Plot Cerita Dinilai Lemah, Film Return to Silent Hill Cuma Raih Rating 9%

Hayuning Ratri Hapsari | Raysazahra A.M
Plot Cerita Dinilai Lemah, Film Return to Silent Hill Cuma Raih Rating 9%
Film Return to Silent Hill (Cineverse)

Penayangan awal film adaptasi game Silent Hill 2 diwarnai sejumlah respons negatif. Film berjudul Return to Silent Hill, sudah tayang pada 23 Januari lalu di Amerika Serikat sementara di Indonesia akan rilis pada 28 Januari 2026.

Mengutip data di situs Rotten Tomatoes pada Jumat (23/1/2026), Return to Silent Hill sementara ini hanya mengantongi rating 9% dari 23 ulasan. Angka ini masih berpotensi berubah seiring masuknya ulasan tambahan, namun arahnya dinilai belum menjanjikan.

Sejumlah kritik menyoroti bahwa film ini gagal menangkap esensi dunia Silent Hill secara menyeluruh. Beberapa ulasan menyebut sang sutradara memang berhasil mereplikasi nuansa visual khas gimnya, tetapi pemahaman tematik terhadap cerita inti dinilai lemah.

Adaptasi kisah James Sunderland dianggap tidak mampu menggali kedalaman psikologis yang menjadi fondasi utama gim Silent Hill 2.

Sebagai gim, Silent Hill 2 dikenal bukan hanya lewat horor grotesk dan visual, tetapi juga pendekatan psikologisnya. Monster-monster dalam ceritanya merepresentasikan trauma, rasa bersalah, dan alam bawah sadar para karakternya.

Dari ulasan awal yang beredar, Return to Silent Hill dinilai hanya berhasil menghidupkan sisi visual, tanpa diimbangi eksplorasi psikologis yang sama mendalam. Hasilnya, film ini dianggap belum mampu menyamai kekuatan emosional dan reflektif dari gim klasik PlayStation 2 tersebut.

Proyek ini sebenarnya memiliki perjalanan produksi yang cukup panjang. Produksinya mendapat lampu hijau pada 2022, lalu memasuki tahap syuting sejak April 2023 hingga Februari 2024.

Return to Silent Hill mengikuti perjalanan James Sunderland, pria yang hidupnya berubah setelah menerima surat misterius dari Mary, perempuan yang pernah ia cintai. Surat itu memintanya kembali ke Silent Hill, kota tempat mereka pertama kali bertemu. Saat tiba di sana, James langsung merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Kota tersebut tampak kosong, tak ada tanda kehidupan. James lalu dihadapkan pada makhluk-makhluk mengerikan, termasuk monster brutal yang mampu menyemburkan cairan mematikan serta gerombolan serangga agresif.

Di tengah kekacauan itu, James bertemu beberapa sosok yang masih bertahan di Silent Hill, salah satunya perempuan misterius yang wajahnya sangat mirip dengan Mary. Kehadiran mereka justru menambah lapisan keanehan dan teka-teki yang harus dihadapi James.

Semakin lama ia berada di Silent Hill, batas antara realitas dan mimpi buruk kian kabur. Kota tersebut seolah memaksanya menghadapi trauma dan rasa bersalah. Apa yang sebenarnya terjadi pada Mary dan apakah kebenaran itu masih bisa ia temukan sebelum semuanya terlambat?

Film Return to Silent Hill dibintangi Jeremy Irvine sebagai James Sunderland, Hannah Emily Anderson sebagai Mary Crane, Angela, dan Maria, Evie Templeton sebagai Laura, Robert Strange sebagai Red Pyramid, serta Nicola Alexis sebagai terapis James.

Christophe Gans selaku sutradara menyoroti tantangan mendasar dalam mengadaptasi gim ke layar lebar. Menurutnya, pengalaman Silent Hill pada dasarnya sangat personal karena pemain memegang kendali penuh atas karakter dan dunia di dalamnya.

Mengadaptasi gim menjadi film bukan hal yang sederhana, karena tentu saja jauh lebih menarik memainkan karakter dan menjelajahi dunia Silent Hill secara langsung, dibandingkan hanya duduk pasif di depan layar,” ujar Christophe Gans.

Tujuan utama Christophe Gans ialah membuat film yang tetap bisa dinikmati oleh penonton yang sama sekali tidak mengenal Silent Hill. Namun di saat yang sama, ia berharap film tersebut bisa menjadi ruang dialog bagi para penggemar lama.

Untuk para penggemar, aku berharap film ini terasa seperti sebuah diskusi dengan perasaan mereka sendiri tentang gimnya,” katanya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak