Dari Buku ke Scroll: Neuroplastisitas dan Krisis Fokus Manusia Modern

Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Dari Buku ke Scroll: Neuroplastisitas dan Krisis Fokus Manusia Modern
Ilustrasi buku (Unsplash/@elisa_Cb)

Pernah kepikiran kenapa membaca buku terasa melelahkan, tapi nonton video berjam-jam terasa ringan? Jawabannya bukan karena kamu malas. Secara biologis, otak manusia memang tidak diciptakan untuk membaca.

Fakta ini dijelaskan oleh Maryanne Wolf, ilmuwan kognitif dan penulis buku Proust and the Squid: The Story and Science of the Reading Brain. Dalam risetnya, Wolf menegaskan bahwa membaca adalah kemampuan budaya, bukan kemampuan biologis bawaan.

Berbicara dan mendengar adalah fungsi alami otak manusia, tetapi membaca adalah keterampilan buatan yang harus dipelajari dan dibangun secara neurologis.

Saat anak belajar membaca, otak melakukan sesuatu yang ekstrem. Tidak ada “bagian khusus membaca” di otak. Maka otak meminjam banyak area sekaligus:

  • area visual untuk mengenali bentuk huruf,
  • area auditori untuk menghubungkan huruf dengan bunyi,
  • area bahasa untuk makna,
  • area atensi untuk fokus dan pemusatan perhatian.

Semua bagian ini dipaksa bekerja sama membentuk jalur saraf baru. Proses ini dikenal sebagai neuroplasticity, yaitu kemampuan otak mengubah struktur dan koneksinya berdasarkan pengalaman.

Studi pencitraan otak (fMRI) menunjukkan bahwa orang yang sudah lancar membaca memiliki pola konektivitas otak yang berbeda secara struktural dibanding yang belum bisa membaca. Artinya, membaca benar-benar mengubah bentuk kerja otak secara fisik, bukan hanya kebiasaan mental.

Namun, masalah besar muncul di era layar digital.

Penelitian dari Stavanger Declaration (2019) menunjukkan bahwa pemahaman bacaan lebih rendah saat membaca teks panjang di layar dibanding di kertas, terutama untuk bacaan kompleks dan argumentatif. Ini terjadi karena otak cenderung melakukan skimming dan scanning, bukan membaca mendalam.

Penelitian lain dari University of California, Los Angeles menunjukkan bahwa paparan informasi cepat dan multitasking digital memperpendek rentang perhatian (attention span) dan meningkatkan impulsivitas kognitif. Otak menjadi terbiasa dengan stimulasi cepat, bukan pemrosesan mendalam.

Membaca di HP sering bukan membaca, tapi memindai: scroll, lompat paragraf, cari kata kunci, pindah konten. Pola ini membentuk kebiasaan neural baru: cepat, dangkal, terfragmentasi. Otak dilatih untuk respons cepat, bukan pemahaman dalam.

Dampaknya serius. Fokus menjadi pendek. Duduk membaca panjang terasa menyiksa. Daya tahan kognitif melemah. Yang lebih berbahaya, kemampuan berpikir kritis menurun. Studi dari American Psychological Association menunjukkan bahwa pemrosesan informasi dangkal meningkatkan risiko menerima informasi salah karena otak tidak melakukan evaluasi makna secara mendalam.

Jika dibiasakan sejak kecil, dampaknya struktural. Anak-anak tidak dilatih untuk bertahan dalam satu ide panjang, satu narasi kompleks, satu argumen utuh. Otak mereka dilatih untuk selalu berpindah. Akibatnya, mereka tumbuh menjadi individu yang cepat bereaksi, tapi lemah refleksi. Cepat merespons, tapi dangkal menganalisis.

Sebaliknya, membaca mendalam (deep reading) terbukti melatih:

  • empati (aktivasi mirror neuron),
  • logika,
  • memori jangka panjang,
  • kemampuan analisis kompleks,
  • regulasi emosi,
  • dan integrasi makna.

Penelitian neurosains menunjukkan bahwa membaca narasi panjang mengaktifkan lebih banyak jaringan otak dibanding konsumsi konten visual cepat. Membaca bukan hanya menerima informasi, tapi membangun struktur berpikir.

Maka membaca mendalam bukan nostalgia romantis. Ia adalah latihan neurologis. Seperti angkat beban untuk otak. Dunia digital melatih kita untuk cepat, tapi tidak untuk dalam. Untuk reaktif, tapi tidak reflektif. Untuk respons, tapi tidak makna.

Di tengah banjir informasi, kemampuan untuk duduk tenang, membaca pelan, dan memahami isi adalah kekuatan kognitif modern. Bukan kelemahan. Bukan kuno. Tapi langka dan berharga.

Jika kita ingin tetap kritis, empatik, dan tidak mudah dimanipulasi algoritma, hoaks, dan propaganda visual, maka membaca dengan fokus bukan pilihan tambahan.

Itu kebutuhan biologis baru. Nutrisi mental. Latihan struktur berpikir. Dan cara menjaga manusia tetap manusia di era mesin.

Karena di dunia yang melatih kita untuk terus bergerak cepat, kemampuan untuk diam, fokus, dan memahami adalah bentuk kecerdasan tertinggi.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak