Cerita Misteri

(Bukan) Mbah Saripah yang Menyeberang Jembatan

(Bukan) Mbah Saripah yang Menyeberang Jembatan
Ilustrasi menyeberang jembatan (Gemini, 2026)

"Met! Mbahmu kok sendirian ke rumah Mbak Astri? Tega ya!”

Aku dan Pakde yang tengah santai di ruang tamu mendadak melebarkan telinga mendengar seseorang berteriak sambil melenggang masuk rumah Mamet di sebelah. Sebentar lagi magrib, suara demikian akan membuat siapa pun mendekat untuk segera menghentikannya.

“Ada apa, Pak Sobrun?” tanya Pakde menyusul orang tadi sambil tergopoh-gopoh membetulkan sarungnya.

Mamet yang tengah mengikat sapu lidi itu menatap Pak Sobrun ragu. Ia menaruh sapu lidi yang baru dibuatnya ke tumpukan lain di pojok ruangan. Nampak betul sapu-sapu itu siap untuk dijual esok hari, seperti kebiasaan Mamet dan neneknya untuk hidup.

“Mbah siapa, Pak?” Mamet balik bertanya.

Pak Sobrun berkacak pinggang.

Ia beristighfar sebelum menunjuk muka Mamet yang makin mengernyit keningnya. Mamet masih saja telaten mengumpulkan barang lidi untuk diikat menjadi sapu.

“Mbah Saripah! Siapa lagi?!”

Pakde maju selangkah mencium gelagat tak mengenakkan Pak Sobrun. Namanya saja yang berarti sabar, tetapi entah mengapa dia datang sudah marah-marah.

“Sebentar, Pak. Ada apa dengan Mbah Saripah?” tanya Pakde hati-hati.

Mendengar kalimat Pakde, Pak Sobrun mulai tenang. Ia menyeret kursi rotan di ruang tamu Mamet. Kursi tua itu mendecit. Ia duduk sambil mengipasi wajahnya dengan pecinya sendiri.

“Mbah Saripah mau ke rumah Mbak Astri. Aku ketemu di Kali Talang Lor.”

Mamet mengernyitkan keningnya. Lelaki berusia awal dua puluh tahunan itu menoleh ke arah Pakde dan aku bergantian. Mbak Astri yang disebut Pak Sobrun tak lain adalah ibunya Mamet. Ia tinggal di desa sebelah berbatasan dengan Kali Talang Lor tersebut.

Mamet tinggal bersama Mbah Saripah untuk menemani hari tuanya sekaligus karena tak mau tinggal dengan ayah tirinya setelah ibunya menikah lagi.

“Kapan, Pak?” Mamet tak mengerti.

Pak Sobrun mendengus.

“Baru saja. Aku ada undangan dari teman lama di kecamatan sebelah. Sengaja pulang lewat Kali Talang Lor, jalan kaki.”

“Kenapa tidak naik motor, Pak?” Aku ikut penasaran.

Kali Talang Lor memang sejak dulu digunakan untuk akses menuju desa-desa yang ada di kecamatan sekitarnya, meskipun harus berjalan kaki melewati sungai dan persawahan warga. Sementara itu, untuk kendaraan jarak tempuhnya lebih memutar. Tak hanya itu, jalan rusak berlubang di kanan kiri membuat warga semakin enggan.

“Tak sudi aku naik motor di atas jalan rusak itu! Sudah berapa kali pemilu, tetap saja jalannya masih sama.” Pak Sobrun kembali bersungut-sungut.

Aku dan pakdeku hanya manggut-manggut. Apa yang diucapkan Pak Sobrun sepenuhnya benar.

“Terakhir aku naik motor lewat jalan itu jatuh. Kerikil-kerikil itu membuat roda mudah tergelincir.”

Pakde mengangguk kecil.

“Untung nggak jatuh ke bawah jembatan ya, Pak,” Pakde menambahkan.

Pak Sobrun mengangguk setuju.

“Makanya harusnya itu pemerintah lebih peduli gitu, lho!”

Tiba-tiba terdengar bunyi batuk-batuk dari ruang sebelah yang berupa kamar tidur.

Pak Sobrun terasa tersadar akan sesuatu. Ia melirik Mamet yang masih kebingungan tapi tak berani menyela.

“Pak Sobrun maksudnya apa? Itu Mbah Saripah ada di dalam,” ujar Pakde.

Pak Sobrun bergantian menatapku dan Pakde, kemudian beralih ke Mamet.

“Dari kemarin Mbah Saripah nggak ke mana-mana, Pak. Kakinya saja sakit karena keseleo waktu mengambil pelepah kelapa.” Mamet akhirnya angkat bicara.

Pak Sobrun melotot. Kedua kakinya mendadak lemas.

“Tapi tadi aku melihat dia di jembatan Kali Talang Lor, mau nyebrang, sempat aku bantuin,” ujarnya pelan.

“Jangan bercandalah, Pak. Sudah mau magrib ini.” Pakde menepuk punggung Pak Sobrun.

“Tapi betul, aku lihat di atas jembatan Kali Talang Lor.” Pak Sobrun mengulang kalimatnya sambil memijat keningnya.

“Yakin Mbah Saripah? Bukan orang lain?”

“Yakin! Mbah Saripah mau menyeberang jembatan. Terus aku pegang tangannya, aku papah sampai ujung."

Aku dan Mamet kompak menahan napas.

“Ditanyain tidak, Pak?” Pakde mulai penasaran.

Pak Sobrun mengangguk.

“Mau ke rumah Mbak Astri katanya. Sudah sebulan lebih dia tak kemari, jadi Mbah Saripah yang mau ke sana. Begitu katanya.”

Mamet menelan ludah. Ia membenarkan kalimat Pak Sobrun akan ibunya. Tapi ia masih ragu akan orang yang ditemui Pak Sobrun, yang pasti bukan neneknya yang sedang terbaring di kamar.

“Ibumu apa sudah lupa punya anak di sini?” ujar Pak Sobrun kemudian yang membuat Mamet menunduk.

Pakde melirik Mamet. “Ah, paling masih sibuk kerja. Besok-besok pasti juga ke sini.”

“Mbah Saripah jalannya gimana, Pak?” Aku makin memburu.

“Kamu ini. Ya jalan saja. Seperti biasa. Tapi tangannya dingin. Mungkin habis dari kali.”

Kali ini Mamet mengangkat kepalanya. Ia menggeleng. “Mbah Saripah jalan agak kesusahan, Pak, pakai tongkat.”

“Oh iya, aku ingat pakai tongkat!” Ia mengacungkan telunjuknya.

“Kakinya menapak tanah tidak, Pak?” Aku kembali bertanya yang hanya mendapat tatapan ragu Pak Sobrun.

“Sopo, Met? Ono opo?” Tiba-tiba seseorang berdiri di depan pintu kamar. Tangannya berpegang erat pada dinding agar tak jatuh.

“Tongkatku mana, Met?” tanyanya kembali.

Mamet bergegas mendekati neneknya. Memberikan tongkat yang bersandar di dinding tepat di sampingnya.

“Nah, itu tongkatnya.” Pak Sobrun menunjuk lemah.

Ia kembali terduduk di kursi rotan tanpa tenaga.

Kali ini Pak Sobrun seperti kehilangan akal.

Kami bertiga melihat jelas Mbah Saripah berdiri dan kakinya jelas menapak tanah. Kaki kirinya agak terangkat akibat ada sedikit bengkak. Mamet benar, neneknya tidak ke mana-mana. Sementara Mbah Saripah yang Pak Sobrun temui masih menjadi tanda tanya.

“Owalah, aku kira ibumu, Astri,” ujar Mbah Saripah melihat kami bertiga.

Aku dan Pakde mengangguk santun.

Azan magrib sayup terdengar bersama mentari yang mulai rebah. Sosok yang dipapah Pak Sobrun tadi bukanlah Mbah Saripah, melainkan sesuatu yang mengabarkan pesan untuk kami. Aku dan Pakde berjalan ke luar rumah. Pak Sobrun berjalan gontai.

“Sudah, Pak, tidak apa-apa. Besok kita ke kelurahan, minta tolong siapa gitu biar jalannya diperbaiki. Jadi, Pak Sobrun dan warga gak perlu jalan lewat Kali Talang Lor lagi.” Pakde kembali menepuk punggung Pak Sobrun.

Pak Sobrun hanya diam menatap gurat senja di ufuk barat.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda