Kolom

Harga Pertamax Naik, Rakyat Kecil Kini 'Dipaksa' Olahraga Gratis di SPBU

Harga Pertamax Naik, Rakyat Kecil Kini 'Dipaksa' Olahraga Gratis di SPBU
Ilustrasi antrean Pertalite (dok. Gemini)

Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM di tengah malam buta membuat masyarakat Indonesia ternganga. Sudah pasti, keputusan yang diambil oleh para pemimpin negeri ini akan berdampak kepada guliran ekonomi khalayak. Tapi jangan salah, keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM ini justru di mata saya akan melahirkan sebuah anomali, yang mana kebijakan itu justru membuat rakyat kecil menambah porsi olahraga.

Memang, jika dibaca sekilas, apa yang saya tuliskan di atas akan terkesan mengada-ada. Namun berdasarkan kenyataan yang saya jalani beberapa hari terakhir ini, terutama setelah terjadinya kenaikan harga BBM jenis Pertamax pada Rabu (10/6/2026) kemarin, apa yang saya tuliskan di atas sedikit-banyak memang benar adanya.

Bagaimana tidak, kenaikan harga Pertamax yang melebihi angka Rp16 ribu, membuat antrean di POM bensin langganan saya menjadi kian mengular. Sejatinya, sebelum kenaikan harga Pertamax diumumkan oleh pemerintah, saya juga sudah terbiasa mengantre panjang untuk mengisi BBM jenis Pertalite. Namun tak sepanjang hari-hari belakangan ini.

Hal ini tentu bukannya tanpa alasan. Karena ternyata, banyak di antara teman-teman saya yang sebelumnya adalah kaum-kaum pengguna Pertamax untuk bahan bakar motornya, kini mulai beralih ke Pertalite karena merasa mulai terbebani secara finansial jika hal itu terus dilakukan.

Dasar pemikirannya pun cukup logis. Karena selisih kenaikan harga Pertamax yang beberapa ribu rupiah per liternya itu, akan jauh lebih bermanfaat jika dipergunakan untuk menambal kebutuhan hidup yang lain. Toh, baik ketika diisi dengan Pertamax maupun Pertalite, motor mereka juga masih bisa hidup dan dipakai untuk kegiatan sehari-hari, bukan?

"Meski kayak turun kasta dan berasa gimana gitu, tapi aku mantap untuk beralih ke Pertalite. Sekarang sudah masuk ke mode bertahan hidup," jelas Isna Lutfiyah, salah satu rekan guru di Kecamatan Sedan yang sebelumnya memang dikenal sebagai kaum "Pemuja Pertamax".

Motor keluaran tahun muda yang dia miliki, selalu dimanjakan dengan Pertamax saat dirinya mampir untuk mengisi bahan bakar. Hal itu dilakukannya selama bertahun-tahun, hingga pada akhirnya, jalan yang dia pilih harus goyah setelah pemerintah menaikkan harga Pertamax di hari Rabu kemarin.

Saya yakin, orang-orang seperti Isna inilah yang pada akhirnya membuat antrean di jalur Pertalite menjadi kian mengular. Isna-Isna lain, yang dulunya berpedoman akan selalu menjadi konsumen setia Pertamax, pada akhirnya berpindah jalur karena lebih memilih untuk menyelamatkan roda perekonomiannya ketimbang tetap berdiri di atas prinsip "Jalur Pertamax" yang kian hari kian mahal.

Lantas, apa yang membuat porsi olahraga rakyat kecil menjadi kian bertambah?

Ilustrasinya begini, semakin banyak orang-orang berpindah dari jalur Pertamax menuju ke jalur Pertalite seperti yang dilakukan oleh Isna, maka tentunya antrean di jalur ini akan semakin memanjang. Korelasinya, tentu saja seiring dengan bertambah panjangnya antrean, maka waktu bagi rakyat kebanyakan seperti saya untuk berdiri dan menahan beban motor menjadi semakin bertambah durasinya.

Dengan kata lain, ketika kita mengantre Pertalite, secara tak langsung kita akan melatih otot-otot di tubuh kita untuk berolahraga, baik ketika dalam posisi berdiri maupun ketika mengantre dengan posisi menunggangi motor.

Menurut penjelasan dari laman eigeradventure.com, ketika kita dalam posisi menahan motor dalam posisi duduk, maka otot inti di perut dan pinggang akan berkontraksi demi terus bisa menjaga keseimbangan tubuh. Pun demikian halnya dengan otot paha dan pinggul yang memegang peranan menopang berat badan kita dan juga motor yang kita naiki.

Adapun ketika kita melakukan antrean dengan posisi berdiri sembari menuntun motor, maka "olahraga tanpa sengaja" yang kita lakukan akan jauh lebih kompleks lagi. Dalam penjelasan Hallosehat, hanya sekadar berdiri saja memiliki beragam manfaat. Padahal ketika mengantre, kita tidak hanya berdiri, namun juga menopang berat motor dengan kekuatan tangan yang kita miliki.

Setidaknya, dalam penjelasan lebih lanjut dari Hallosehat, aktivitas fisik yang tergolong sederhana itu bisa membakar kalori, menurunkan risiko obesitas, menjaga kestabilan gula darah, memperbaiki postur tubuh dan mengurangi pegal, menurunkan risiko penyakit jantung, meningkatkan mood dan produktivitas, bahkan bisa membuat panjang umur.

Itu artinya, semakin lama kita berdiri, maka manfaat-manfaat tersebut akan semakin bisa dirasakan oleh tubuh kita. Apalagi jika kita berdiri dalam rentangan waktu yang lama di antrean jalur Pertalite, dengan posisi menahan beban sepeda motor di tangan. Tentunya, akan jauh lebih banyak lagi manfaatnya, bukan?

Sekarang, coba kita bayangkan. Sebagai rakyat kecil, melakoni pekerjaan sehari-hari saja sudah merupakan sebuah olahraga karena kebanyakan pekerjaan yang dilakukan berkaitan dengan fisik. Dan sekarang, seiring dengan kenaikan harga Pertamax yang telah diputuskan oleh pemerintah, maka mereka sudah pasti akan dipaksa lagi untuk menambah porsi olahraganya di jalur antrean yang kian bertambah panjang imbas beralihnya para konsumen yang dulunya mengisi jalur Pertamax.

Bagaimana? Selalu saja ada sisi positif dari setiap hal yang telah terjadi bukan? Namun sayangnya, yang dibutuhkan rakyat Indonesia saat ini bukan hanya sekadar mengambil hikmah dari apa yang telah terjadi, apalagi penambahan porsi dalam berolahraga.

Karena sejatinya, yang dibutuhkan oleh mereka saat ini adalah kestabilan ekonomi, keterjangkauan harga kebutuhan dasar sehari-hari dan tentu saja peningkatan pendapatan yang mereka miliki.

Bagi rakyat Indonesia, tambahan porsi olahraga seperti yang saya jabarkan di atas tentu sangatlah tidaklah penting karena justru menjadi sebuah kondisi yang memicu adanya kontraproduksi karena banyaknya waktu dan tenaga yang terbuang di jalur antrean.

Terlebih lagi pada faktanya, tulisan saya ini bukanlah bertujuan untuk memuji apa yang telah dilakukan oleh negara, namun hanyalah sebagai sebuah satir untuk mengkritisi kebijakan pemerintah belaka.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda