“Bunyi air di ujung teralun samar, tertata ritmis bunyi terdengar. Warna suara yang akrab dijumpai, namun menjadi tak terkenali ketika ditata rapi. Celoteh gembira mengiringinya, lantunan lagu mengilhaminya. Pengejawantahan akan bunyi lingkungan, menjadi artikulasi berbeda ketika dimainkan. Peristiwa musikalpun terjabarkan, atas ejaan hasil tangkapan pikiran. Tersajikan dengan begitu suka, hingga mampu membuat hati terpana. Semoga senantiasa terjaga!”
Geografis suatu daerah mempengaruhi ihwal sebuah kesenian. Misalnya, daerah dengan letak geografis kaya akan bambu, akan melahirkan sebuah kesenian yang berkenaan dengan bambu. Daerah dengan letak geografis laut, akan melahirkan kesenian yang berkenaan dengan laut, dan sebagainya. Kesenian yang terlahir tidak melulu mengenai instrumen, bisa saja berwujud konsep sajian, latar belakang kesenian, dan lainnya. Perisitiwa tersebut berlaku bagi kebanyakan kesenian, tak terkecuali Kesenian Ciblon.
Letak geografis yang kaya akan sumber mata air (disebut umbul) melahirkan kesenian yang berkenaan dengan air. Kesenian Ciblon merupakan sebuah kesenian musik yang hanya bisa dimainkan dengan media air. Kesenian ini biasanya dimainkan oleh beberapa orang (minimal 4 orang) dengan cara menamparkan telapak tangan ke air hingga terlahir sebuah bunyi.
Teknik tamparannya berbeda-beda, ada yang vertical dari bawah ke atas, dari atas ke bawah, serta horizontal, agar hasil bunyi yang dilahirkan juga beraneka warna. Biasanya, para pemain membuat lingkaran di umbul dan masing-masing orang memainkan pola yang berbeda-beda. Setelah ritme terbentuk dan warna suara yang diinginkan terdengar dengan jelas, lagu (biasanya lagu dolanan) akan berkumandang mengisi ruang ritmis yang tengah terjalin.
Ihwal dinamakan Kesenian Ciblon menurut cerita yang beredar didasarkan pada bunyi kendhang Ciblon; tak, tung, tlang, dah. Setidaknya, empat macam warna bunyi tersebut yang biasa terdengar dalam kendhang ciblon, pun dalam Kesenian Ciblon. Dalam ihwal yang lain, didasarkan pada aktivitas mandi di sungai atau umbul yang dalam Bahasa Jawa disebut ciblon. Nama aktivitas ciblon ini kemudian diadaptasikan kepada Kesenian Ciblon.
Kesenian Ciblon bagi masyarakat Desa Pluneng, Klaten, menjadi kesenian primadona. Selain ditopang karena keberadaan air, kesenian ini juga menjadi media bagi masyarakat dalam mewujudkan rasa syukurnya. Terbukti atas adanya “Syukuran Banyu” di desa tersebut. Dalam acara tersebut, Kesenian Ciblon menjadi kunci krusial untuk dilantunkan, menjadi sarana doa untuk dikumandangkan. Dengan fungsi krusial Kesenian Ciblon yang mendalam tersebut, kiranya kesenian ini akan senantiasa dilestarikan.
Lingkungan
Alam senantiasa menjadi guru serta inspirasi manusia dalam berkehidupan. Alam memberikan sebuah gambaran makro untuk manusia yang kemudian dimaknainya menjadi mikro. Pengejawantahan atas makna yang didapat dari alam menjelma menjadi berbagai macam bentuk karya, salah satunya adalah musik.
Suka Hardjana mengungkapkan, “Suatu proses pertemuan antara manusia dan alam yang menghasilkan karya seni musik, ketika bunyi asli yang bersumber pada alam diartikulasikan menjadi bunyi buatan yang artistic, sehingga baik bunyi alam yang asli maupun hasil kerja manusia menjadi bahasa seni, yaitu bahasa musik.” Hal ini sependapat dengan Plato. Menurut Plato, karya seni hanyalah tiruan dari realita yang ada: realita yang ada adalah tiruan (mimesis) dari yang asli.
Menengarai mengenai lingkungan alam serta proses mimesis manusia terhadap alam, Kesenian Ciblon menjadi salah satu contohnya. Ihwal mengenai nama Kesenian Ciblon salah satunya didasarkan pada aktivitas ciblon yang dilakukan oleh masyarakat. Secara subyektif, aktivitas ciblon ini menghasilkan bunyi-bunyian alami yang tidak disengaja lahir atas aktivitas itu.
Sedangkan, ketidaksengajaan bunyi-bunyian yang hadir secara alami ini memiliki kesamaan seperti bunyi yang dihadirkan oleh Kesenian Ciblon. Rekaman atas pengalaman emperik bebunyian dari aktivitas ciblon itu kiranya diejawantahkan oleh manusia dan ditata sedemikian rupa menjadi Kesenian Ciblon. Terlebih lagi, media yang digunakan juga sama, yakni air. Kesenian Ciblon hanya bisa dimainkan dengan media air.
Eko-musik
Kesenian Ciblon menjadi wujud dari pengejawantahan manusia atas gambaran makrokosmos yang begitu kompleks. Kesenian ini menjadi istimewa karena media yang digunakan adalah keberadaan alam itu sendiri. Ditambah, keberadaan Kesenian Ciblon begitu didambakan oleh masyarakatnya, sehingga secara tidak langsung akan berdampak pada penjagaan lingkungan itu sendiri. Lestarinya Kesenian Ciblon mampu menyongsong lestarinya lingkungan, khususnya umbul.
Ciblon menjadi sebuah cawan yang meleburkan musik dan juga lingkungan, di mana hubungan satu dan lainnya saling terikat. Kiwari, seksi sekali mengenai topik musik dan lingkungan, di mana musik ataupun tonik digunakan sebagai media menyuarakan kelestarian lingkungan. Dalam hal ini, bidang terkait hal tersebut adalah ekomusikologi.
Allen (2014) mengungkapkan bahwa ekomusikologi sebagai studi tentang musik, budaya, dan alam dalam kompleksitas istilah tersebut. Pertimbangan masalah musik dan sonik baik secara tekstual maupun perfomatif, terkait dengan ekologi serta lingkungan alam. Selain itu, ekomusikologi dapat dipahami sebagai studi tentang musik, budaya, suara, dan alam dalam periode krisis lingkungan (Allen: 2011).
Dewasa ini, kita dapat menyaksikan betapa pemerasan serta eksploitasi akan alam begitu massif dilakukan. Kita dapat melihat adanya penebangan pohon besar-besaran, perampasan hutan, berkurangnya lahan hijau yang begitu dibutuhkan untuk keberlangsungan kehidupan. Sedangkan, kita tahu bahwa tidak adanya pohon akan berakibat fatal terhadap kehidupan manusia. Salah satu akibatnya adalah pada keberadaan air.
Dalam hal ini, salah satu arah dari ekomusikologi adalah kelestarian lingkungan. Kesenian Ciblon menjadi salah satu cerminan atas kesenian berbasis ekologi yang sudah dimiliki oleh nusantara. Keberadaan kesenian ini secara tidak langsung menjadi bentuk dukungan atas kelestarian lingkungan.
Kesenian Ciblon menjadi salah satu bentuk “kritik” bahwa keberadaan lingkungan menjadi penting untuk keberlangsungan kesenian. Dengan begitu, sudah sepatutnya kita menjaga kelestarian keduanya: menjaga kelestarian Kesenian Ciblon untuk mendukung kelestarian lingkungan.
Alam merupakan jelmaan dari sebuah cermin raksasa, di mana apa yang kita perbuat akan menghasilkan sebuah akibat yang kurang lebih sama. Tinggalan-tinggalan atas kesenian yang selaras dengan alam tersebar di berbagai penjuru nusantara. Sudah selayaknya kita jaga dan kita tangkap makna tersebut.
Saat ini, kita cenderung dihadapkan pada krisis lingkungan yang marak terjadi di sekitar kita. Kesenian Ciblon menjadi salah satu cermin untuk kita berkaca. Kesenian Ciblon menjadi sebuah terminal untuk menimbulkan sebuah kesadaran akan alam. Di mana kita hidup dan tertopang atas keberadaan alam itu sendiri. Semoga kelestarian alam senantiasa bermekaran.