Indonesia kembali mencuri perhatian di kawasan Asia Pasifik. Sebuah laporan terbaru menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan pekerja tertinggi di wilayah ini.
Di tengah isu upah, beban kerja, dan ketidakpastian ekonomi global, temuan ini terdengar optimistis. Namun, di balik angka yang menggembirakan itu, tersimpan cerita yang jauh lebih kompleks.
82 Persen Pekerja Indonesia Merasa Bahagia
Laporan Workplace Happiness Index yang dirilis Jobstreet by SEEK mencatat bahwa sekitar 82 persen pekerja Indonesia merasa cukup atau sangat bahagia dengan pekerjaan mereka. Angka ini menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan negara Asia Pasifik lain yang disurvei.
Survei terhadap sekitar 1.000 responden berusia 18–64 tahun tersebut menunjukkan jarak yang cukup jauh dengan negara lain, seperti Hong Kong (47 persen), Singapura (56 persen), dan Australia (57 persen). Jika dirinci, hasil survei menunjukkan:
- 37 persen mengatakan sangat bahagia;
- 45 persen merasa bahagia;
- 15 persen berada di posisi netral; dan
- hanya sebagian kecil yang mengaku tidak bahagia.
Secara statistik, Indonesia unggul. Namun, kebahagiaan dalam angka tidak selalu berarti tanpa persoalan.
Bukan Sekadar Gaji, melainkan Rasa Bermakna
Menariknya, kebahagiaan pekerja Indonesia bukan hanya soal gaji. Meskipun sekitar 54 persen responden berharap mendapatkan gaji lebih tinggi, faktor yang paling berkontribusi terhadap kebahagiaan adalah work-life balance dan rasa bahwa pekerjaan mereka bermakna.
Survei mencatat beberapa faktor dominan, yaitu:
- Rekan kerja yang suportif;
- Lokasi tempat kerja yang nyaman; serta
- Perasaan bahwa pekerjaan memiliki tujuan dan makna.
Di sinilah terlihat karakter khas dunia kerja Indonesia yang menempatkan relasi sosial dan rasa kebersamaan sebagai fondasi penting. Lingkungan kerja yang hangat sering kali menjadi penopang emosional, bahkan ketika tekanan pekerjaan tidak sepenuhnya ringan.
Paradoks: Bahagia tetapi Burnout
Namun, laporan yang sama juga mengungkap sisi lain yang tidak kalah penting. Sekitar 43 persen pekerja Indonesia mengaku mengalami burnout, dan yang mengejutkan, sebagian besar dari mereka tetap masuk dalam kategori "bahagia".
Fenomena ini kerap disebut sebagai happy burnout, yakni kondisi ketika seseorang merasa puas secara umum dengan pekerjaannya, tetapi tetap mengalami kelelahan mental akibat tuntutan kerja yang tinggi, ritme cepat, dan tekanan produktivitas yang terus-menerus.
Di era digital, tekanan ini diperparah oleh kekhawatiran terhadap teknologi. Sekitar 40 persen pekerja menyebut kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), sebagai sumber kecemasan karena dianggap mengancam posisi mereka. Ironisnya, sektor teknologi justru menjadi salah satu sektor dengan tingkat kebahagiaan tertinggi.
Mengapa Bisa Bahagia tetapi Tetap Stres?
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebahagiaan kerja bukanlah konsep tunggal. Di Indonesia, rasa diterima, hubungan sosial yang kuat, dan solidaritas tim mampu menciptakan perasaan "bahagia" secara emosional. Namun, di sisi lain, ekspektasi kerja yang terus meningkat tetap menguras energi mental.
Banyak pekerja berada di persimpangan antara menjaga stabilitas emosional dan memenuhi tuntutan performa. Pekerjaan yang bermakna sering kali justru membuat seseorang rela bekerja lebih keras hingga tanpa sadar mengorbankan waktu istirahat dan kesehatan mental.
Kesenjangan Antargenerasi
Laporan lain juga menyoroti perbedaan pengalaman antargenerasi. Generasi Z cenderung melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dibandingkan dengan Generasi Milenial dan Generasi X. Kurangnya rasa dihargai, keterbatasan ruang berkembang, serta tugas yang terasa monoton menjadi faktor yang kerap disebut.
Hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan kerja juga dipengaruhi oleh fase hidup, ekspektasi karier, dan kesempatan berkembang yang dirasakan setiap generasi.
Lebih dari Sekadar Peringkat
Peringkat pertama kebahagiaan pekerja di Asia Pasifik tentu patut diapresiasi. Namun, temuan ini seharusnya tidak berhenti sebagai kebanggaan statistik semata. Data tersebut menjadi pengingat bahwa kebahagiaan kerja tidak cukup diukur dari senyum dan kepuasan sesaat.
Bagi perusahaan dan pembuat kebijakan, laporan ini menyampaikan pesan penting: gaji memang penting, tetapi hubungan sosial, keseimbangan hidup, serta dukungan kesehatan mental tidak bisa diabaikan. Tanpa manajemen stres yang baik, kebahagiaan yang ada berisiko berubah menjadi kelelahan berkepanjangan.
Pada akhirnya, tantangan dunia kerja Indonesia bukan hanya mempertahankan posisi teratas dalam indeks kebahagiaan, melainkan memastikan bahwa kebahagiaan itu berkelanjutan; tidak menutupi lelah, tidak menormalisasi burnout, dan tetap memanusiakan pekerja di tengah tuntutan zaman.