Perjuangan Timnas Indonesia U-17 dalam rangkaian uji coba melawan China U-17 memberikan gambaran nyata mengenai proses perkembangan skuad muda Garuda. Meski harus mengakui keunggulan lawan, Nova Arianto melihat adanya perubahan signifikan dari segi mentalitas dan keberanian para pemainnya saat berlaga di Stadion Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Rabu malam.
Pada pertandingan uji coba kedua tersebut, pasukan Merah Putih takluk dengan skor tipis 2-3 dari China. Hasil ini sejatinya merupakan sebuah peningkatan besar jika dibandingkan dengan pertemuan pertama yang berlangsung di tempat yang sama pada Minggu (8/2), di mana saat itu pasukan Garuda Muda kalah telak dengan skor 0-7.
Nova Arianto mengungkapkan rasa syukurnya atas transformasi yang ditunjukkan oleh anak asuhnya. Ia menilai bahwa kekalahan memalukan di laga perdana justru menjadi pemantik semangat bagi para pemain untuk tampil lebih berani dan disiplin di laga kedua.
"Hari ini kita melihat wajah pertandingan yang berbeda ya. Karena di sebelumnya kita... kita tahu kita kalah 7-0. Dan hari ini, saya bersyukur, sekali lagi walaupun hasilnya masih belum sesuai dengan harapan kita, tetapi saya melihat pemain berubah secara mental," kata Nova pada jumpa pers setelah pertandingan, menyadur Antara News pada Rabu (11/2/2026).
Pelatih bertangan dingin tersebut menegaskan bahwa kekuatan mental adalah fondasi utama ketika menghadapi lawan dengan kualitas tinggi seperti China. Tanpa mental yang baja, taktik dan strategi apa pun akan sulit diimplementasikan oleh para pemain di atas lapangan.
Ia menambahkan, "Karena menurut saya itu hal yang penting. Karena di saat mereka tidak mempunyai mental yang kuat, ya pastinya kita akan sulit menghadapi tim sekelas China. Tapi saya senang hari ini semua pemain bekerja sama sangat luar biasa, bermain disiplin sesuai dengan instruksi, dan itu yang harus mereka bawa nantinya."
Jalannya pertandingan kedua ini memang terlihat lebih sengit sejak menit awal. China sempat membuka keunggulan lebih dulu pada menit kesembilan lewat aksi Zhao Songyuan yang memanfaatkan umpan cutback matang untuk menaklukkan kiper Indonesia, Noah Leo.
Tertinggal satu gol tidak membuat mental Indonesia ambruk. Skuad asuhan Nova Arianto justru mencoba bangkit dan akhirnya berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-22. Tendangan bebas melengkung dari Chico Jericho Yarangga membentur pemain bertahan lawan dan berbelok arah, mengecoh kiper China hingga skor berubah menjadi 1-1.
Evaluasi Ketahanan Fisik dan Jam Terbang Internasional
Peningkatan performa Indonesia juga terlihat dari cara mereka berinteraksi secara fisik dengan lawan. Nova menyadari bahwa pada pertemuan pertama, para pemainnya sering kali kalah saat harus beradu badan (body play), namun hal itu tidak lagi terjadi secara dominan di laga kedua.
“Saya melihat hari ini pemain jauh lebih berani. Di pertandingan pertama banyak pemain jatuh saat main body dengan pemain China, sekarang mereka lebih siap,” ungkap Nova mengapresiasi keberanian duel para pemainnya.
Namun, China kembali menunjukkan kelasnya sebelum turun minum. Pada menit ke-36, sebuah skema serangan dari sisi kanan pertahanan Indonesia diakhiri dengan umpan silang yang disambar oleh He Sifan, membuat kedudukan menjadi 2-1 untuk keunggulan tim tamu hingga babak pertama usai.
Memasuki babak kedua, Indonesia langsung tancap gas. Baru tiga menit berjalan, tepatnya di menit ke-48, Garuda Muda mendapatkan hadiah penalti. Miraj Rizki Sulaeman yang maju sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya dengan tenang untuk mengubah skor menjadi imbang 2-2.
Sayangnya, meski sempat mendapatkan peluang emas melalui Mirza Firjatullah di menit ke-69 dan sepakan Dava di menit ke-78, Indonesia gagal membalikkan keadaan. China justru mengunci kemenangan 3-2 di fase akhir laga lewat gol Zhang Bolin setelah bola pantulan mengenai tubuh kiper Indonesia.
Di balik hasil tersebut, Nova Arianto memberikan catatan khusus mengenai pengalaman internasional para pemainnya. Ia mengakui bahwa sebagian besar pemain saat ini masih minim jam terbang di level antarnegara karena terbiasa bermain di kompetisi domestik seperti Elite Pro Academy (EPA).
“Kita berharap pemain bisa mendapatkan jam terbang internasional. Dulu sebelum Piala Asia (U-17) dan Piala Dunia (U-17), tim bisa menjalani sekitar 17 pertandingan uji coba. Itu yang membuat pemain lebih siap,” imbuhnya.
Lebih jauh, Nova berharap pengalaman pahit dan manis dari dua laga melawan China ini bisa menjadi modal berharga. Ia ingin para pemain belajar tentang disiplin bertahan dan kepercayaan diri sebelum terjun ke turnamen sesungguhnya seperti Piala AFF U-17 dan Piala Asia U-17.