Kekalahan telak yang dialami Timnas Indonesia U-17 saat menghadapi China baru-baru ini menjadi sorotan tajam bagi PSSI. Meski skor berakhir cukup mencolok, federasi menilai bahwa Garuda Muda saat ini masih dalam tahap pembentukan awal dan sangat membutuhkan tambahan jam terbang internasional untuk mematangkan mental serta kualitas permainan mereka di lapangan.
Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, menegaskan bahwa hasil minor tersebut tidak lantas membuat PSSI panik. Menurutnya, skor 0-7 saat melawan China dalam laga uji coba di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, Minggu (8/2/2026) lalu, belum menggambarkan kekuatan sesungguhnya dari skuad asuhan Nova Arianto.
Pertandingan tersebut merupakan pertemuan pertama dari dua rangkaian uji coba internasional yang telah dijadwalkan. Arya menjelaskan bahwa wajar jika performa tim belum stabil karena skuad ini baru saja dikumpulkan kembali setelah sempat vakum cukup lama pasca gelaran Piala Dunia U-17 2025.
"Ini kan baru pertama kali uji coba. Sebenarnya kita masih punya tiga pemain yang bisa main, yang lahir tahun 2009, seperti Mierza Firjatullah," ungkap Arya saat ditemui di GBK Arena, Senin (9/2/2026) sebagaimana diungkap suara.com.
Selain Mierza, terdapat dua nama pemain potensial lainnya dari skuad Piala Dunia U-17 sebelumnya yang masih berpeluang dipanggil kembali. Mereka adalah Mathew Baker dan Mike Rajasa, yang diharapkan bisa menambah kekuatan tim di masa mendatang.
PSSI juga menyoroti pentingnya kompetisi reguler bagi para pemain muda ini. Arya berharap para penggawa Garuda Muda bisa mendapatkan menit bermain di kompetisi domestik seperti Elite Pro Academy (EPA) U-18 untuk mengasah kemampuan mereka.
"Mudah-mudahan nanti mereka bisa bermain di EPA, EPA U-18. Sebenarnya itu dua tahun di atas usia mereka," tambah Arya. Baginya, bermain melawan pemain yang lebih senior secara usia akan memberikan tekanan yang bagus bagi perkembangan fisik dan taktik pemain.
Eksperimen dan evaluasi ini sangat penting mengingat target besar yang diemban. Timnas Indonesia U-17 saat ini sedang dipersiapkan untuk menghadapi program jangka panjang menuju Piala Dunia U-17 2026, serta ajang Piala AFF U-17 dan Piala Asia U-17 2026.
Transisi Kepemimpinan di Kursi Kepelatihan, Nova Arianto Turun Gunung
Menariknya, Timnas Indonesia U-17 saat ini tengah berada dalam masa transisi manajerial. Nova Arianto yang sebelumnya menjabat sebagai pelatih kepala kini mulai dipromosikan untuk menangani Timnas U-20 sejak November 2025.
Meski demikian, Nova masih memegang kendali penuh selama dua laga uji coba melawan China ini. Ia didampingi oleh Kurniawan Dwi Yulianto, sosok berpengalaman yang sebelumnya menjadi asisten Indra Sjafri di SEA Games, guna memastikan proses handover atau serah terima jabatan berjalan lancar.
Nova "turun gunung" untuk memoles 28 pemain dalam skuad baru ini agar mendapatkan data evaluasi yang matang sebelum Kurniawan mengambil alih secara resmi. Kekalahan telak di laga pertama pun dijadikan data krusial bagi Kurniawan untuk memetakan kelemahan tim.
PSSI berharap transisi ini tetap menjaga "DNA" permainan tim agar Indonesia bisa lolos ke Piala Dunia U-17 untuk ketiga kalinya secara berturut-turut melalui jalur delapan besar di Piala Asia. Laga kedua melawan China pada Rabu (11/2/2026) akan menjadi tes terakhir bagi Nova sebelum fokus sepenuhnya ke skuad U-20.
Kurniawan Dwi Yulianto sendiri membawa modal berharga dengan pengalaman melatih di Como U-19 Italia dan Sabah FC. Pengalaman internasionalnya diharapkan mampu membawa Garuda Muda bersaing di level tertinggi sepak bola Asia.
"Nanti kita lihat perubahannya. Kita tunggu bagaimana Coach Nova melakukan penyesuaian dan perubahan strategi untuk Timnas," pungkas Arya optimistis.
Melalui evaluasi mendalam dari dua laga uji coba melawan China ini, diharapkan Timnas Indonesia U-17 dapat segera berbenah. Dukungan penuh dari PSSI dalam memberikan lawan-lawan internasional yang berkualitas akan menjadi kunci utama bagi para pemain muda untuk mematangkan mentalitas mereka sebelum terjun ke turnamen resmi yang sesungguhnya.