Fenomena Guillermo Ochoa dan Pilih Kasih Media dalam Pemberitaan Sepakbola

zahir zahir
Fenomena Guillermo Ochoa dan Pilih Kasih Media dalam Pemberitaan Sepakbola
Kiper Timnas Meksiko, Guillermo Ochoa. [Yuri CORTEZ / AFP]

Piala Dunia 2022 yang berlangsung di Qatar memang baru berjalan beberapa hari. Akan tetapi, sudah memberikan beragam kisah yang tentunya menjadi beragam cerita tersendiri dalam setiap gelaran event paling bergengsi di dunia sepakbola ini. Salah satunya yakni fenomena kiper Guillermo Ochoa yang dianggap muncul setiap gelaran 4 tahun sekali ini.

Guillermo Ochoa dianggap sebagian orang awam sudah tidak bermain lagi lantaran tidak terdengar kabarnya di klub manapun. Namun, justru kiper andalan tim nasional Meksiko ini ternyata masih bermain aktif sebagai kiper di usianya yang baru 37 tahun.

Lantas apa yang unik ? hal ini tentunya merupakan fenomena yang cukup menarik dimana beberapa pemain atau bahkan liga-liga di belahan lain dunia seakan-akan kurang terdengar gaungnya di pemberitaan media massa. Bahkan, dalam kasus di netizen Indonesia mengira Guillermo Ochoa sudah tidak memiliki klub atau free agent. Akan tetapi, sebenarnya dia masih bermain untuk klub asal meksiko yakni Club America. Lantas mengapa hal ini bisa terjadi meski kemajuan teknologi informasi kian pesat di era sekarang ? kita akan sedikit mengulasnya dalam pembahasan berikut ini.

1. Terlalu Terfokus di Seputar Liga-liga Eropa

Premier League Sebagai Kasta Tertinggi Liga Eropa (unsplash/nathan rogers)
Ilustrasi gelaran sepakbola.(unsplash/nathan rogers)

Pemberitaan media massa di era kini seakan-akan hanya dimonopoli oleh klub-klub Eropa saja, atau bahkan hanya dikuasai oleh 5 liga teratas di Eropa. Liga-liga tersebut yakni Liga Inggris dengan Premier League, Liga Italia dengan Serie A, Liga Spanyol dengan La Liga, Liga Jerman dengan Bundesliga dan Liga Prancis dengan Ligue 1. Bahkan, 3 liga yang disebutkan tersebut pamornya masih dianggap lebih tinggi daripada Bundesliga dan Ligue 1, atau mungkin pemberitaan yang lebih radikal yakni adanya anggapan “hanya klub-klub yang memiliki nama besar yang akan diliput di media”. Tentunya anggapan ini bisa benar bisa pula tidak.

Baca juga: GRATIS Link Live Piala Dunia 2022 Maroko VS Kroasia Sore Ini

Hal ini tentunya membuat beragam liga-liga di belahan dunia lain menjadi kurang terekspose atau kurang mendapatkan pemberitaan di media, kecuali media dalam negerinya sendiri. Bahkan, beberapa liga lainnya yang masih berada di kawasan Eropa seperti Liga Belanda dengan Eredivisie dan Liga Portugal dengan Primeira Liga juga seakan akan tidak mendapatkan spot dari media. Padahal, liga tersebut juga dianggap sebagai liga papan atas di Eropa.

2. Keberadaan Pemain Bintang di Klub

Cristiano Ronaldo berseragam MU [Foto: ANTARA]
Cristiano Ronaldo berseragam MU [Foto: ANTARA]

Keberadaan pemain yang dianggap sebagai pemain bintang tentunya menjadikan klub atau liga tersebut kian disorot oleh media. Kita ambil contoh dalam 10 hingga 15 tahun terakhir persaingan antara mega bintang dunia sepakbola yakni Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi seakan-akan membuat pemain lainnya menjadi terpinggirkan dalam popularitas di media massa. Hal ini juga menjadi salah satu faktor penentu seringnya liga-liga top Eropa menjadi sorotan di media pemberitaan di berbagai belahan dunia.

Baca juga:  Piala Dunia Grup C: Runtuhnya Rekor Apik 92 Tahun Milik Argentina

Ketika pemain tersebut memilih untuk pindah atau berganti klub tentu akan memberikan pemberitaan mengenai klub baru atau liga barunya tersebut. Namun, hal ini sepertinya tidak terlalu terjadi apabila sang pemain yang dianggap sebagai mega bintang pindah ke klub dengan peringkat liga yang rendah atau pindah ke liga sebuah negara yang dianggap kurang begitu dikenal oleh orang awam. Salah satu contohnya yakni kepindahan Gareth Bale yang merupakan mantan pemain Real Madrid ke Los Angeles FC yang bermain di liga Amerika. Bahkan, mungkin orang awam tidak ada yang mengetahui kalau pemain tersebut sudah tidak berseragam Real Madrid sejak lama

3. Traffic Media Yang Membuat Pemberitaan Seakan-akan Terpusat di Sekitar Eropa

Ilustrasi Reporter Sepakbola (unsplash/feo con ganas)
Ilustrasi Reporter Sepakbola (unsplash/feo con ganas)

Tidak dapat dipungkiri bahwa traffic dalam media massa menjadi penentu lakunya sebuah berita di era modern ini. Pada kasus pemberitaan sepakbola, tentunya akan terpusat di sekitar liga-liga atau kejuaraan yang berlangsung di Eropa. Kita ambil contoh saja kejuaraan antar klub paling bergengsi di Eropa yakni UEFA Champions League hampir pasti menjadi trending di setiap media massa di belahan dunia. Dibandingkan dengan taraf liga sejenis seperti AFC Champions League di daratan Asia atau Copa Libertadores di Amerika Selatan. Secara kasta liga sebenarnya kedua liga tersebut sama dengan UEFA Champions League di Eropa, akan tetapi dari segi pemberitaan sangat jauh perbedaannya.

Baca juga: Arab Saudi Tekuk Argentina di Piala Dunia 2022, Raja Salman Umumkan Libur Nasional

Hal ini tentunya dipengaruhi kepentingan traffic dalam pemberitaan media massa yang lebih tertarik untuk memberitakan kompetisi di Eropa. Tentu dalam dunia jurnalistik semakin banyak massa yang tertarik untuk melihat atau menonton berita tersebut maka akan semakin besar pula traffic yang dicapai, sehingga pemberitaannya akan semakin laku.

Nah, itulah sedikit alasan mengapa pemberitaan media massa dalam dunia sepakbola hanya terpusat di Eropa saja. Tentunya belajar dari kasus unik Guillermo Ochoa yang dianggap hanya muncul 4 tahun sekali, yakni selama gelaran piala dunia saja sudah sedikit menggambarkan bagaimana peran media dalam membentuk pola pikir dari netizen di berbagai belahan dunia.

Video yang mungkin kamu lewatkan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak