facebook

Tawuran, Polemik yang Tak Kunjung Selesai

Victor Suryaman
Tawuran, Polemik yang Tak Kunjung Selesai
Ilustrasi tawuran antarwarga. Polisi meringkus enam pelaku tawuran di Belawan, Kota Medan. Tawuran tersebut diketahui terjadi pada Rabu (21/7/2021) dini hari. [Antara]

Tawuran, tawuran, dan tawuran, seakan tidak habis-habisnya di negeri kita tercinta ini. Setiap tahunnya dapat dipastikan aksi tawuran selalu terjadi di berbagai sekolah di beberapa daerah. Mengutip dari Komisioner Pendidikan KPAI pada artikel bertajuk “KPAI Rilis Data Perundungan Selama 2021, Tawuran Pelajar Paling Banyak”, disebutkan bahwa kasus tawuran meliputi 11 provinsi seperti  Jawa Barat, Jawa Timur, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Banten, Kepulauan Riau, Sulawesi tenggara, Kalimantan Utara, NTT, NTB dan Sumatera Selatan.  

Tidak sedikit kasus tawuran yang menimbulkan korban, mulai dari korban luka hingga korban jiwa. Mirisnya, hal itu terjadi pada anak-anak di bawah umur. Ini membuat orang bertanya-tanya apakah sekolah, sistem dan metode pendidikan tak mampu mengatasi kasus pelik ini.

Sistem pendidikan di bumi pertiwi ini masih menjalankan kurikulum 2013 yang merupakan pembaharuan dari versi sebelumnya. Melihat lebih dalam, ada empat kompetensi inti yang menjadi tuntutan kurikulum ini, secara tidak langsung pelajar harus mampu menguasai keempat kompetensi tersebut.

Pelajar yang terikat kurikulum 2013 ini dituntut sekolah menguasai kompetensi sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Selain pelajar mengejar nilai dan kemampuan praktiknya, mereka juga harus memperbaiki akhlaknya, agama, serta sikap bersosial. Sejatinya kurikulum ini menegaskan aspek-aspek yang mungkin tidak tertulis pada versi sebelumnya agar menjadi jelas dan terang untuk diimplementasikan.

Namun pertanyaannya, mengapa tawuran masih terjadi padahal sistem sudah memperhatikan segala aspek demi membentuk generasi bangsa yang lebih berkarakter? Apakah memang belum cukup semua itu untuk menihilkan keinginan dan nafsu para pelajar melakukan aksi tawuran?

Sederhananya jika seseorang sudah baik, akhlaknya, agamanya, sikapnya terhadap guru, orang tua, dan sesama teman, mestinya sudah tidak ada keinginan untuk tawuran. Namun, ternyata tidak semudah itu. Konflik yang bernama tawuran ini sangat komplek. Ia sulit ditelusuri jejaknya. Permainan mereka begitu lihai, hingga sekolah kesulitan untuk mencegahnya.

Tawuran tidak sebatas rundung-merundung, balas-membalas, dan dendam-mendendam. Sekolah siapa yang lebih hebat, sampai melaksanakan tradisi turun-temurun meperebutkan juara bertahan tawuran. Ketidakakuran sekolah kakak dan sekolah adek, biasa terjadi di sekolah negeri disebabkan perluasan sekolah tidak di satu bidang tanah dan jaraknya tidak dekat dan juga tidak terlalu jauh. Dibentuklah sebuah nama baru pada hasil perluasan sekolah itu agar pembelajarannya menjadi efektif.

Lebih rumit lagi, pemeran tawuran mempunyai beragam latar belakang. Anak kurang beruntung yang kerap menjadi korban pemalakan, anak yang orangtuanya keras, dipertontonkan adegan kekerasa ayah terhadap ibunya, orang tua yang tidak begitu peduli urusan sekolah anaknya tetapi sibuk mencari uang dengan anaknya. 

Mau tidak mau mereka mencari perhatian di sekolah, berusaha menumbuhkan rasa empati dan solidaritas. Menjadi pembela temannya yang lemah dari aksi pemalakan dan perundungan yang dilakukan anak sekolah lain. Mereka berpikir ini adalah tindakan kepahlawanan.

Bertanding dengan sekolah rival, memenangkan nama sekolah agar tak disebut pecundang. Malu rasanya jika disebut seperti itu, tidak ada kegagahan pada seragam sekolah yang dikenakan. Tapi ia bersekolah di sana. Hingga akhirnya berusaha menunjukkan jati diri sebagai sekolah hebat melalui pertempuran ilegal.

Tak ada yang salah pada tujuan dan semangatnya. Kesalahan fatal terletak pada cara mereka mewujudkan rasa empati, solidaritas, memenangkan nama sekolah. Mereka tahu sekolah hanya bisa dipandang hebat di meja olimpiade, lomba, dan masuk catatan baik di kertas pemerintah daerah. Tapi keadaan membuat mereka terombang-ambing hasutan dunia bawah yang gelap.

Ceramah-ceramah lisan di sekolah sering diperdengarkan agar pelajar menjauhi aksi tawuran. Belum cukup sampai di situ, peran guru sebagai mata-mata antar sekolah yang sering terlibat diperlukan. Informasi dan kerjasama yang didapat bisa menjadi sarana efektif untuk mencegah pertemuan dua kubu pelajar yang berebut kemenangan semu.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak