Pelembap Bisa Bikin Jerawatan? Kenali Bahaya Penggunaan Moisturizer Berlebihan

M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Pelembap Bisa Bikin Jerawatan? Kenali Bahaya Penggunaan Moisturizer Berlebihan
Ilustrasi pelembap wajah yang digunakan untuk menjaga kelembapan kulit, dengan pemakaian yang perlu disesuaikan agar tidak menyumbat pori. (Unsplash/Mire)

Pelembap sering dianggap sebagai kunci utama kulit sehat. Namun, tanpa disadari, penggunaan pelembap wajah secara berlebihan justru dapat menimbulkan masalah kulit, mulai dari pori-pori tersumbat hingga jerawat yang muncul berulang. Kondisi ini semakin sering terjadi seiring maraknya tren layering skincare di media sosial yang mendorong penggunaan banyak produk dalam satu rutinitas.

Padahal, menurut sejumlah studi, kebutuhan perawatan kulit setiap orang berbeda. Rutinitas yang terlalu rumit belum tentu cocok untuk semua jenis kulit dan bahkan bisa memperburuk kondisi kulit tertentu.

Takaran Pelembap Tidak Perlu Berlebihan

Hingga kini, belum ada standar baku yang benar-benar pasti mengenai jumlah pelembap yang ideal. Namun, sebuah studi dalam Journal of Cosmetic Dermatology menunjukkan bahwa pelembap bekerja lebih optimal ketika diaplikasikan pada kulit yang masih sedikit lembap, misalnya setelah mandi. Dalam penelitian tersebut, penggunaan sekitar 1–2 miligram per sentimeter persegi kulit dinilai cukup untuk menjaga kelembapan lapisan terluar kulit.

Dalam kehidupan sehari-hari, ukuran ini tentu sulit diukur secara akurat. Karena itu, dokter kulit menyarankan pendekatan yang lebih praktis. Untuk kebanyakan orang, pelembap seukuran koin kecil dinilai sudah mencukupi untuk seluruh wajah. Meski demikian, jumlah ini tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing.

Perhatikan Jenis Kulit dan Cara Pakai

Kulit kering umumnya membutuhkan pelembap lebih banyak dibandingkan dengan kulit berminyak. Sebaliknya, pemilik kulit berminyak atau rentan jerawat sebaiknya menggunakan pelembap dengan jumlah lebih sedikit dan tekstur yang ringan.

Cara pengaplikasian juga berperan penting. Pelembap sebaiknya dioleskan secara merata pada area utama wajah seperti dahi, pipi, hidung, dan dagu. Hasil akhir yang ideal adalah kulit terasa terhidrasi dan halus, bukan berminyak atau licin.

Beberapa tanda bahwa kulit menerima pelembap secara berlebihan, antara lain kulit masih terasa lengket setelah 10–15 menit, produk menggumpal di permukaan kulit, atau muncul sensasi seolah-olah kulit tertutup lapisan berat. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, pori-pori dapat tersumbat, jerawat lebih mudah muncul, dan kulit tampak kusam akibat penumpukan sel kulit mati.

Kulit Sehat Tidak Selalu Butuh Banyak Produk

Mengacu pada informasi kesehatan, kulit wajah yang sehat umumnya ditandai dengan tekstur halus, warna yang merata, terasa lembap, dan tidak mudah iritasi. Kondisi ini tidak selalu bergantung pada banyaknya produk skincare yang digunakan, melainkan pada kecocokan produk dengan kebutuhan kulit.

Bahkan, tidak semua orang membutuhkan pelembap setiap hari. Jika kulit tidak terasa kering, gatal, atau mengelupas, penggunaan pelembap bisa disesuaikan atau dikurangi. Namun, penting untuk dicatat bahwa kulit berminyak tetap bisa mengalami dehidrasi. Saat kulit kekurangan air, tubuh justru dapat memproduksi minyak lebih banyak sebagai mekanisme kompensasi.

Pilih Tekstur yang Tepat

Untuk kulit berminyak dan rentan jerawat, pelembap berbentuk gel atau lotion berbasis air lebih disarankan karena terasa ringan dan cepat meresap. Sementara itu, pelembap bertekstur krim dengan kandungan minyak lebih tinggi cenderung lebih cocok untuk kulit kering.

Pelembap tetap penting dalam perawatan kulit, tetapi penggunaannya perlu dilakukan secara bijak. Menyesuaikan jumlah, tekstur, dan frekuensi pemakaian dengan jenis kulit akan membantu menjaga kesehatan kulit sekaligus mencegah munculnya jerawat akibat penggunaan berlebihan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak