Nama Aurelie Moeremans belakangan menjadi perbincangan luas setelah ia merilis sebuah buku memoar berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.
Karya tersebut langsung menarik perhatian publik karena memuat pengakuan pribadi yang sensitif sekaligus menyentuh tentang masa remajanya yang penuh luka.
Dalam buku itu, Aurelie secara terbuka menceritakan pengalaman pahitnya menjadi korban grooming oleh mantan kekasih yang saat itu berusia jauh lebih dewasa.
Ia mengungkap bahwa hubungan tersebut dimulai ketika dirinya masih berusia 15 tahun, usia yang rentan dan belum memiliki cukup pemahaman untuk menghadapi relasi yang tidak seimbang.
Pengalaman Pahit yang Diungkap Lewat Buku
Melalui memoarnya, Aurelie menjabarkan bagaimana dirinya mengalami manipulasi emosional, kontrol, serta tekanan psikologis secara perlahan.
Ia juga menceritakan proses panjang yang akhirnya membawanya keluar dari hubungan tersebut dan berusaha menyelamatkan diri.
Pengakuan ini turut ia tegaskan lewat kolom komentar di unggahan pribadinya pada Jumat, 9 Januari 2025. Aurelie menjelaskan bahwa buku tersebut ditulis dengan niat sederhana dan tanpa maksud menyerang pihak mana pun.
"Aku nulis buku tentang pengalaman aku mengalami kekerasan saat umur 15 tahun. Niatnya sederhana, berbagi, tanpa sebut nama, tanpa serang siapa pun," tulis Aurelie.
Merasa Kembali Diganggu Usai Memoar Terbit
Namun setelah buku tersebut dirilis dan potongan ceritanya menyebar luas di media sosial, Aurelie mengaku kembali mengalami gangguan dari pihak tertentu yang diduga berkaitan dengan masa lalunya.
Ia menilai situasi tersebut ironis karena niat awalnya hanya berbagi pengalaman, bukan membuka konflik baru.
Meski selama ini memilih untuk diam, Aurelie menegaskan bahwa sikap tersebut bukan kewajiban yang harus terus ia pertahankan.
"Lucunya, ada yang merasa, lalu malah ganggu aku lagi. Padahal caranya, justru berisiko buat dirinya sendiri. Selama ini aku memilih diam, tapi diam itu pilihan, bukan kewajiban. Dan setiap pilihan punya batas," ungkapnya.
Akun Mantan Kekasih Ikut Disorot Publik
Tak lama setelah memoar tersebut viral, perhatian warganet juga tertuju pada akun Instagram Roby Tremonti, yang diketahui sebagai mantan kekasih Aurelie.
Meski dalam buku Aurelie menggunakan nama samaran untuk pelaku grooming yang disebut Bobby, publik mengaitkan sosok tersebut dengan Roby berdasarkan riwayat hubungan mereka di masa lalu.
Situasi ini membuat unggahan Roby di media sosial ikut menjadi sorotan, terutama setelah ia membagikan kutipan bernuansa hukum yang menyinggung isu tuduhan, pencemaran nama baik, serta konsekuensi hukum atas pernyataan di ruang publik.
Respons Roby dan Kekhawatiran soal Reputasi
Roby menyatakan bahwa meski namanya tidak disebut secara eksplisit dalam buku tersebut, dampaknya tetap ia rasakan secara langsung. Ia mengaku akun Instagram miliknya dibanjiri komentar negatif yang dinilainya sebagai fitnah.
“Dampak dari buku tersebut membuat akun Instagram saya mendapatkan komentar-komentar fitnah yang super liar,” tulisnya.
Dalam pernyataan lanjutan, Roby juga menyinggung fenomena pembentukan opini publik di era digital yang dinilainya dapat merusak reputasi seseorang dalam waktu singkat.
“Tujuan dari sumber tersebut memang jelas mau membuat kredibilitas saya hancur, aka cancel culture bahasa modern sekarang,” ungkapnya.
Pembatasan Kolom Komentar dan Reaksi Warganet
Selain mengunggah pernyataan bernuansa hukum, Roby terlihat membatasi kolom komentar di akun Instagram miliknya.
Sejumlah unggahan hanya bisa dikomentari oleh akun tertentu, sementara beberapa lainnya menonaktifkan kolom komentar sepenuhnya.
Langkah tersebut diduga dilakukan untuk meredam perdebatan terbuka di tengah derasnya opini publik.
Di sisi lain, sebagian warganet menilai pembatasan ini sebagai bentuk perlindungan diri dari tekanan dan hujatan yang terus berdatangan terkait kisah masa lalu yang kini kembali mencuat ke permukaan.
Kisah Aurelie Moeremans melalui buku Broken Strings pun tak hanya membuka diskusi soal pengalaman personalnya, tetapi juga memicu perbincangan lebih luas tentang grooming, relasi tidak sehat, serta dampak keberanian korban dalam bersuara di ruang publik.