Pagi itu, seperti biasa, saya sedang bersiap sif pagi. Rutinitas ‘mendengarkan’ televisi, alih-alih menonton karena tidak bisa duduk tenang menikmati sajian berita pagi, satu berita membuat saya yang sedang hilir mudik di sekitar ruang keluarga, menghentikan langkah. Mata tertuju pada benda berukuran persegi panjang itu.
Ternyata, hujan seharian kemarin berdampak sangat serius. Telah terjadi bencana banjir dan tanah longsor di tiga provinsi di Pulau Sumatra, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Sebagai warga Sumatra Utara, saya pun segera mengambil ponsel dan mencari lokasi mana saja yang terdampak. Ya Allah, detik itu juga perasaan cemas datang menghujam saat teringat banyak rekan, sahabat, handai taulan berdomisili di daerah yang terdampak.
Berita pada penghujung November 2025 itu benar-benar menghentak. Mengingatkan kembali umat manusia untuk banyak hal yang mungkin alpa dilakukan sehingga alam memberikan pertanda bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Ia butuh perhatian yang tidak bisa dilakukan seorang saja, meski bergandengan tangan, bahu-membahu.
Bicara Data tentang Mereka yang Terdampak Bencana
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sampai Rabu, 24 Desember 2025 pukul 10.30 WIB, bencana ini telah mengakibatkan 1.112 orang meninggal, 176 orang hilang, dan sekitar 7 ribu orang terluka. Data ini tidak sekadar menunjukkan angka, tetapi juga air mata yang mengalir dari banyak pasang mata.
Berdasarkan data yang dikutip dari Katadata Media Network, jumlah korban jiwa dan orang hilang akibat bencana Sumatra berdasarkan wilayah sampai Rabu, 24 Desember 2025 pukul 10.30 WIB, wilayah Aceh menjadi daerah dengan jumlah korban jiwa tertinggi, yakni korban meninggal 483 orang dan hilang 32 orang.
Fasilitas Umum yang Tidak Lagi Bisa Digunakan
Data juga menghasilkan fakta bahwa secara keseluruhan, bencana Sumatra ini telah menyebabkan 158.096 rumah rusak. Tidak hanya rumah warga, kerusakan juga terjadi pada 1,9 ribu fasilitas umum, 875 fasilitas pendidikan, 806 rumah ibadah, 734 jembatan, 291 gedung kantor, dan 200 fasilitas kesehatan.
Melihat data yang tinggi ini, sejatinya bisa turut terbayang bagaimana keadaan yang dialami para warga selepas bencana. Fasilitas umum sudah hancur porak poranda, sehingga tidak lagi bisa dimanfaatkan. Dan keadaan ini bukan satu hal yang bisa diperlama proses perbaikannya karena berhubungan dengan kepentingan orang banyak.
Aceh Tamiang dan Kebutuhan Air Bersih yang Harus Sekarang
Pascabencana banjir bandang sekaligus mendukung pemulihan kondisi sosial dan kesehatan masyarakat, kebutuhan air bersih menjadi bagian penting yang memerlukan perhatian sesegera mungkin.
Ketersediaan air bersih yang tidak tercukupi dapat menjadi cikal bakal tumbuhnya bibit penyakit. Oleh sebab itu, setelah urusan perbaikan fasilitas jalan dan jembatan mulai membaik, fokus pemerintah berikutnya adalah soal kebutuhan air bersih.
Pemerintah melihat situasi ini sebagai satu hal yang tidak bisa ditunda, sehingga tidak menunda waktu untuk melakukan pengeboran sumur dalam dan sumur dangkal secara bertahap untuk melengkapi fasilitas Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK) bagi warga. Pemerintah merencanakan sebaran lokasi 24 titik pembangunan sumur bor air baku yang tersebar di 12 lokasi di beberapa kecamatan di Aceh Tamiang.
Pemerintah berkomitmen untuk terus mempercepat penyediaan kebutuhan air bersih. Upaya ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, mencegah risiko kesehatan, serta mendukung percepatan pemulihan pascabencana.
Tentang Fasilitas yang Perlahan Pulih dan Rekam Jejak Pengabdian
Dedy Saputra bukan hanya seorang yang menyandang jabatan sebagai Pengawas Lapangan PPK 1.5 BPJN Aceh, beliau adalah seorang Ayah yang juga bisa meneteskan air mata haru saat sang anak yang terbiasa akrab dengannya memanggil dengan jerit tertahan “Papa”. Sosok yang selalu bersemangat ini tidak bisa datang memenuhi panggilan itu untuk sementara waktu untuk sebuah tugas pengabdian.
Dilatarbelakangi kejadian tsunami Aceh 26 Desember 2004 yang telah membuatnya harus berpisah dengan kedua orang tua dan kedua adiknya, ia berusaha pulih dari trauma dengan memulihkan trauma orang lain.
Melihat bencana yang melanda Aceh, tekad Dedy makin kuat untuk membantu warga terdampak. Ia tahu bagaimana sakitnya kehilangan yang ia rasakan 21 tahun lalu, sehingga perpisahan sementara dengan keluarga bukanlah satu penghalang yang bisa membuatnya surut bergerak dan mendedikasikan diri kepada daerah terdampak.
“Tidak boleh ada kata bermalasan. Harus tempur di lapangan walaupun keluarga harus ditinggalkan untuk sementara waktu.” (Dedy Saputra, Pengawas Lapangan PPK 1.5 BPJN Aceh).
Tidak Apa Tertatih Menuju Pulih
Menuju pulih memang bukan hal mudah. Namun, ketika siang ini melihat video di salah satu media sosial membuat senyum itu tidak lagi tertahan. Penyaluran air bersih untuk keperluan sehari-hari dan sanitasi kepada masyarakat yang terdampak bencana di sejumlah wilayah di Aceh satu per satu sudah terpenuhi.Perlahan menuju pasti, pemerintah berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi dan percepatan penanganan di semua lokasi yang terdampak untuk memastikan layanan darurat tetap berjalan dan membantu masyarakat agar segera pulih dari bencana. Bangkit untuk Pulih, Indonesia!
Ditulis oleh: Karunia Sylviany Sambas
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS