Hobi
Piala Dunia 2026 dan Comeback Turki yang Menodai Sejarah Keikutsertaan Terakhir Mereka
Penantian panjang Timnas Turki untuk kembali mentas di panggung Piala Dunia pada akhirnya berujung dengan nestapa. Alih-alih melaju jauh dan masuk dalam jajaran tim elit di turnamen, kesebelasan yang menjadi representasi kekuatan sepak bola negara di semenanjung Anatolia itu justru harus pulang lebih cepat.
Di luar dugaan, dalam dua pertarungan perdana yang mereka jalani, Arda Guler dan kolega langsung keok dari lawan-lawannya. Setelah menelan kekalahan menyakitkan dengan margin dua gol tanpa balas dari Australia pada laga pertama (14/6) lalu, pada pertarungan kedua melawan Paraguay (20/6) di San Fransisco Bay Arena, mereka juga kembali menuai kekalahan.
Gol cepat Matias Galarza dari luar kotak penalti ketika pertandingan belum genap berusia 2 menit, membuat Turki kembali terpuruk. Bukan hanya membuat mereka kembali mengakhiri pertandingan tanpa meraih barang satu poin pun, gol Galarza itu juga memastikan terhentinya langkah Turki di turnamen, meskipun mereka masih memiliki satu laga tersisa.
Secara perhitungan, dengan posisi Turki yang saat ini masih berstatus nirpoin dari dua kali laga, mereka hanya akan mampu meraih maksimal tiga poin dari laga terakhir yang dijalani.
Dengan konstelasi klasemen Grup D saat ini, di mana Amerika Serikat sudah mengoleksi enam poin dan Australia serta Paraguay yang mengoleksi masing-masing tiga poin, peluang Turki untuk lolos otomatis sudah tertutup karena mereka sudah kalah hasil akhir dan jumlah gol dari dua tim yang berada tepat di atasnya itu.
Sekadar menginformasikan, berdasarkan rilisan FIFA di laman resmi mereka, pada Piala Dunia 2026 ini, jika ada tim yang memiliki jumlah poin sama, maka penghitungan selanjutnya adalah dengan menghitung jumlah poin yang diraih ketika tim-tim tersebut saling bertemu.
Adapun jika penghitungan kedua ini masih sama (karena pertandingan antara tim-tim tersebut berakhir imbang), maka cara selanjutnya adalah dengan menghitung jumlah gol yang dicetak oleh tim-tim tersebut saat bertarung.
Dan kita ketahui bersama, hingga usainya pertarungan kedua ini, baik Australia maupun Paraguay sudah mencatatkan kemenangan atas Turki, sehingga jikapun nantinya Turki menang atas Amerika Serikat dan mendapatkan poin penuh, hal itu tak akan memengaruhi perubahan posisi mereka di klasemen akhir.
Piala Dunia 2026: Noda yang Mengotori Prestasi Turki Dua Dekade Lalu
Pulang cepatnya Turki dari gelaran Piala Dunia 2026 ini sendiri bagi saya pribadi sangatlah di luar dugaan dan memantik rasa kecewa yang cukup mendalam.
Bukan hanya karena status mereka yang cukup bertabur bintang, Turki di Piala Dunia kali ini juga berpredikat sebagai tim dengan nilai skuat termahal di Grup D.
Berdasarkan data dari laman Transfermarkt, nilai pasar skuat Turki yang berada di angka Rp8,2 triliun, sangat jauh menjulang jika dibandingkan dengan tiga pesaing lainnya.
Amerika Serikat yang menjadi tuan rumah, hanya bermodalkan skuat dengan harga total Rp6,7 triliun, kemudian Paraguay dengan value Rp2,6 triliun dan Australia dengan nilai skuat di angka Rp1,3 triliun saja. Jadi, secara modal awal, Turki dapat dikatakan sebagai tim dengan modal paling melimpah di Grup D.
Apakah hanya itu saja yang membuat saya memendam kecewa dengan penampilan Turki kali ini? Tentu saja tidak! Salah satu hal yang membuat saya kecewa dengan Timnas Turki di Piala Dunia 2026 ini adalah, karena hasil minor yang diraih ini juga menodai kenangan pribadi saya tentang mereka yang didominasi dengan kekaguman.
Karena dalam ingatan saya, Turki di pentas Piala Dunia adalah tim yang sangat superior dan sangat sulit untuk ditaklukkan bahkan oleh tim raksasa sekalipun.
Terus terang, jika membahas tentang penampilan Turki di Piala Dunia, ingatan saya selalu tertuju kepada mereka di Piala Dunia 2002 yang dilangsungkan di Jepang dan Korea Selatan.
Sama halnya seperti edisi 2026 ini yang membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk bisa tampil, Turki di Piala Dunia 2002 lalu juga datang setelah mereka terakhir kali menjadi kontestan pada edisi 1954.
Pasca-absen panjang dari turnamen sepak bola paling akbar sejagat raya, Turki sama sekali tak kagok dan justru menciptakan kejutan. Ilhan Mansiz dan kolega, sama sekali tak menunjukkan bahwa mereka adalah tim yang hampir lima dekade sebelumnya hanya bertindak sebagai penonton.
Coba bayangkan, tim yang hampir lima puluh tahun absen dari gelaran Piala Dunia, justru menjelma sebagai Tim Kuda Hitam dan di akhir turnamen menyabet label sebagai tim peringkat ketiga terbaik.
Perjalanan mereka untuk meraih label itu pun juga tak bisa dianggap sebagai keberuntungan semata. Bagaimana tidak, Turki yang saat itu tak masuk radar sebagai tim yang akan melaju jauh, berhasil menundukkan Jepang yang berstatus sebagai tuan rumah di fase 16 besar, membungkam Senegal yang dinobatkan menjadi tim paling mengejutkan di babak 8 besar, dan hanya kalah tipis 0-1 dari Brazil di partai semifinal.
Meskipun pada akhirnya Turki harus puas dengan hanya memperebutkan posisi terbaik ketiga di turnamen, namun mereka tetap melanjutkan kejutannya hingga pertarungan terakhir yang mereka jalani.
Berhadapan dengan tuan rumah Korea Selatan yang memulangkan Italia di babak 16 besar dan Spanyol di babak 8 besar, Turki memberikan kejutan terakhirnya melalui Hakan Sukur.
Seolah memberikan salam perpisahan kepada gelaran, Hakan Sukur dengan akselerasi kilatnya berhasil menjebol gawang tim tuan rumah, bahkan ketika pertarungan belum sepuluh detik penuh digulirkan.
Sebuah gol yang pada akhirnya akan terus dikenang oleh para penggemar sepak bola, karena tercatat sebagai salah satu gol tercepat di sepanjang sejarah guliran Piala Dunia.
Namun kenangan manis yang masih tersimpan rapi di ingatan saya itu kini seperti ternodai dengan bapuknya Timnas Turki edisi 2026 ini. Alih-alih melaju jauh dan mengulang prestasi yang mereka rengkuh dua dekade silam, Timnas Turki kali ini justru lebih layak untuk disebut sebagai sebuah aib di turnamen.
Bagaimana bisa, tim yang diperkuat oleh pemain-pemain yang tersebar di berbagai kompetisi benua Eropa, justru harus menjadi tim yang paling cepat pulangnya? Bagaimana bisa, tim yang memiliki nilai pasar paling mahal dalam kumpulan, justru melewati dua pertandingan melawan tim yang kualitasnya tak lebih baik, justru mengakhirinya dengan kekalahan? Tanpa mencetak barang satu gol pula!
Tentunya sangat mengecewakan bukan? Terlebih bagi saya yang selama 24 tahun ini mengisi slot kenangan di pikiran dengan memori manis tentang mereka.