Hobi

AFC Harusnya Malu, Negara yang Mereka Anak Tirikan Justru Jadi Penjaga Marwah Sepak Bola Asia

AFC Harusnya Malu, Negara yang Mereka Anak Tirikan Justru Jadi Penjaga Marwah Sepak Bola Asia
Pertandingan antara Yordania melawan Aljazair di Piala Dunia 2026 (dok. FIFA)

Berakhirnya matchday kedua fase penyisihan grup gelaran Piala Dunia 2026 semakin memberikan tamparan telak kepada Induk Sepak Bola Benua Asia, AFC. Bagaimana tidak, negara-negara yang selama ini menjadi anak emasnya di persepakbolaan konfederasi, ternyata tak mampu berbuat apa-apa dan hanya menyisakan malu karena hasil buruk yang mereka derita.

Seperti yang kita ketahui bersama, dalam persepakbolaan benua Asia, AFC sendiri memang selama ini kerap menganakemaskan negara-negara yang berasal dari kawasan Asia Barat. Sehingga tak mengherankan jika dari sembilan negara yang menjadi perwakilannya di perhelatan Piala Dunia 2026 ini, lima di antaranya berasal dari kawasan ini, termasuk Qatar dan Arab Saudi. Namun pada kenyataannya, mereka justru kompak menjadi aib dan menunjukkan ketidaklayakannya di pentas global.

Seperti terbagi dalam dua kubu, negara-negara Arab yang selama ini kerap mendapatkan "Servis Memuaskan" dari AFC berada di kubu yang membuat malu, sementara di sisi lain, negara-negara yang selama ini terkesan dianaktirikan oleh konfederasi, justru menjadi penggendong marwah persepakbolaan benua Asia di pentas dunia.

Wakil Arab Hancur Lebur, Kawasan Lain Tampil Sangat Menghibur

Berdasarkan data dari laman FIFA, dua negara Arab yang selama ini menjadi anak emas AFC seperti Qatar dan Arab Saudi, mendapatkan hasil yang sangat mengecewakan pada matchday kedua ini.

Alih-alih kembali menuai poin seperti laga sebelumnya, kedua negara bertetangga itu justru dilumat oleh lawan-lawannya dengan skor telak. Setelah Qatar digasak Kanada dengan skor enam gol tanpa balas, pada hari berikutnya giliran Arab Saudi yang dihantam empat gol tanpa balas dari Spanyol.

Pun demikian halnya dengan pada matchday ketiga. Qatar yang berhadapan dengan kekuatan semenjana benua Eropa sekelas Bosnia dan Herzegovina, kembali menuai kekalahan yang pada akhirnya melengkapi penderitaan mereka di pentas Piala Dunia 2026 ini.

Selain Arab Saudi dan Qatar, satu negara dari kawasan Arab lainnya yang juga tampil buruk adalah Yordania, di mana dari dua pertandingan yang telah dijalani semuanya berujung dengan kekalahan. Baik ketika melawan Austria dan Aljazair, Yordania selalu saja mendapatkan hasil minor.

Bahkan, menurut prediksi saya, negara yang baru merasakan debut di pentas dunia pada edisi kali ini tersebut bisa saja mengantongi hat-trick kekalahan karena bakal berhadapan dengan Argentina di partai pamungkas grup (28/6/2026).

Pun demikian halnya dengan Irak. Meskipun mereka bukanlah negara yang masuk dalam barisan anak emas AFC, namun karena status mereka yang berasal dari kawasan Arab yang notabene menjadi kawasan favorit dari AFC, membuat induk sepak bola benua Asia itu harusnya menuai malu karena keputusan-keputusan diskriminatif yang selama ini terkesan begitu memprioritaskan tim-tim dari kawasan ini.

Uniknya, ketika negara-negara yang berasal dari kawasan Asia Barat babak-belur, di sisi lain para wakil Asia yang berasal dari kawasan "anak tiri" AFC justru tampil trengginas dan menjadi penyelamat wajah persepakbolaan Benua Kuning.

Jepang dan Korea Selatan yang meskipun statusnya adalah negara raksasa persepakbolaan benua, juga beberapa kali mendapatkan perlakuan diskriminatif dari AFC, dapat dikatakan tampil cukup baik di persaingan grup masing-masing. Bahkan, hingga saat ini, menurut perhitungan yang ada, keduanya masih memiliki kans yang cukup besar untuk bisa lolos ke fase selanjutnya.

Korea Selatan yang menghuni Grup A, kini berada di posisi kedua klasemen sementara dengan koleksi tiga poin. Meskipun di partai pamungkas melawan Afrika Selatan mereka menelan kekalahan, namun dengan tiga poin yang mereka dapatkan saat ini, membuat mereka masih berpeluang lolos ke fase gugur dari skema tim peringkat ketiga terbaik.

Lantas, bagaimana dengan Jepang? Kalau tim yang satu ini, tak usah ditanyakan lagi. Penampilan impresifnya di dua laga melawan Belanda dan Tunisia, seperti memberikan sebuah jaminan bahwa tim ini berpotensi untuk menjadi tim kuda hitam di turnamen.

Bahkan, saya sendiri berpendapat, Jepang di Piala Dunia ini akan menjadi wakil benua Asia yang melaju paling jauh di turnamen, mengingat etos bertarung yang mereka tunjukkan di dua pertandingan kemarin.

Selain Korea Selatan dan Jepang, Australia yang menjadi "Anak Bungsu" dari AFC juga tak kalah mengilap penampilannya di turnamen. Meskipun mereka kandas di pertarungan kedua melawan Amerika Serikat, namun mereka hanya memerlukan hasil imbang saja di partai pamungkas melawan Paraguay (26/6/2026). Sebuah hasil yang tentunya tak terlalu muluk, mengingat mereka pernah menjungkalkan tim sekelas Turki di laga pertama kemarin.

Meski Bermain di Kandang Musuh Negara, Iran Masih Menjaga Napas di Piala Dunia

Selain duo tim Asia Timur dan Australia si Anak Bungsu yang menggendong marwah persepakbolaan Benua Asia di pentas Piala Dunia 2026 ini, sebenarnya masih ada satu lagi tim bukan anak emas AFC yang juga menjadi penyelamat wajah persepakbolaan benua ini, yakni Timnas Iran.

Meskipun tim dari Negeri Para Mullah ini harus bertarung di Amerika Serikat yang mana saat ini sedang berkonflik dengan mereka, namun Iran menunjukkan semangat bertarung yang tak kenal rasa takut. Seperti barisan petarung Persia para leluhurnya dahulu, Timnas Iran sama sekali tak grogi meski harus tampil di kandang musuh dari negaranya itu.

Bahkan, dalam konstelasi persaingan Grup G saat ini, Iran juga masih memiliki peluang besar untuk lolos ke fase berikutnya, meskipun di dua pertandingan pertama kemarin mereka hanya mampu menuai dua hasil imbang saja.

Dengan kenyataan ini, AFC seharusnya terkungkung rasa malu yang berkepanjangan. Pasalnya, negara-negara yang mereka berikan beragam kemudahan dan bantuan, justru kini menjadi aib di turnamen sepak bola paling akbar sejagat raya ini.

Sementara Iran, Jepang, Korea Selatan dan Australia yang selama ini kerap menjadi anak tiri AFC di konfederasi, justru mampu bermain dengan apik dan menjadi penyelamat marwah persepakbolaan Asia di mata dunia.

Kalau sudah seperti ini, malu gak tuh,  si AFC?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda