Kolom

Kartini Reborn: Perempuan Gen Z dan Hak untuk Menentukan Hidup

Kartini Reborn: Perempuan Gen Z dan Hak untuk Menentukan Hidup
Ilustrasi Kartini modern (Pexels/Vincensius Seno Aji Pradhana)

Nama R.A. Kartini selalu kembali setiap tahun, tapi maknanya terasa berbeda bagi saya sekarang. Dulu, saya melihat Kartini sebagai simbol perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak pendidikan, kebebasan berpikir, dan kesempatan hidup yang lebih luas.

Namun di era Gen Z, saya mulai menyadari kalau perjuangan itu belum selesai, hanya berubah bentuk. Hari ini, perempuan memang punya lebih banyak pilihan. Tapi justru di tengah banyaknya pilihan itu, muncul tantangan baru.

Bukan lagi memperjuangkan hak kesetaraan seperti era R.A. Kartini, tetapi tentang bagaimana perempuan bisa benar-benar menentukan hidup tanpa terjebak dalam tekanan sosial yang semakin kompleks.

Banyak Pilihan, Tapi Tidak Selalu Bebas

Sebagai perempuan yang hidup berdampingan dengan Gen Z, saya sering merasa hidup seperti berada di persimpangan yang tidak ada habisnya. Pilihan terbuka lebar, mulai dari karier, pendidikan, gaya hidup, dan semuanya terasa mungkin.

Namun di balik itu, ada satu hal yang jarang dibicarakan: tekanan untuk memilih “dengan benar”. Saya pernah merasa bingung saat harus menentukan arah hidup. Bukan karena tidak punya pilihan, tapi karena terlalu ada banyak pertimbangan.

Mulai dari apa kata orang, standar sosial, bahkan ekspektasi keluarga seolah harus dipenuhi semuanya. Kebebasan yang terlihat setelah perjuangan R.A. Kartini ternyata tidak selalu berarti kita benar-benar bebas.

Ekspektasi Sosial yang Semakin Halus

Jika dulu perempuan dibatasi secara terang-terangan, sekarang batasannya lebih tersembunyi. Perempuan diharapkan mandiri, tapi tidak boleh terlalu dominan. Didorong untuk sukses, tapi tetap harus “seimbang” dalam peran domestik.

Bahkan perempuan sudah diberi ruang untuk berkembang, tapi tetap dinilai dari standar tertentu. Saya sering merasa apa pun pilihan yang diambil, selalu ada komentar yang mengikuti seolah ekspektasi sosial semakin sulit dipuaskan.

Di sinilah saya mulai memahami bahwa emansipasi hari ini bukan hanya tentang membuka pintu, tapi tentang menghapus batas yang tidak terlihat tersebut.

Media Sosial: Ruang Suara Sekaligus Tekanan

Media sosial menjadi salah satu alat terbesar bagi perempuan Gen Z untuk bersuara. Kita bisa berbagi cerita, menyuarakan opini, bahkan membangun komunitas. Saya sendiri banyak belajar dari sana tentang self-worth, batasan dalam relasi, hingga pentingnya kesehatan mental.

Hanya saja, di sisi lain, media sosial juga menciptakan standar baru yang sering kali tidak realistis. Perempuan “ideal” digambarkan harus sukses, cantik, produktif, mandiri, dan bahagia secara bersamaan. Dan jujur saja, itu melelahkan.

Saya pernah mencoba mengikuti standar itu, tapi yang saya rasakan justru kehilangan arah. Seolah-olah hidup saya selalu kurang dibandingkan dengan orang lain.

Hak Menentukan Hidup: Lebih dari Sekadar Pilihan

Dari semua pengalaman itu, saya mulai menyadari kalau hak menentukan hidup bukan hanya tentang punya pilihan, tapi tentang keberanian untuk memilih tanpa terus mencari validasi.

Jelas ini bukan hal yang mudah karena sejak kecil banyak dari kita dibentuk oleh ekspektasi. Harus sesuai dengan standar tertentu, harus mengikuti jalur yang dianggap “aman”. Dan sayangnya, mengubah cara berpikir itu butuh proses.

Saya pun memulai dari hal kecil seperti belajar mengatakan “tidak”, belajar menerima diri sendiri, dan belajar untuk tidak terus-menerus membandingkan hidup dengan orang lain.

Kartini Reborn Versi Gen Z

Bagi saya, “Kartini reborn” bukan berarti kita harus menjadi sosok besar atau melakukan perubahan besar. Konsep ini hadir dalam bentuk yang lebih sederhana, tapi nyata. Dalam keberanian perempuan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Menjadi “Kartini reborn” versi Gen Z juga muncul dalam bentuk keputusan untuk menetapkan batas dan kesadaran untuk tidak selalu mengikuti standar yang ada. Saya melihat banyak perempuan Gen Z mulai bergerak ke arah itu.

Lebih berani bersuara, lebih sadar akan haknya, dan lebih jujur terhadap diri sendiri. Dan menurut saya, itu adalah bentuk lanjutan dari perjuangan Kartini di era modern seperti sekarang.

Perjalanan yang Masih Berlanjut

Apakah perempuan Gen Z sudah sepenuhnya bebas? Saya rasa belum. Masih ada tekanan, masih ada standar, dan masih ada perjuangan yang harus dilalui. Tapi kita sedang bergerak ke arah yang lebih baik. Sedikit demi sedikit, lewat pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari.

Bagi saya, menjadi perempuan di era Gen Z adalah tentang belajar menemukan keseimbangan antara kebebasan dan tekanan, antara pilihan dan ekspektasi. Dan di tengah semua itu, saya percaya jika melanjutkan mimpi R.A. Kartini tidak harus dengan cara yang sama.

Kita bisa melakukannya dengan cara kita sendiri. Dengan berani memilih, berani berbeda, dan dengan berani menjadi diri sendiri. Karena pada akhirnya, emansipasi bukan hanya soal diberi ruang, tapi tentang bagaimana kita berani mengisi ruang itu dengan versi terbaik dari diri kita.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda