BBM Aman 20 Hari ke Depan, Yakin Nggak Panik saat Mudik Nanti?

Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
BBM Aman 20 Hari ke Depan, Yakin Nggak Panik saat Mudik Nanti?
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Instagram/bahlillahadalia)

Sobat Yoursay, belakangan ini situasi di Timur Tengah kembali memanas, terutama dengan kabar penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel. Di tengah kegentingan global yang berpotensi mengganggu jalur pasokan energi dunia tersebut, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia justru mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan.

Beliau dengan percaya diri menyebutkan bahwa cadangan BBM nasional kita saat ini cukup untuk 20 hari ke depan. Sobat Yoursay, bukannya memberikan rasa tenang, pengumuman angka "20 hari" ini justru membuat banyak orang merasa was-was. Bagaimana bisa, ketahanan energi sebuah negara sebesar Indonesia hanya dipatok dengan napas yang begitu pendek, bahkan tidak sampai sebulan?

Bahlil menyebut angka 20 hari itu sebagai sesuatu yang "aman". Namun, bagi kita yang sehari-hari menggunakan kendaraan untuk bekerja, angka itu sangatlah tipis, apalagi jika kita menengok kalender. Bulan Maret 2026 ini bukan bulan biasa, karena kita sedang bersiap menyambut musim mudik Lebaran.

Bayangkan, Sobat Yoursay, jika stok nasional hanya dipatok aman untuk 20 hari, sementara dinamika di Selat Hormuz—yang merupakan jalur nadi 20,1 juta barel minyak mentah dunia—masih penuh ketidakpastian. Apakah kita harus bertaruh nasib di jalan raya saat mudik nanti dengan ketakutan bahwa pom bensin tiba-tiba memasang papan "Maaf, Stok Habis"?

Sobat Yoursay, rasanya ada yang aneh jika pemerintah menganggap cadangan 20 hari sebagai sesuatu yang "bukan masalah besar". Memang benar, impor kita dari Timur Tengah hanya sekitar 20–25 persen, tapi dalam dunia minyak, gangguan sekecil apa pun pada pasokan global akan langsung memicu koreksi harga. Dan kita tahu betul, istilah "koreksi harga" dalam kamus pejabat sering kali berarti "siap-siap harga naik".

Hal lain yang bikin kita makin was-was adalah nasib dua kapal milik PT Pertamina International Shipping yang terjebak di Selat Hormuz. Bahlil mengatakan pemerintah sedang menempuh jalur diplomasi agar kapal-kapal pengangkut minyak mentah itu bisa keluar. Namun, beliau juga menambahkan bahwa seandainya pun tidak bisa keluar, pemerintah sudah punya sumber alternatif lain sehingga hal itu "bukan masalah yang sangat penting".

Sobat Yoursay, bukankah ini terdengar sedikit menggampangkan? Kalau memang bukan masalah penting, kenapa harus sampai ada rapat terbatas dengan Presiden Prabowo? Menganggap terjebaknya aset negara di wilayah konflik sebagai "bukan problem" justru menunjukkan gaya komunikasi yang sering kali jauh berbeda antara pernyataan dan kenyataan di lapangan.

Kita tentu masih ingat gaya komunikasi Pak Menteri yang satu ini dalam berbagai isu sebelumnya. Masalahnya, Sobat Yoursay, rakyat sudah mulai lelah dengan janji "aman" yang ujung-ujungnya berakhir pada penyesuaian harga atau kelangkaan di lapangan.

Apalagi saat ini muncul kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah ini akan dijadikan alasan klasik untuk menaikkan harga BBM dan tarif listrik lagi. Jika harga minyak dunia terkoreksi naik, sementara stok kita mepet, posisi tawar Indonesia akan sangat lemah.

Kita akan dipaksa membeli minyak dari pasar spot dengan harga selangit demi menambal cadangan 20 hari yang tipis itu. Akhirnya, siapa yang menanggung bebannya? Tentu saja kantong kita semua.

Sobat Yoursay, sebagai masyarakat yang kritis, kita patut mempertanyakan, ke mana larinya rencana strategis pembangunan cadangan penyangga energi nasional yang selama ini didengungkan? Mengapa setelah berpuluh-puluh tahun merdeka, ketahanan energi kita masih sangat reaktif terhadap isu global? Jika setiap kali ada ketegangan di Iran atau Israel kita langsung panik soal stok 20 hari, berarti ada yang salah dengan manajemen energi kita.

Gaya bahasa Bahlil yang cenderung santai mungkin tujuannya untuk meredam kepanikan pasar. Namun, bagi rakyat kecil yang setiap hari berhitung berapa liter bensin yang bisa dibeli dengan uang pas-pasan, kejujuran jauh lebih mahal daripada ketenangan semu.

Sobat Yoursay, kita tidak butuh narasi "nggak ada masalah" jika nyatanya risiko krisis energi mengintai di depan mata, apalagi menjelang hari raya di mana mobilitas warga mencapai puncaknya.

Jika stok benar-benar hanya cukup untuk 20 hari, maka pemerintah seharusnya bekerja ekstra keras 24 jam untuk memastikan pengisian kembali stok tersebut terjadi tanpa gangguan harga, bukan malah sibuk meyakinkan publik bahwa semuanya "santai saja".

Bagaimana menurut Sobat Yoursay? Apakah kalian percaya bahwa stok BBM untuk 20 hari itu sudah cukup aman untuk menyambut Lebaran nanti, atau kalian mulai merasa perlu "pemanasan" untuk menghadapi kemungkinan kenaikan harga? Mari kita terus pantau, karena di negeri ini, antara apa yang diucapkan di Istana dan apa yang terjadi di SPBU sering kali punya alur cerita yang berbeda.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak