Internalized Misogyny: Ketika Perempuan Justru Melestarikan Ketimpangan

Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Internalized Misogyny: Ketika Perempuan Justru Melestarikan Ketimpangan
Ilustrasi Misoginis (Unsplash/@paazpg)

Tanpa sadar, kita sering sedang menyaksikan satu fenomena sosial yang jarang disadari pelakunya sendiri, internalized misogyny. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika perempuan menyerap nilai-nilai patriarkal.

Lalu ikut mengawasi, mengoreksi, bahkan menghukum perempuan lain yang dianggap “menyimpang” dari aturan relasi kuasa tradisional. Di mana laki-laki harus selalu berada di posisi lebih tinggi. Yang menarik, pelakunya bukan hanya laki-laki. Justru sering kali perempuan sendiri.

Internalized misogyny bekerja secara halus. Itu tidak hadir dalam bentuk kekerasan fisik, melainkan lewat komentar, sindiran, penghakiman moral, dan standar ganda. Kalimat-kalimat seperti “perempuan itu harus tahu diri”, “istri jangan melampaui suami”, atau “kok suaminya mau ke pasar?” terdengar sepele, tapi sesungguhnya memuat logika relasi kuasa yang timpang.

Menyadari Keberadaan Internalized Misogyny adalah Langkah Awal untuk Memutus Siklusnya

Dalam kerangka ini, perempuan dianggap “baik” jika patuh pada peran tradisional. Mengurus rumah, mengasuh anak, menjaga emosi, dan mendukung laki-laki dari belakang. Ketika ada perempuan lain yang keluar dari peran itu, lebih vokal, lebih mandiri, lebih dominan secara ekonomi, maka ia dianggap mengganggu tatanan. Bukan hanya oleh laki-laki, tapi juga oleh perempuan lain.

Contoh yang paling sering kita jumpai adalah resistensi terhadap laki-laki yang mengerjakan pekerjaan domestik. Masih banyak perempuan yang merasa tidak nyaman ketika melihat suami berbelanja ke pasar, mencuci piring, menyapu rumah, atau mengurus anak. Ironisnya, ketidaknyamanan itu sering bukan karena pekerjaan tersebut dianggap rendah, melainkan karena ia “tidak pantas” dilakukan laki-laki.

Di sini terlihat jelas bagaimana internalized misogyny bekerja: beban domestik dianggap kodrat perempuan, bukan hasil pembagian sosial yang bisa dinegosiasikan. Ketika laki-laki masuk ke ranah tersebut, yang terganggu bukan efisiensi rumah tangga, melainkan hierarki kuasa.

Perempuan yang menolak keterlibatan laki-laki dalam urusan domestik sesungguhnya sedang menjaga sistem yang merugikan dirinya sendiri. Beban tetap berat, tanggung jawab tetap timpang, tapi hierarki tetap utuh. Ini bukan soal pilihan personal semata, melainkan hasil internalisasi nilai sosial yang diajarkan turun-temurun.

Internalized Misogyny dan Cyberbullying yang Tak Disadari

Internalized misogyny juga tampak ketika perempuan saling menghakimi tubuh, pilihan hidup, dan keputusan personal perempuan lain. Dari cara berpakaian, status pernikahan, pilihan menjadi ibu atau tidak, hingga keputusan bekerja atau tinggal di rumah.

Manifestasi internalized misogyny bisa sangat beragam. Mulai dari merasa jijik terhadap bulu tubuh perempuan, menganggap perempuan “terlalu emosional” untuk memimpin, hingga merendahkan perempuan lain dengan label seperti “murahan”, “drama”, atau “cari perhatian”.

Dalam budaya populer digital, ini sering muncul dalam stereotip seperti pick me girl. Perempuan yang menjatuhkan perempuan lain demi dianggap “berbeda” dan lebih layak diterima oleh laki-laki.

Media sosial memperparah situasi ini. Platform seperti TikTok, Instagram, atau X menyediakan ruang luas untuk opini, tetapi juga membuka pintu bagi cyberbullying berbasis gender yang sering kali dilakukan oleh sesama perempuan.

Mengapa Kita Merasa Terganggu dengan Pilihan Perempuan Lain?

Komentar tentang tubuh, cara berpakaian, pilihan hidup, hingga ekspresi emosi perempuan lain menjadi konsumsi publik, dan ironisnya, banyak serangan ini datang bukan dari laki-laki, melainkan dari perempuan sendiri. Semuanya diawasi. Perempuan yang “terlalu bebas” dianggap ancaman, sementara yang “terlalu patuh” sering dijadikan standar moral.

Padahal, relasi yang adil tidak membutuhkan satu pihak selalu lebih tinggi. Kesetaraan bukan berarti menghilangkan perbedaan biologis, melainkan membongkar asumsi bahwa perbedaan itu otomatis melahirkan hierarki.

Menyadari internalized misogyny bukan untuk menyalahkan perempuan. Sebaliknya, ini tentang memahami bahwa perempuan juga tumbuh dalam sistem patriarki, belajar dari nilai yang sama, dan mewarisi luka struktural yang sama. Kesadaran ini penting agar kritik tidak lagi diarahkan ke sesama perempuan, tetapi ke sistem yang membentuk perilaku tersebut.

Ketika perempuan berhenti mengawasi dan menghukum perempuan lain, di situlah perubahan sosial mulai bergerak. Bukan dengan saling menjatuhkan, melainkan dengan bersama-sama mempertanyakan: siapa yang diuntungkan dari relasi kuasa yang timpang ini?

Dan apakah kita ingin terus menjadi penjaga sistem yang melelahkan kita sendiri?

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak