Hobi
Berbekal Mental Baja, Mampukah Inggris Redam Argentina di Semifinal?
Perjalanan tim nasional Inggris menuju babak empat besar Piala Dunia 2026 dipenuhi dengan drama dan perjuangan yang luar biasa. Setelah berhasil melewati berbagai ujian besar, kini The Three Lions dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih berat, yaitu mampukah mereka meredam kekuatan raksasa Amerika Selatan, Argentina, di babak semifinal nanti?
Banyak pihak menilai bahwa kelolosan armada Thomas Tuchel hingga ke semifinal ini tidak dicapai dengan mudah. Setiap laga yang mereka lalui di fase gugur selalu menghadirkan rintangan berat yang menguji mentalitas serta daya juang para pemain di atas lapangan hijau.
Mantan bek legendaris Chelsea dan kapten timnas Inggris, John Terry, memberikan pandangannya mengenai laju impresif negaranya tersebut. Terry mengagumi ketangguhan mental skuad asuhan Thomas Tuchel yang selalu menemukan jalan keluar di saat-saat kritis.
"Yang saya sukai dari tim Inggris saat ini adalah kami selalu berhasil melewati momen-momen besar. Kami memang punya tim yang bagus, tetapi rasanya semuanya sedang berpihak kepada kami. Rasanya inilah waktunya Inggris," ujarnya, sebagaimana diungkap Antara News pada Selasa (14/7/2026).
Jika menengok ke belakang, ketangguhan mental ini terlihat jelas sejak babak 32 besar. Menghadapi Republik Demokratik Kongo, Inggris sempat tertinggal satu gol hingga menit ke-74 sebelum akhirnya mampu bangkit dan membalikkan keadaan menjadi kemenangan tipis 2-1.
Kegemilangan tersebut berlanjut saat mereka harus meladeni tuan rumah Meksiko di fase berikutnya. Bermain di Stadion Azteca yang terkenal angker bagi tim tamu, Inggris secara luar biasa berhasil menundukkan sang tuan rumah dengan skor ketat 3-2, mengakhiri rekor tak terkalahkan Meksiko di stadion legendaris tersebut selama perhelatan Piala Dunia.
Teranyar, di babak perempat final, anak asuh Tuchel sukses meredam Norwegia yang diperkuat oleh penyerang tajam Erling Haaland. Melalui drama perpanjangan waktu yang menguras energi, Inggris menyudahi perlawanan Norwegia dengan skor akhir 2-1 untuk menyegel tiket semifinal.
Menguji Konsistensi di Balik Kegemilangan Jude Bellingham
Di balik kesuksesan kolektif tersebut, perhatian publik tertuju pada performa gemilang Jude Bellingham. Pemain muda berusia 23 tahun itu tampil luar biasa mengawal lini tengah Inggris dan kini telah mengoleksi enam gol sepanjang turnamen berlangsung.
Kontribusi vital Bellingham membuatnya bersanding dengan kapten Harry Kane yang berusia sembilan tahun lebih tua darinya sebagai pilar terpenting tim saat ini. John Terry bahkan tidak ragu membandingkan Bellingham dengan legenda besar sepak bola Prancis.
Terry menyebut bahwa gaya bermain dan pengaruh Bellingham di lapangan sangat mengingatkannya pada sosok Zinedine Zidane. Legenda Prancis tersebut dikenal sukses membawa negaranya merengkuh trofi juara dunia pada tahun 1998 serta memimpin tim hingga laga final pada edisi 2006.
Kendati demikian, sorotan tajam tetap mengiringi langkah Inggris ke babak semifinal karena permainan mereka yang dinilai belum konsisten. Kritik datang dari berbagai arah.
Mulai dari aspek taktik, mentalitas, serta keseimbangan tim yang dinilai masih kurang rapi, egois, kurang efektif, dan belum menunjukkan urgensi tinggi di lapangan. Bahkan, Thomas Tuchel selaku manajer secara terbuka mengakui ketidakpuasannya dan menyebut timnya masih dinaungi faktor keberuntungan dan belum tampil maksimal.
Tantangan sesungguhnya kini ada di depan mata karena Argentina datang dengan catatan performa yang jauh lebih solid, rapi, dan stabil. Di laga sebelumnya, tim Tango sukses menumbangkan Swiss dengan skor meyakinkan 3-1, didukung oleh keunggulan statistik berupa dominasi operan, akurasi umpan yang sangat tinggi, serta produktivitas gol yang matang.
Peluang Inggris untuk meredam kekuatan Argentina sangat bergantung pada kedisiplinan taktis dalam menutup ruang di lini tengah guna merusak ritme permainan lawan sejak menit awal. Jika gagal meredam dominasi penguasaan bola Argentina, Inggris dipastikan akan dipaksa bertahan sangat dalam dan menghadapi risiko kebobolan yang amat besar.
Pada akhirnya, laga semifinal ini diprediksi akan berlangsung sangat sengit dengan Argentina yang sedikit lebih diunggulkan berkat konsistensi permainan mereka yang rapi sepanjang turnamen. Mampukah Inggris membuktikan disiplin taktis serta efisiensi serangan balik mereka untuk meredam dominasi Argentina, ataukah mimpi indah The Three Lions harus kandas di tangan tim Tango?