Indonesia resmi mengumumkan skuad untuk All England Open 2026 dengan total 13 wakil yang siap bertarung di turnamen bulu tangkis tertua dan paling prestisius di dunia. Kejuaraan level Super 1000 ini memang selalu jadi sorotan dan bidikan gelar para atlet.
Bukan hanya menjadi barometer kekuatan awal musim, tapi juga panggung pembuktian para pemain elite dunia. Namun, di balik optimisme besar terhadap skuad Merah Putih, muncul polemik di sektor ganda campuran.
Pasangan Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil tidak masuk daftar wakil Indonesia meski sedang dalam tren positif usai menjuarai Thailand Masters 2026. Padahal secara peringkat, yang saat ini menempati urutan 18 dunia, seharusnya bisa diikutsertakan.
Keputusan Pelatnas PBSI ini pun memicu tanda tanya di kalangan badminton lovers tanah air. Dengan peringkat dan tren positif, mengapa nama Adnan/Indah seolah dicoret hingga menimbulkan kekecewaan, termasuk bagi atlet bersangkutan.
13 Wakil Indonesia Siap Buru Gelar
Mengirim 13 wakil ke All England Open 2026 sebenarnya menunjukkan keseriusan PBSI dalam memburu prestasi di turnamen bergengsi tersebut. Jumlah ini mencerminkan skuad potensial Indonesia di berbagai sektor.
Dari sektor tunggal, Indonesia punya Jonatan Christie dan Alwi Farhan di tunggal putra dan Putri Kusuma Wardani di tunggal putri. Ketiganya memang atlet yang sedang dalam performa terbaiknya saat ini.
Sementara di ganda putra, lima pasangan siap terjun ke bursa kompetisi top level. Mulai dari Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani, Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, hingga Muhammad Rian Ardianto/Rahmat Hidayat.
Untuk wakil ganda putri, tiga wakil dipastikan sudah terdaftar dan masuk main draw. Di antaranya, ada Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, Febi Setianingrum/Rachel Allessya Rose, dan Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi.
Di nomor ganda campuran, dipastikan hanya Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu dan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah yang mewakili Indonesia untuk berburu gelar prestisius ini meski polemik masih terus bergulir.
Polemik di Ganda Campuran
Sorotan terbesar tertuju pada sektor ganda campuran karena PBSI memilih menurunkan pasangan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah untuk menemani duet muda Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu.
Keputusan ini memunculkan pertanyaan besar, mengapa Adnan/Indah yang sedang dalam tren positif justru tidak diberi kesempatan? Padahal, gelar Thailand Masters 2026 menjadi bukti bahwa performa mereka sedang menanjak.
Chemistry Adnan/Indah juga makin solid, pola permainan lebih rapi, dan kepercayaan diri sedang meningkat drastis. Di turnamen Thailand Masters, Adnan/Indah bahkan tampil impresif dengan mengalahkan beberapa pasangan unggulan.
Momentum seperti ini biasanya menjadi bekal ideal menuju turnamen besar seperti All England. Namun, PBSI tampaknya memiliki pertimbangan lain hingga akhirnya tidak menyertakan juara Thailand Masters 2026 tersebut.
Jafar/Felisha dan Amri/Nita Siap Jadi Tumpuan
Terlepas dari polemik, Jafar/Felisha dan Amri/Nita tetap memiliki potensi. Jafar/Felisha dikenal sebagai pasangan muda dengan progres pesat. Mereka menunjukkan peningkatan signifikan dalam rotasi permainan dan transisi serangan-bertahan.
Sementara Amri/Nita dinilai memiliki keseimbangan permainan yang stabil. Kombinasi pengalaman dan konsistensi menjadi nilai plus mereka di ajang sebesar All England. PBSI mungkin melihat kecocokan gaya main mereka dengan pola permainan yang dibutuhkan di level Super 1000.
All England Bukan Sekadar Turnamen
All England selalu menghadirkan tekanan mental berbeda. Atmosfer arena, sejarah panjang, dan sorotan media internasional membuat ajang ini menjadi ujian karakter. Mengirim 13 wakil menunjukkan Indonesia tidak main-main dengan target minimal tentu podium, bahkan gelar juara.
Namun, keputusan seleksi pemain tetap menjadi bagian dari dinamika pembinaan. Tidak semua pasangan dengan tren positif otomatis mendapat tempat, karena federasi juga melihat aspek teknis, kesiapan fisik, hingga strategi musim secara keseluruhan.
Harapan Publik dan Evaluasi ke Depan
Perdebatan soal Adnan/Indah mencerminkan besarnya perhatian publik terhadap bulu tangkis nasional. BL tanah air tampaknya ingin melihat pemain yang sedang bersinar diberi panggung lebih besar.
Namun pada akhirnya, hasil di lapangan akan menjadi jawaban. Jika Amri/Nita dan Jafar/Felisha mampu tampil maksimal, keputusan PBSI akan dianggap tepat. Sebaliknya, jika hasil kurang memuaskan, polemik ini bisa kembali mengemuka.
Dalam olahraga profesional, seleksi selalu mengandung risiko yang menjadi bagian dari strategi. All England Open 2026 akan menjadi panggung pembuktian, bukan hanya bagi pemain, tetapi juga bagi kebijakan seleksi tim nasional.
Satu hal yang pasti, dengan 13 wakil yang dikirim, Indonesia datang dengan ambisi besar. Kini publik tinggal menanti, apakah langkah ini berbuah manis atau justru membuka diskusi baru tentang arah pembinaan ganda campuran ke depan.