Jadikan Aku yang Kedua

Hayuning Ratri Hapsari | Fitri Suciati
Jadikan Aku yang Kedua
Ilustrasi pasangan pengantin yang tengah bersedih (Canva AI)

Menjadi pilihan kedua dan selalu dibanding-bandingkan dalam segala hal sepertinya tak pernah akan luntur dalam catatan hidupku. Mulai dari lahir, bahkan ketika aku sudah beranjak dewasa dan membina mahligai rumah tangga sekalipun.

Aku adalah Arum, perempuan yang lahir sebagai putri kedua dalam keluarga kecilku. Menjadi putri kedua dan memiliki seseorang kakak yang pandai dan sukses dalam segala hal, membuat tak hanya nyaliku ciut. Tetapi, juga perasaan ingin diakuiku menggebu. 

Kedua orang tuaku selalu membandingkan sifat kami berdua, penampilan kami yang bertolak-belakang, hingga pencapaian yang kami miliki terdengar begitu bertentangan. Bagaikan langit dan bumi, apa yang dicapai Mbak Mirna selalu terlihat cerah dan indah layaknya langit yang membiru. Namun, ketika itu menyangkut aku, maka ekspresi kedua orang tuaku selalu tampak mendung dan suram seketika. 

Itu sebabnya, aku selalu berusaha keras untuk membuat mereka melirikku. Melakukan yang terbaik agar kata-kata pujian itu turut singgah di balik namaku. Sampai-sampai aku tak menolak kedua orang tuaku masalah jodoh dan asmara ketika mereka mengenalkanku dengan seseorang yang mereka pilihkan. 

Tujuanku cuma satu, yakni membuat orang tuaku bangga. Bahkan ketika aku tak mengeluarkan perkataan 'Tidak' saat mereka memperkenalkanku dengan Mas Adam dan mengatur rencana pernikahan kami.

"Jadi, bagaimana, Rum? Apa kamu mau menempuh rumah tangga dengan Adam? Dia anak teman dekat Mama dan Papa, kami pun sudah mengenal sifat dan kepribadiannya dengan baik," tanya orang tuaku, saat kami melakukan pertemuan pertema dengan keluarga Mas Adam untuk saling mengenal jauh.

Memiliki pekerjaan mapan dan bertanggung jawab, sepertinya adalah opsi yang tak bisa kutolak. Terlebih, Mas Adam terlihat sangat menurut dengan kedua orang tuanya, dan tak menolak sedikitpun perjodohan ini. Jika harus memandang selera atau tipe pria seperti apa yang aku sukai, tampang Mas Adam juga cukup menarik. Seharusnya akulah sosok beruntung itu karena berhasil dipertemukan dengan sosok pria idaman seperti dia. 

Melihat kondisiku yang saat ini tengah menganggur setelah dipecat dari pekerjaan, bukankah membina rumah tangga dan memilih dinafkai adalah opsi terbaik. Dengan bekal harapan orang tua, serta harapan bahwa cinta akan tumbuh karena terbiasa aku pun memutuskan untuk menikah dengan pria pilihan orang tuaku. 

"Kamu jangan khawatir, Rum. Aku akan menjadi suami yang bertanggung jawab dan mencintai kamu sesuai dengan kapasitasku," ucap Mas Adam saat kami pertama kali ngobrol bersama dan membahas perjodohan ini.

Akhirnya kami pun memulai pendekatan dan saling mengenal, sembari merencanakan pernikahan yang tak lagi ditunda-tunda. Mungkin karena usia kami yang sudah dewasa. Serta kedua orang tua kami yang ingin segera menimang cucu, maka kami pun tak mengulur lagi persatuan kedua keluarga kami.

Menuruti permintaan orang tua dan menikah dengan orang pilihan mereka memang tidak salah. Mas Adam memenuhi janjinya padaku dan meratukanku sebagai seorang istri. Ia bahkan menghormati keputusanku untuk kembali bekerja sesuai dengan minat dan bakatku, asal aku tidak merasa capek dan memiliki waktu yang cukup bersamanya. 

Aku begitu bahagia di awal-awal pernikahan kami, rasa hormatku terhadap Mas Adam mulai berubah menjadi rasa cinta dan kasih yang hangat. Namun, sepertinya kebahagiaanku tak bertahan lama. Tepat memasuki usia pernikahan kami yang keenam bulan, aku akhirnya mengerti alasan di balik perjodohanku yang sesungguhnya. 

Mengapa Mas Adam tak pernah menolak dan berusaha melakukan yang terbaik sebagai seorang suami. Itu karena ia tengah memenuhi janjinya dengan seseorang. Untuk menjagaku dan membuatku bahagia, setelah sosok tersebut tak lagi ada di dunia.

Netraku memerah, air mataku tak mampu lagi kutahan saat aku membaca buku diary Mas Adam yang selama ini ia sembunyikan dariku. Di sana bersama dengan seluruh curahan hati dan catatan penuh kerinduan itu, ada nama kakak perempuanku Mbak Mirna di sana. Rupanya Mbak Mirna dan Mas Adam telah mengenal lama, mereka bahkan sempat bertunangan dan hampir menikah. Namun, semua itu gagal karena sebuah kecelakaan tragis yang tiba-tiba merenggut nyawa kakak perempuanku.

"Tolong jaga Arum untukku, Mas. Nikahi dia, dan buatlah dia bahagia. Ini adalah caraku untuk meminta maaf dan membalas semua keperihan hati adikku karena selama ini aku tidak bisa melakukan apa-apa untuknya. Aku tahu bagaimana perasaannya dan bagaimana perlakuan kedua orang tua kami. Meski aku berusaha mengalah, tetapi Arumlah yang sebenarnya selalu dikalahkan oleh keadaan."

Pesan terakhir Mbak Arum sontak membuat tubuhku menggigil, bahkan untuk urusan asmara dan rumah tangga, aku tak lebih dari sosok pengganti, pilihan kedua, yang tak pernah menjadi alasan utama pernikahan ini terjadi.

"Sedang apa kamu, Rum?" tanya Mas Adam ketika ia memergokiku tengah membaca diary miliknya.

Dengan sisa tangis yang semakin menggenang di pelupuk mataku, aku pun memberanikan diri untuk bertanya. "Jadi, selama ini Mas menyembunyikan ini semua dariku? Mas Adam setuju menikah denganku karena memenuhi janji dengan Mbak Mirna?"

Hanya kata maaf yang keluar dari bibir Mas Adam sebelum ia menghampiriku dan memeluk tubuhku dengan erat. Kami berdua pun menangis bersama setelah itu. 

Marah, sesal, kesal, kecewa, semua bercampur aduk dalam benakku. Meski telah berbicara baik-baik dengan Mas Adam setelah kejadian itu. Tetap saja, perasaan hampa yang akhirnya aku dapati. Melanjutkan pernikahan yang berawal dengan kebohongan memang sulit. Namun, aku berusaha untuk tetap sabar dan ikhlas. Berharap bahwa perkataan Mas Adam tentang ia yang juga kini telah mencintaiku dengan tulus adalah nyata adanya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak