Hobi
Kompak Jadi Aib, Piala Dunia 2026 Tak Ubahnya Panggung untuk Permalukan Anak Emas AFC
Dua anak emas AFC dari kawasan Timur Tengah sama-sama harus menelan kekalahan memalukan di matchday kedua perhelatan Piala Dunia 2026. Setelah sebelumnya Qatar harus menuai rasa malu yang mendalam selepas dibantai oleh Kanada dengan skor telak enam gol tanpa balas, kali ini giliran sang tetangga, Arab Saudi.
Hampir serupa dengan Qatar yang luluh-lantak dihantam Kanada, Arab Saudi juga tak berdaya ketika berhadapan dengan Spanyol. Laman match report FIFA merilis, The Green Falcon yang menghadapi tim asal Semenanjung Iberia di Atlanta Stadium itu terbantai empat gol tanpa balas.
Meskipun sudah memasang kuda-kuda untuk bertahan total, Arab Saudi mati-matian menahan gempuran sang lawan, hanya mampu menjaga kesucian jala gawangnya dalam sepuluh menit pertama pertandingan saja.
Serangan bertubi-tubi yang dilepaskan oleh Spanyol, langsung membuahkan hasil ketika pertandingan memasuki menit ke-10 melalui aksi penyelinapan yang apik dari sang Bintang Muda, Lamine Yamal.
Setelah keseimbangan pertarungan dipecahkan oleh Yamal, La Furia Roja yang konsisten menyerang, berturut-turut langsung memberondongkan dua gol tambahan di menit ke-21 dan 24 melalui brace Mikel Oyarzabal.
Sementara satu gol lagi yang menggenapi kemenangan Spanyol menjadi empat gol tanpa balas, tercipta melalui gol bunuh diri dari Hassan Altambakti pada menit ke-49.
Sebuah gol yang membuat penderitaan Arab Saudi menjadi semakin identik dengan Qatar, yang mana kekalahan mereka dari Kanada pada matchday kedua (19/6) kemarin juga diwarnai dengan satu gol bunuh diri dari Mohamed Manai pada menit ke-75.
Berangkat dengan Segala Kemudahan, Berujung Menjadi Objek Pembantaian
Sejatinya, pada gelaran Piala Dunia 2026 kali ini, bukan hanya Arab Saudi dan Qatar yang menelan kekalahan telak dari lawan-lawannya.
Tercatat, pada pertandingan pertama lalu, negara-negara wakil benua Asia seperti Irak, terkena hantam 1-4 oleh Norwegia, kemudian Yordania, juga kandas 1-3 dari Austria dan Uzbekistan juga kalah 1-3 dari Kolombia.
Namun kekalahan negara-negara tersebut, tentunya tak menjadi sebuah permasalahan besar karena sejarah perjalanan mereka menuju kelolosan yang benar-benar mengandalkan kemampuan sendiri.
Ibarat kata, meskipun Irak, Yordania dan Uzbekistan kalah dengan jumlah gol yang jauh lebih besar sekalipun, hal itu tak akan menjadi masalah bagi para penikmat sepak bola Asia.
Selain karena tim-tim tersebut lolos dengan cara yang fair tanpa menyakiti hati tim nasional negara lain dan para pendukungnya, keberadaan mereka di turnamen juga bukan sebuah hal yang dipaksakan.
Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan keberadaan Arab Saudi dan Qatar di guliran yang terlihat nyata sangat dipaksakan. Patut untuk diingat, kedua kesebelasan ini memang mendapatkan banyak kemudahan dari Induk Sepak Bola Asia ketika mereka menjalani fase kualifikasi lalu.
Termasuk di antaranya adalah, pemberian jatah tuan rumah ronde keempat kepada Arab Saudi dan Qatar yang tentu saja sangat menguntungkan keduanya.
Saya sendiri berpendapat, semisal tuan rumah ronde keempat kemarin ditetapkan di tempat yang netral, Arab Saudi dan Qatar ini belum tentu bisa lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 ini.
Karena dalam catatan saya, jika keduanya tak dijadikan tuan rumah dan penempatan unggulan sesuai dengan kaidah umum berdasarkan peringkat dunia, di ronde keempat kemarin keduanya bisa saja berada di satu grup dan bakal saling jegal.
Kok bisa? Tentu saja bisa. Jika AFC tak menganakemaskan kedua tim ini, peta drawing pembagian pot unggulan sudah pasti akan sangat berbeda dengan yang kemarin kita lihat.
Pada drawing pembagian pot unggulan, AFC sendiri menyatakan bahwa mereka berpedoman pada rilisan "Peringkat Spesial FIFA" di bulan Juni 2025. Sehingga pada akhirnya, Qatar dan Arab Saudi berada pada satu pot unggulan karena menempati dua peringkat teratas dalam kumpulan enam tim yang menjadi kontestan di ronde keempat.
Keuntungan yang didapat oleh kedua tim ini pun tak main-main. Karena sama-sama berada di pot unggulan pertama, Qatar maupun Arab Saudi dipastikan tak tergabung dalam satu grup.
Padahal jika kita melihat rilisan peringkat FIFA di bulan September 2025, terjadi perubahan peringkat dunia FIFA yang konstelasinya bisa mengacaukan skenario rancangan AFC untuk mengorbitkan dua anak emasnya itu ke level dunia.
Berdasarkan data yang ada di laman FIFA, Irak yang tampil apik di periode Juni-September, sukses mengudeta Arab Saudi dari peringkat 58 FIFA dan menggesernya satu strip ke bawah.
Sehingga, jika AFC fair, seharusnya dua negara yang menjadi tuan rumah atau masuk di pot unggulan pertama adalah Qatar dan Irak, bukan Qatar dengan Arab Saudi.
Sehingga, jika hal itu terjadi, tentu saja dalam pembagian grup ronde keempat kemarin, Qatar dan Arab Saudi berpotensi untuk berada dalam satu grup.
Tapi, apa yang terjadi? Seperti yang sudah kita ketahui, segala sportivitas dunia sepak bola Benua Kuning saat itu digadaikan sepenuhnya oleh AFC demi bisa mengirimkan dua anak emasnya ini ke panggung dunia. Dengan pengondisian yang sejatinya sudah tercium oleh khalayak, AFC memberikan segala kemudahan kepada duo tim asal Timur Tengah itu.
Sebuah keputusan yang tentunya sangat patut untuk disesali oleh mereka yang waras akal dan pikirannya. Pasalnya, dengan memaksakan Qatar dan Arab Saudi yang belum tentu memiliki kekuatan terbaik dari enam negara yang bertarung di ronde keempat kemarin, hal itu pada akhirnya hanya membuat persepakbolaan Asia menuai malu yang mendalam.
Ketika tim-tim lain seperti Jepang, Korea Selatan, Australia dan Iran sukses memberikan kejutan dan berusaha keras untuk tetap menjaga marwah persepakbolaan Benua Kuning di pentas global, di sisi lain dua anak emas AFC itu justru menjadi tim yang membuat wajah sepak bola Asia dipermalukan.
Hingga saat ini, corengan enam gol tanpa balas dan empat gol tanpa balas yang diderita oleh Qatar maupun Arab Saudi, tercatat menjadi hasil paling buruk yang dituai oleh wakil Asia di gelaran.
Ah, sepertinya apa pun yang dipaksakan memang tak baik ya. Buktinya, Qatar dan Arab Saudi yang dipaksakan bermain di Piala Dunia oleh "Papa AFC" malah jadi objek bulan-bulanan sang lawan.