Judi Online: Hiburan Murah yang Membuat Hidup Jadi Mahal

M. Reza Sulaiman | Budi Prathama
Judi Online: Hiburan Murah yang Membuat Hidup Jadi Mahal
Promosi judi online di smartphone. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar).

Perkembangan teknologi digital sekarang terasa seperti jalan tol supermulus yang menghubungkan hampir semua hal dalam hidup kita. Mau belanja? Tinggal klik. Mau menonton film? Tinggal buka aplikasi. Hidup jadi praktis, cepat, dan serba ada di ujung jari. Namun, di balik semua kenyamanan itu, ada "jalan samping" yang juga makin ramai, yakni judi online alias judol. Di permukaan memang kelihatan seperti hiburan sepele, tetapi dampaknya bisa bikin kepala pening tujuh keliling. Judol bukan hanya merusak dompet, melainkan juga menggerus moral, mengacaukan rumah tangga, dan membuat banyak orang terseret ke jurang masalah.

PPATK bahkan mencatat transaksi judi online tahun 2025 mencapai Rp155 triliun. Iya, triliun. Angka yang biasanya hanya lewat di layar TV waktu membahas APBN. Yang membuat makin ngeri, akses judol itu gampang sekali. Hanya bermodalkan HP dan paket data, siapa pun bisa ikut main. Anak-anak dan remaja pun bisa kelewat batas kalau tidak diwaspadai. Dampak finansialnya pun nyata: ada yang menabung bertahun-tahun lalu habis dalam semalam, ada yang gali lubang tutup lubang, bahkan ada yang sampai terjerat pinjaman online (pinjol) demi menutup kekalahan. Banyak pula kasus kriminal yang muncul sebagai konsekuensi, mulai dari pencurian kecil sampai penipuan, semuanya berawal dari satu hal: butuh uang untuk mengembalikan yang hilang.

Melihat kekacauan yang ditimbulkan, pemerintah jelas tidak bisa hanya "menonton". Langkah pertama yang wajib dilakukan adalah membuat aturan yang tegas dan jelas. Regulasi ini bukan hanya soal melarang, melainkan juga menyediakan dasar hukum kuat bagi aparat untuk menindak operator dan pelaku. Tanpa payung hukum yang solid, penegakan hukum bakal seperti mengibas-ngibaskan asap tanpa memadamkan apinya. Aturan yang kokoh membuat efek jera lebih mungkin tercipta.

Namun kenyataannya, judol itu licin. Praktik ini bisa pindah server, ganti nama situs, dan bersembunyi di balik aplikasi yang sekilas tidak mencurigakan. Karena itu, pemerintah perlu bekerja sama dengan penyedia layanan internet (provider internet) dan platform digital untuk memblokir akses ke situs-situs yang bergerak secara ilegal. Konsistensi menjadi kunci. Kalau pemblokiran hanya dilakukan sesekali, operator judol tetap akan menemukan celah untuk kembali lagi. Semakin sempit ruang geraknya, semakin kecil peluang masyarakat untuk terjebak.

Tentu saja, pendekatan hukum hanyalah separuh cerita. Ada satu sisi penting yang sering terlupakan, yaitu edukasi. Masyarakat perlu diberi pemahaman yang jujur dan realistis soal bahaya judi online. Mulai dari risiko keuangan, potensi kecanduan, sampai dampaknya terhadap keluarga. Literasi digital dan literasi finansial perlu digencarkan ke semua lapisan masyarakat, terutama ke remaja yang sering kali lebih mudah terpengaruh. Kampanye edukasi bisa dilakukan lewat media sosial, sekolah, komunitas, sampai acara-acara publik yang ramah anak muda.

Selain itu, pemerintah juga bisa menyediakan alternatif hiburan dan ekonomi yang lebih sehat. Banyak orang terjebak judol bukan karena mereka benar-benar suka berjudi, melainkan karena bosan, tertekan, atau merasa butuh uang cepat. Dengan menyediakan hiburan digital yang legal dan menyenangkan, program literasi keuangan, serta pelatihan kerja atau wirausaha, masyarakat punya pilihan lain yang jauh lebih aman dan produktif. Akses ke sumber pembiayaan yang legal dan terjangkau juga membantu agar orang tidak terjerumus ke pinjol yang justru memperburuk keadaan.

Pada akhirnya, memberantas judi online bukan pekerjaan satu malam. Dibutuhkan strategi terpadu yang melibatkan banyak pihak: pemerintah, aparat penegak hukum, penyedia layanan digital, sekolah, dan tentu saja masyarakat sendiri. Regulasi yang kuat, penegakan hukum yang konsisten, edukasi yang masif, dan penyediaan alternatif positif adalah empat pilar yang perlu berdiri bersama. Tanpa itu semua, judol akan terus mencari celah seperti air yang merembes lewat retakan kecil.

Teknologi boleh berkembang secepat kilat, tetapi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat harus tetap diprioritaskan. Pemerintah harus hadir bukan untuk menghambat kemajuan, melainkan untuk memastikan kita tidak tenggelam dalam sisi gelap dunia digital. Karena kalau dibiarkan, judol yang kelihatannya murah meriah itu justru bisa membuat hidup banyak orang menjadi sangat mahal.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak