suara hijau

Jejak Ketangguhan di Pesisir dan Resiliensi yang Tak Pernah Padam

Lintang Siltya Utami | Davina Aulia
Jejak Ketangguhan di Pesisir dan Resiliensi yang Tak Pernah Padam
Ilustrasi kapal-kapal nelayan di laut (Unsplash.com/ Rizal Maulana)

Di banyak tempat, pesisir sering digambarkan sebagai ruang yang rapuh, sebuah wilayah yang paling dulu merasakan dampak perubahan iklim, abrasi, atau laut yang tak lagi semurah hati dulu. Namun, ketika kita menjejakkan kaki di desa-desa pesisir, kita justru menemukan bagian-bagian yang mengharukan daripada sekadar narasi kerentanan. Di sana, kita menemukan ketangguhan, sebuah resiliensi yang tumbuh dari keseharian, dari kebersamaan, dan dari kemampuan manusia untuk terus hidup berdampingan dengan alam yang berubah.

Pesisir bukan hanya tentang badai yang datang tanpa aba-aba atau perahu yang tertambat lebih lama dari biasanya. Pesisir adalah tempat di mana manusia belajar membaca tanda-tanda, belajar bersabar, dan belajar saling menjaga. Di balik gelombang yang keras, tersimpan pelajaran berharga bahwa untuk bertahan, manusia tidak selalu harus melawan melainkan cukup menyesuaikan langkah.

Ketidakpastian yang Menempa, Bukan Meruntuhkan

Bagi masyarakat pesisir, ketidakpastian adalah bagian hidup yang tidak dapat dipisahkan. Setiap hari adalah pertemuan baru dengan laut. Terkadang ada hari yang tenang, tetapi ada pula hari ketika angin tampak membawa kabar yang tidak baik. Namun, alih-alih menyerah pada situasi, masyarakat pesisir justru menjadikan ketidakpastian itu sebagai ruang belajar.

Ketika laut sedang enggan memberi hasil, keluarga pesisir mengatur strategi lain. Sebagian mengolah ikan menjadi produk bernilai tambah, sebagian bekerja di daratan, dan sebagian lainnya memperbaiki perahu untuk menyiapkan hari berikutnya. Tidak ada hari yang benar-benar hilang, selalu ada cara untuk tetap bergerak.

Dari sini, kita belajar bahwa resiliensi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan untuk bangkit, tetapi juga kemampuan untuk menyesuaikan ritme dengan realitas. Masyarakat pesisir membuktikan bahwa ketidakpastian bukan akhir dari harapan, melainkan pintu bagi kreativitas dan ketabahan.

Ketangguhan yang Tumbuh dari Kebersamaan

Di pesisir, kebersamaan bukan hanya konsep sosial, tetapi kebutuhan hidup. Ketika cuaca berubah drastis dan seorang nelayan tidak bisa melaut, tetangga akan datang menawarkan bantuan. Saat badai menjemput tanpa ampun, semua orang turun tangan mengamankan perahu.

Hubungan antar manusia di pesisir adalah jaring halus yang menahan setiap individu agar tidak jatuh terlalu dalam. Mereka menjaga satu sama lain, bukan karena sekadar kewajiban, tetapi karena mereka tahu bahwa hidup di pesisir memang menuntut kebersamaan. Tidak ada yang bisa benar-benar bertahan sendirian.

Solidaritas inilah yang menjadi inti dari resiliensi kolektif. Bahwa ketangguhan tidak hanya muncul dari dalam diri seseorang, tetapi juga dari pelukan sosial yang membuat setiap orang merasa tidak berjalan sendiri.

Perempuan Pesisir: Suara Tenang di Tengah Riuh Gelombang

Tidak lengkap berbicara tentang ketahanan masyarakat pesisir tanpa menyebut perempuan yang menjadi penjaga keseharian. Di banyak keluarga, perempuan mengelola keuangan rumah tangga, mengolah hasil laut, mengatur kebutuhan anak, bahkan mengambil keputusan penting ketika suami belum kembali dari laut.

Perempuan pesisir adalah penenang rumah, penguat keluarga, sekaligus sumber stabilitas emosional. Mereka membawa ketangguhan dalam diam, tetapi justru dari diam itulah lahir kekuatan yang besar. Resiliensi keluarga pesisir banyak tumbuh dari ruang-ruang kecil yang dikelola perempuan. Dari dapur, beranda rumah, dan obrolan hangat di sore menjelang senja.

Menemukan Arti Ketangguhan yang Sebenarnya

Dari masyarakat pesisir, kita belajar bahwa ketangguhan tidak selalu penuh perlawanan. Terkadang, ketangguhan justru hadir dalam bentuk penerimaan untuk tetap berjalan meski jalannya berliku. Hadir dalam bentuk solidaritas kecil, mulai dari berbagi hasil tangkapan, menawarkan bantuan, atau sekadar menemani seseorang yang sedang cemas memikirkan hari esok.

Di pesisir, resiliensi bukan konsep abstrak. Itu nyata, hidup, dan terlihat dalam langkah-langkah manusia yang terus bangkit dari situasi sulit. Di setiap kampung nelayan, ada jejak ketangguhan yang ditinggalkan oleh mereka yang memilih untuk tidak berhenti berharap.

Pesisir mengajarkan kita bahwa meski gelombang terus datang, manusia selalu menemukan cara untuk tetap berdiri. Resiliensi mereka bukanlah nyala yang besar dan mencolok. Resiliensi itu adalah api kecil yang tak pernah padam dan menyala diam-diam. Cukup terang untuk menerangi jalan mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak