Menyingkap Pesan Buku Broken Strings: Saat Kekerasan Menyamar Sebagai Cinta

Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
Menyingkap Pesan Buku Broken Strings: Saat Kekerasan Menyamar Sebagai Cinta
Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans (Instagram.com/aurelie)

Dalam banyak kisah cinta, penderitaan kerap dibungkus dengan dalih pengorbanan. Kita diajarkan bahwa cinta sejati menuntut kesabaran, pengertian, dan kemampuan bertahan di tengah luka. 

Namun, memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans dengan berani membongkar ilusi tersebut. Buku ini menghadirkan potret relasi yang tampak penuh cinta di permukaan, tetapi sesungguhnya menyimpan kekerasan yang perlahan merusak jiwa. 

Broken Strings mengajak pembaca bertanya sejak kapan kekerasan dianggap sebagai bukti cinta? Terlebih dalam relasi dengan gap usia yang jauh hingga muncul potens grooming

Kekerasan yang Tidak Selalu Berisik

Saat mendengar kata kekerasan dalam hubungan, banyak orang langsung membayangkan luka fisik, bentakan, atau tindakan agresif yang kasat mata. Padahal, ada kekerasan sering hadir dalam bentuk yang lebih halus. 

Dalam Broken Strings, kekerasan itu bersembunyi di balik perhatian berlebihan, kontrol yang disebut sebagai rasa peduli, serta kalimat manipulatif yang membuat korban meragukan dirinya sendiri.

Kekerasan emosional inilah yang paling sulit dikenali. Tidak ada memar, tidak ada saksi, tetapi dampaknya menghancurkan. Dalam buku ini, Aurelie menggambarkan bagaimana korban perlahan kehilangan suara, mimpi, bahkan identitasnya. 

Segalanya terjadi tanpa disadari, seperti senar gitar yang putus satu per satu hingga akhirnya tak lagi mampu menghasilkan nada.

Love Bombing dan Manipulasi Emosional

Salah satu pola yang kuat terasa dalam Broken Strings adalah love bombing. Di awal hubungan, pelaku hadir sebagai sosok sempurna yang penuh perhatian, romantis, dan seolah menjadi jawaban dari semua luka masa lalu.

Korban merasa dipilih, dicintai secara intens, dan akhirnya bergantung secara emosional. Namun, intensitas ini bukan cinta yang sehat. Ketika korban sudah terikat, perhatian berubah menjadi tuntutan. 

Cemburu dianggap wajar, larangan dibungkus alasan melindungi, dan kritik pedas disebut sebagai bentuk kejujuran. Inilah fase ketika kekerasan mulai menyamar sebagai cinta, dan korban sering kali merasa bersalah jika mempertanyakan perlakuan tersebut.

Mengapa Sulit Pergi dari Hubungan Toksik?

Pertanyaan klasik yang kerap muncul adalah jika hubungan itu menyakitkan, mengapa tidak pergi saja? Broken Strings menjawabnya dengan jujur dan empatik. Keluar dari hubungan toksik bukan sekadar soal keberanian, tetapi juga kondisi psikologis yang sudah terlanjur terjerat.

Korban sering mengalami trauma bonding di mana ikatan emosional kuat yang terbentuk melalui siklus luka dan perhatian. Setelah disakiti, pelaku kembali menunjukkan sisi manisnya, membuat korban berharap bahwa keadaan akan membaik. 

Harapan inilah yang menjadi jerat paling kuat. Selain itu, manipulasi jangka panjang membuat korban merasa tidak berharga dan yakin kalau ia tidak akan dicintai oleh siapa pun selain pasangannya.

Dampak Psikologis yang Nyata

Broken Strings tidak hanya menyentuh emosi pembaca, tetapi juga membuka mata tentang dampak psikologis kekerasan dalam relasi. Banyak korban mengalami kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga reaksi fisik seperti mual dan nyeri dada. Tubuh seakan ikut menyimpan luka yang tak pernah diakui.

Aurelie Moeremans menuliskan pengalaman emosional dengan bahasa yang intim dan jujur, membuat pembaca merasa dekat sekaligus tidak nyaman. Ketidaknyamanan ini penting, karena ia memaksa kita mengakui kalau cinta tidak seharusnya menyakiti, apalagi secara terus-menerus.

Normalisasi Luka dalam Budaya Romantis

Salah satu kritik tersirat dalam Broken Strings adalah bagaimana budaya populer sering menormalisasi hubungan toksik. Lagu, film, dan cerita romantis kerap memuja cinta yang penuh drama, cemburu berlebihan, dan pengorbanan sepihak. Tanpa sadar, kita belajar kalau semakin sakit, semakin besar cintanya.

Buku ini hadir sebagai kontra narasi. Ia menegaskan kalau cinta yang sehat tidak akan membuatmu merasa takut, kecil, atau kehilangan diri sendiri. Jika sebuah hubungan menuntutmu mengorbankan batasan dan harga diri, maka itu bukan cinta, melainkan kekerasan yang diberi nama indah.

Belajar Mendengar Intuisi

Salah satu pesan penting dari Broken Strings adalah pentingnya mendengarkan intuisi. Rasa tidak nyaman yang muncul berulang kali bukanlah tanda kita terlalu sensitif, melainkan alarm dari tubuh dan pikiran. Buku ini mendorong pembaca untuk kembali percaya pada perasaannya sendiri, sesuatu yang sering dirampas dalam hubungan toksik.

Menyadari bahwa kita pantas mendapatkan cinta yang aman adalah langkah awal yang krusial. Kesadaran ini mungkin menyakitkan, tetapi ia membuka jalan menuju pemulihan.

Broken Strings: Memutus Senar yang Menyakitkan

Broken Strings menjelma sebagai bacaan reflektif yang relevan bagi siapa pun, baik yang pernah berada dalam hubungan toksik maupun yang ingin belajar tentang cinta yang sehat. Bisa dibilang buku ini menawarkan kejujuran yang membebaskan.

Dengan memutus senar-senar yang menyakitkan, kita memberi diri sendiri kesempatan untuk kembali utuh. Karena pada akhirnya, cinta sejati tidak pernah meminta kita hancur demi bertahan. Ia seharusnya menjadi tempat pulang, bukan medan luka.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak