facebook

Pengungsi di Eropa, Permasalahan yang Tak Kunjung Selesai

Muhammad Aditya Riyadi
Pengungsi di Eropa, Permasalahan yang Tak Kunjung Selesai
Pengungsi Ukraina mengantre untuk mendapatkan satu dari 100 janji harian di Kantor Dokumentasi untuk mengajukan permohonan perlindungan sementara yang disetujui oleh Uni Eropa yang mengizinkan tempat tinggal dan izin kerja, di Torrevieja, Spanyol, Selasa (15/3/2022). [REUTERS/Eva Manez/HP/djo REUTERS/EVA MANEZ]

Pengungsi merupakan salah satu permasalahan yang menjadi perhatian pada saat ini. Munculnya pengungsi ini pada umumnya disebabkan oleh beberapa faktor seperti bencana alam, kerusuhan di suatu negara, perlakuan diskriminatif, tindakan genosida, hingga peperangan.

Permasalahan ini telah terjadi di seluruh dunia, tidak terkecuali di Eropa. Berdasarkan data dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), di seluruh dunia terdapat 26,6juta pengungsi pada pertengahan 2021 dan 48juta pengungsi internal (akibat konflik) pada akhir tahun 2020, dimana pengungsi di Uni Eropa adalah 0,6% dibandingkan dengan total populasi. 

Selain itu, menurut data United Nations Children's Fund (UNICEF), antara Januari-Juni 2021, lebih dari 55.000 pengungsi dan migran (yang dimana 24 persen adalah anak-anak) tiba di Eropa dan kemungkinan akan berlanjut hingga sisa tahun 2021. Italia mencatatkan lebih dari 20.000 pendatang baru pada paruh pertama tahun 2021, melampaui sumber daya yang ada. Sebanyak 88.000 anak tinggal di camp dan dalam perjalanan memerlukan perlindungan dan perawatan mendesak pada tahun 2021. Jerman menjadi negara tujuan utama bagi para pengungsi.

Jerman juga merupakan negara dengan jumlah pengungsi terbanyak di Uni Eropa. Pada tahun 2020, UNHCR melaporkan Jerman menampung sekitar 1,2juta pengungsi, 243.200 pencari suaka, dan 26.700 orang tanpa kewarganegaraan. Sebagai organisasi yang menaungi negara-negara di Eropa, Uni Eropa telah berupaya untuk menyelesaikan masalah pengungsi menggunakan serangkaian cara. Cara-cara tersebut adalah:

  1. Mengatasi akar penyebab. Uni Eropa berupaya mengatasi akar penyebab arus pengungsi, sehingga lebih sedikit orang yang datang ke Eropa. Uni Eropa juga bekerja untuk membantu pencapaian perdamaian pada sejumlah negara.
  2. Penerimaan di daerah asal. Uni Eropa mendukung penerimaan pengungsi di wilayah asal sehingga orang-orang tidak harus melaksanakan perjalanan berbahaya dan dapat kembali ke negara mereka dengan lebih mudah setelah aman untuk melaksanakannya. Hal ini dilakukan dengan berbagai cara, seperti membangun kamp penerimaan, memberikan pendidikan untuk anak-anak, dan perawatan medis.
  3. Memerangi penyelundupan manusia. Uni Eropa melalui Europol (badan penegak hukum Uni Eropa), Interpol (organisasi polisi kriminal internasional) dan Frontex (badan penjaga pantai dan perbatasan Eropa) mendukung negara-negara anggota, misalnya dengan mengidentifikasi jaringan penyelundupan dan memberikan informasi untuk penyelidikan.
  4. Memperkuat perbatasan luar Wilayah Schengen. Uni Eropa melalui Frontex membantu menjaga perbatasan luar Uni Eropa. Selain itu, negara-negara Uni Eropa di perbatasan eksternal Schengen akan meningkatkan upaya mereka untuk menjaga perbatasan dengan tujuan untuk menghentikan masuknya migran yang tidak terkontrol.
  5. Penerimaan dan pendaftaran pengungsi di perbatasan luar Uni Eropa. Uni Eropa membantu Yunani dan Italia dengan penerimaan dan pendaftaran pengungsi di perbatasan eksternal Uni Eropa. Mendaftarkan informasi terperinci seperti itu berarti bahwa pihak berwenang dapat menentukan kapan dan di mana seorang pengungsi memasuki Uni Eropa.
  6. Suaka atau kembali. Seluruh pengungsi yang memasuki Uni Eropa dapat mengajukan permohonan suaka pada negara tempat mereka memasuki Uni Eropa. Namun, pencari suaka yang tidak memerlukan perlindungan diharuskan untuk kembali ke negara asalnya atau ke negara ketiga yang aman.

Semenjak tahun 1999, Uni Eropa telah membentuk Common European Asylum System (CEAS). Pada tahun 2020, Komisi Eropa mengusulkan untuk mereformasi sistem melalui pendekatan komprehensif terhadap kebijakan migrasi dan suaka berdasarkan tiga pilar utama, yaitu prosedur suaka dan pemulangan yang efisien, solidaritas dan pembagian tanggung jawab yang adil, dan memperkuat kemitraan dengan negara-negara ketiga.

Baru-baru ini, invasi Rusia ke Ukraina diketahui telah menyebabkan krisis pengungsi pada negara-negara yang berada sekitarnya. Melansir data dari BBC News, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa lebih dari 14 juta orang diperkirakan sudah meninggalkan rumah mereka semenjak invasi Rusia ke Ukraina, sekitar enam juta telah pergi ke negara-negara tetangga, dan delapan juta orang mengungsi di dalam negara yang dilanda perang itu sendiri. Dalam kasus ini, Uni Eropa sendiri telah memberikan hak kepada Ukraina untuk tinggal dan bekerja di 27 negara anggotanya hingga tiga tahun. 

Para pengungsi ditempatkan di pusat-pusat penerimaan apabila mereka tidak bisa tinggal dengan teman atau kerabat. Mereka diberikan makanan, perawatan medis, dan informasi tentang perjalanan selanjutnya. Selain itu, mereka berhak atas pembayaran kesejahteraan sosial dan akses ke perumahan, perawatan medis dan sekolah. Dengan serangkaian cara ini, diharapkan permasalahan pengungsi di Eropa dapat diselesaikan dengan baik. Namun, untuk mewujudkan hal ini tentu saja membutuhkan dukungan dari seluruh pihak yang terkait di dalamnya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak