Kolom

Dari Surat Kartini ke Story Instagram: Cara Gen Z Menyuarakan Emansipasi

Dari Surat Kartini ke Story Instagram: Cara Gen Z Menyuarakan Emansipasi
Ilustrasi Kartini modern (Pexels/Dedi Kurniawan Mendrof)

Setiap kali membaca kisah R.A. Kartini, saya selalu membayangkan bagaimana rasanya hidup di zamannya. Menulis surat sebagai satu-satunya cara menyuarakan pikiran, menyampaikan keresahan, dan berharap ada perubahan, meski jalannya panjang.

Hari ini, saya hidup di era yang sangat berbeda dari R.A. Kartini. Saya tidak perlu menunggu berhari-hari untuk menyampaikan pendapat. Cukup dengan satu unggahan, satu story, atau bahkan satu kalimat di media sosial, suara saya bisa langsung tersebar.

Tapi justru di situlah saya mulai bertanya: apakah kemudahan ini membuat suara kita lebih bermakna, atau justru sebaliknya?

Suara Emansipasi Era Digital

Sebagai bagian dari era Gen Z yang dekat dengan dunia digital, saya melihat bagaimana cara menyuarakan emansipasi perempuan telah berubah bentuk. Bukan menulis surat reflektif, tetapi menyampaikan suara dalam bentuk yang lebih cepat, singkat, dan lebih visual.

Kadang hanya satu quote. Kadang hanya satu story. Kadang bahkan hanya sekadar ikut tren. Dan jujur, saya pernah ada di fase itu. Mengunggah sesuatu tentang perempuan, tentang kebebasan, tentang kesetaraan—tapi tanpa benar-benar memikirkan maknanya.

Seolah-olah, selama saya sudah “bersuara”, itu sudah cukup. Padahal, semakin saya pikirkan, saya mulai merasa kalau menyuarakan sesuatu bukan hanya soal terlihat aktif, tapi juga soal memahami apa yang kita suarakan.

Beda Suara Era Kartini dan Perempuan Zaman Now

Di situlah saya mulai melihat perbedaan yang cukup kontras. Surat Kartini bukan hanya tentang isi, tapi juga tentang kedalaman. Ia menulis dengan kesadaran, dengan refleksi, dan dengan tujuan yang jelas. Setiap kata punya makna, setiap kalimat punya arah.

Sementara di era sekarang, kita punya kecepatan tapi tidak selalu punya kedalaman yang sama. Bukan berarti media sosial itu buruk. Justru sebaliknya, ia memberi ruang yang jauh lebih luas agar banyak perempuan bisa bersuara, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan.

Hal-hal yang dulu mungkin sulit dilakukan, sekarang bisa terjadi dalam hitungan detik. Saya pun melihat banyak konten yang membuka mata—tentang kesetaraan, batasan dalam relasi, kesehatan mental perempuan, dan banyak hal lain yang dulu jarang dibahas. Dan itu penting.

Tapi di sisi lain, saya juga melihat bagaimana isu-isu ini kadang menjadi terlalu cepat dikonsumsi. Satu hari ramai, besok sudah tergantikan oleh tren lain. Seolah-olah, suara itu hanya bertahan selama algoritma mendukung.

Menjaga Suara Tetap Punya Makna

Dari fenomena tersebut, saya mulai merasa jika tantangan Gen Z bukan lagi soal bisa bersuara atau tidak, tapi soal bagaimana menjaga agar suara itu tetap punya makna. Saya pun mulai mencoba mengubah cara saya sendiri.

Tidak lagi sekadar ikut tren, tapi mencoba memahami apa yang saya bagikan. Tidak harus selalu panjang, tapi setidaknya jujur. Saya juga mulai menyadari kalau menyuarakan emansipasi tidak harus selalu lewat media sosial.

Kadang hadir dalam percakapan sederhana, dalam cara kita menghargai diri sendiri, keberanian untuk menetapkan batas, hingga keputusan untuk tidak selalu mengikuti ekspektasi yang tidak sesuai dengan nilai kita. Hal-hal kecil, tapi nyata.

Saya juga mulai melihat kalau tidak semua suara harus keras untuk didengar. Tidak semua harus viral untuk berarti. Kadang, perubahan justru terjadi dari hal-hal yang tidak terlihat. Dari cara kita berpikir, dari pilihan yang kita ambil, dan dari keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Memahami Perjuangan Era Kartini

Mungkin, jika dibandingkan dengan zaman R.A. Kartini, kita memang punya lebih banyak alat. Tapi pertanyaannya, apakah kita juga punya kesadaran yang sama? Apakah kita benar-benar memahami apa yang kita perjuangkan? Atau hanya sekadar ingin terlihat peduli?

Saya tidak punya jawaban pasti karena saya pun masih belajar untuk tidak hanya bersuara, tapi juga mendengar. Belajar untuk tidak hanya membagikan, tapi juga memahami. Dan belajar untuk tidak hanya mengikuti, tapi juga memilih.

Mungkin, itulah cara Gen Z melanjutkan semangat Kartini. Bukan dengan meniru caranya, tapi dengan menyesuaikannya dengan zaman. Dari surat ke story. Dari tulisan panjang ke pesan singkat. Dari ruang terbatas ke ruang tanpa batas.

Namun, satu hal yang seharusnya tetap sama: makna di balik suara itu sendiri. Karena pada akhirnya, emansipasi bukan hanya tentang bagaimana kita berbicara, tapi tentang apa yang benar-benar kita perjuangkan lewat suara itu.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda