Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan warna baru lewat film Sunda Emperor, sebuah film petualangan yang mengangkat identitas budaya Sunda ke layar bioskop nasional. Diproduksi oleh Sapawave Films, film ini dijadwalkan tayang pada 2026 dan langsung mencuri perhatian karena berani mengusung bahasa Sunda secara penuh serta menjadikan budaya lokal sebagai inti cerita, bukan sekadar latar.
Menariknya, Sunda Emperor merupakan proyek personal dari Angling Sagaran yang bertindak sebagai produser, sutradara, sekaligus penulis naskah. Lewat film ini, Angling ingin menegaskan bahwa budaya Sunda bukanlah cerita masa lalu semata, melainkan identitas yang masih hidup, relevan, dan bisa dikemas secara menghibur untuk penonton masa kini.
Sinopsis Sunda Emperor
Film Sunda Emperor berpusat pada tokoh Miheng, seorang pemuda Sunda yang hidup sederhana dan serba kekurangan. Miheng dikenal oportunis, menjalani hidup apa adanya tanpa tujuan besar. Namun kehidupannya berubah drastis ketika ia mendengar kabar mengejutkan, dirinya disebut-sebut sebagai keturunan Raja Sunda.
Kabar tersebut bermula dari sebuah koin peninggalan Kerajaan Sunda, simbol kecil yang justru menjadi pemicu perjalanan besar. Dari sinilah cerita berkembang, membawa Miheng ke dalam pencarian jati diri yang tak hanya menyentuh sejarah leluhur, tetapi juga mempertanyakan siapa dirinya sebenarnya di masa kini.
Dalam perjalanannya, Miheng tidak sendirian. Ia ditemani dua sahabat setianya, Ohim dan Ece, yang masing-masing membawa dinamika unik dalam cerita. Ohim digambarkan sebagai sosok yang lebih realistis, sementara Ece hadir dengan karakter yang ceria dan sering mencairkan suasana lewat humor. Persahabatan ketiganya menjadi salah satu fondasi emosional film ini.
Pencarian asal-usul Miheng perlahan berubah menjadi petualangan yang sarat konflik. Kehadiran Eti, perempuan Sunda yang diperankan oleh Laura Moane, menjadi kejutan tersendiri dalam perjalanan mereka. Sosok Eti bukan hanya pelengkap cerita, tetapi juga membawa perspektif baru tentang makna budaya dan keberanian menghadapi masa depan.
Di sisi lain, ancaman datang dari karakter antagonis seperti Iwan Gesrek dan Boss Pepey, yang memiliki kepentingan tersendiri terhadap koin peninggalan kerajaan tersebut. Pertemuan dengan para antagonis ini membuat perjalanan Miheng dan kawan-kawan semakin berbahaya, sekaligus memaksa mereka untuk memilih antara menyerah atau terus melangkah.
Budaya Sunda sebagai Jiwa Cerita
Salah satu kekuatan utama film ini adalah keberaniannya menggunakan bahasa Sunda 100 persen. Hal ini diakui menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi Laura Moane yang memerankan Neng Eti. Ia mengungkapkan bahwa perannya menuntut pemahaman bahasa dan budaya Sunda secara mendalam agar karakter yang dibawakan terasa autentik.
Tak hanya bahasa, film ini juga menyelipkan nilai-nilai budaya Sunda seperti persahabatan, hormat pada leluhur, dan pencarian identitas, yang dikemas secara ringan melalui drama dan komedi. Angling Sagaran menegaskan bahwa Sunda Emperor tidak bermaksud menggurui, melainkan mengajak penonton mengenal budaya lewat cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ambisi Film Daerah di Level Nasional
Pendiri Sapawave Films sekaligus Eksekutif Produser, Much Risman, menegaskan bahwa Sunda Emperor dibuat dengan visi besar. Film ini diharapkan mampu membuktikan bahwa film berbahasa daerah memiliki daya saing di tingkat nasional, baik dari segi kualitas cerita maupun daya tarik hiburan.
Dibintangi oleh Bilal Fadh, Maghara Adipura, Vansa Be, Laura Moane, Itings Meledax, dan Yujeng Hensem, film ini menawarkan kombinasi pemain muda dan berpengalaman yang menghadirkan dinamika karakter yang kuat.
Dengan balutan drama, komedi, dan petualangan, Sunda Emperor tak hanya menyuguhkan kisah seru, tetapi juga menjadi ruang perayaan budaya Sunda di layar lebar. Film ini menjadi pengingat bahwa identitas lokal bisa tampil modern, relevan, dan menghibur tanpa kehilangan akar budayanya.