adalah orang yang biasanya patuh pada aturan tak tertulis di desa kami: jangan melewati hutan setelah magrib. Namun malam itu, rasa letih dan keinginan cepat sampai rumah membuatku mengabaikan semua nasihat. Akhirnya aku memilih jalan pintas yang lebih cepat. Aku memotong hutan berkabut, melalui sebuah jalur sempit yang jarang dilewati. Jalur itu terkenal angker di kalangan warga setempat.

Begitu memasuki kawasan hutan, suasana langsung berubah. Kabut turun perlahan namun tebal, menelan jarak pandang hanya beberapa meter ke depan. Lampu motor tuaku berjuang keras menembus putih kelabu yang menggantung di udara. Pepohonan tinggi di kanan-kiri jalan berdiri rapat, batangnya gelap dan basah, seolah mengawasi setiap gerakanku. Saat itulah aku mulai merasa tidak sendirian.

Beberapa menit kemudian, aku sampai di sebuah tempat yang selama ini hanya kudengar dari cerita orang-orang tua: Jembatan Batu. Jembatan itu pendek dan melengkung, terbuat dari susunan batu tua yang ditumbuhi lumut hijau licin. Di bawahnya mengalir sungai kecil berair hitam yang nyaris tidak memantulkan cahaya. Konon, tempat itu tidak suka dilewati sendirian, apalagi tengah malam.

Begitu roda motorku menyentuh permukaan jembatan, serasa udara mendadak berubah dingin. Bukan dingin biasa, melainkan dingin yang merayap masuk ke tulang. Lampu motor mulai berkedip, membuat dadaku semakin sesak oleh panik. Saat itulah aku melihat sosok itu.

Di ujung jembatan berdiri seorang perempuan dengan gaun putih panjang pucat, seperti kain tua yang direndam air terlalu lama. Rambutnya hitam panjang menutupi sebagian wajahnya. Awalnya aku mencoba berpikir logis—mungkin orang tersesat. Namun pikiranku runtuh saat menyadari kakinya tidak menyentuh permukaan jembatan. Dia melayang, tipis, tidak wajar.

Jantungku berdegup liar. Aku ingin berteriak, tetapi suaraku lenyap. Tiba-tiba, sebuah bisikan terdengar tepat di telingaku, meski sosok itu masih berdiri beberapa meter di depan.

“Mas… aku kedinginan…”

Aroma tanah basah bercampur bau amis menyergap hidungku. Aku melihat jelas bekas memar hitam melingkar di lehernya, seperti bekas jeratan. Kucoba melirik, matanya seperti terhapus, hanya ada kedalaman hitam yang tak terjangkau, seolah matanya lenyap. Ketakutan membuat tubuhku gemetar. Dia memintaku berhenti, menemaninya sebentar di jembatan itu.

Dalam kepanikan, aku teringat pesan almarhum kakekku: jika bertemu makhluk seperti itu, jangan dijawab, jangan berhenti, dan jangan menoleh. Dengan sisa keberanian, aku memejamkan mata, merapalkan doa seadanya, lalu menarik gas motor sekuat tenaga.

Motorku melaju kencang melewati jembatan. Aku merasakan sentuhan dingin di punggungku, seolah ada tangan yang mencoba menarikku. Tawa lirih terdengar dari belakang, membuat bulu kudukku berdiri. Aku tidak menoleh, tidak peduli apa pun yang terjadi.

Begitu keluar dari jembatan dan mencapai aspal desa, lampu motor kembali normal. Aku terus melaju sampai rumah penduduk terlihat. Keesokan paginya, aku mendatangi sesepuh desa. Beliau hanya menghela napas saat mendengar ceritaku. Katanya, perempuan itu adalah penunggu jembatan, arwah yang bunuh diri bertahun-tahun lalu dan selalu mencari teman.

Saat kutanya apa yang terjadi jika aku berhenti malam itu, beliau menatapku lama. “Mungkin yang pulang bukan kamu.”

Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melewati Jembatan Batu. Namun setiap kali kabut turun dan udara malam terasa dingin, aku selalu merasa… ada sesuatu yang masih menungguku di sana.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak