Ada suasana yang selalu saya rindukan setiap Ramadan tiba: langkah kaki menuju masjid selepas Isya, udara malam yang terasa lebih sejuk, dan cahaya lampu yang memantul lembut di halaman. Di situlah salat tarawih dimulai. Bukan sekadar ibadah sunnah, melainkan momen yang menghadirkan rasa hangat, haru, dan kebersamaan yang sulit digantikan bulan lain.
Tarawih adalah ibadah malam yang hanya hadir di bulan Ramadan. Keunikannya bukan hanya pada jumlah rakaatnya, tetapi pada suasana yang mengiringinya. Masjid yang biasanya lengang di hari biasa mendadak penuh. Saf-saf tersusun rapi. Anak-anak kecil datang dengan wajah ceria, remaja berkumpul dengan teman-temannya, orang tua melangkah pelan namun penuh semangat. Semua berdiri sejajar, tanpa memandang status atau latar belakang.
Bagi saya, di situlah letak keindahan tarawih. Ia menyatukan. Tidak ada jarak sosial. Tidak ada perbedaan jabatan. Yang ada hanya hamba dan Tuhannya.
Ketika imam mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, suasana berubah menjadi khusyuk. Bacaan yang panjang kadang membuat kaki terasa pegal. Kantuk datang perlahan. Namun justru di situlah pelajaran dimulai. Tarawih mengajarkan kesabaran dan keteguhan. Ia melatih kita untuk bertahan dalam kebaikan, meski tubuh lelah setelah seharian berpuasa.
Secara filosofi, setiap rakaat dalam tarawih seperti langkah kecil menuju perbaikan diri. Berdiri mengajarkan kesiapan. Rukuk mengajarkan kerendahan hati. Sujud mengajarkan kepasrahan total. Dalam sujud yang lama, sering kali hati terasa lebih jujur. Doa-doa yang mungkin sulit terucap di siang hari, justru mengalir pelan di malam tarawih.
Keseruan tarawih juga terasa di sela-sela kebersamaan itu. Ada anak kecil yang tertidur di pangkuan orang tuanya. Ada remaja yang berusaha khusyuk meski sesekali menahan tawa. Ada momen berbagi minuman atau camilan sederhana setelah salat selesai.
Semua itu membentuk kenangan yang melekat kuat dalam ingatan.
Menariknya, setiap masjid punya ciri khas. Ada yang melaksanakan delapan rakaat, ada yang dua puluh masing-masing ditambah witir tiga rakaat. Ada imam yang membaca satu juz penuh, ada yang lebih ringkas.
Perbedaan itu tidak menjadi perdebatan, melainkan warna yang memperkaya pengalaman. Intinya tetap sama: mencari ridha Allah dan memperkuat iman.
Tarawih juga menjadi ruang refleksi yang tenang. Di tengah kesibukan hidup, malam Ramadan terasa seperti jeda. Kita diajak berhenti sejenak, menata ulang niat, mengevaluasi diri, dan memperbaiki arah langkah. Tidak jarang, di sela rakaat-rakaat itu, saya merenung tentang kesalahan yang pernah dibuat dan harapan yang ingin diwujudkan.
Bagi saya pribadi, tarawih adalah sekolah kedisiplinan dan keikhlasan. Datang hampir setiap malam bukan hal ringan. Tetapi dari konsistensi itulah karakter dibentuk. Kita belajar bahwa iman bukan hanya perasaan, melainkan komitmen yang dijaga terus-menerus.
Ketika Ramadan usai, salah satu yang paling dirindukan adalah suasana tarawih. Lelahnya mungkin nyata, tetapi kedamaiannya jauh lebih terasa. Tarawih bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah perjalanan jiwa, penguat iman, sekaligus pengingat bahwa malam bisa menjadi waktu paling indah untuk mendekat kepada-Nya.
Dan setiap kali Ramadan kembali, saya selalu berharap bisa kembali merasakan hangatnya tarawih malam yang tidak hanya menenangkan, tetapi juga menghidupkan hati.