Kolom
Melawan Standar Kecantikan: Kartini sebagai Pelopor 'Self-Love' Indonesia
Membicarakan sosok Raden Ajeng Kartini sering kali membuat imajinasi kita melayang pada sosok perempuan bersahaja dengan sanggul rapi dan kebaya yang melekat anggun. Namun, di balik keanggunan itu, ada sebuah api perlawanan yang mungkin jarang kita bahas di kolom komentar media sosial. Bukan cuma soal hak pendidikan, Kartini sebenarnya adalah pelopor "self-love" dan kebanggaan identitas jauh sebelum istilah-istilah itu menjadi tren di kalangan Gen Z dan Milenial. Di tengah gempuran budaya Barat yang saat itu dianggap sebagai puncak peradaban, Kartini justru menunjukkan rasa percaya diri yang luar biasa terhadap jati dirinya sebagai perempuan Jawa.
Sobat Yoursay, kalau kita menilik surat-suratnya kepada teman-temannya di Belanda, ada aura yang sangat menarik. Kartini tidak sedikit pun merasa rendah diri atau "keder" saat berkorespondensi dengan orang-orang Eropa yang secara strata sosial waktu itu dianggap sebagai kelas penguasa.
Bayangkan, di era ketika kulit putih dan fitur wajah kaukasia dipuja sebagai standar keindahan tertinggi, Kartini tetap bangga menampilkan dirinya apa adanya. Beliau tidak lantas terobsesi ingin mengubah penampilannya agar mirip dengan perempuan-perempuan di Den Haag. Sebaliknya, beliau dengan bangga menceritakan keelokan budayanya, kain batiknya, dan cara hidupnya yang sangat Indonesia.
Ini sebenarnya adalah tamparan halus untuk kita yang hidup di zaman sekarang. Coba jujur, Sobat Yoursay, berapa kali kita merasa kurang percaya diri hanya karena warna kulit kita sedikit lebih gelap dari bintang iklan sabun di televisi? Atau berapa banyak dari kita yang merasa harus meluruskan rambut habis-habisan karena merasa rambut ikal atau bergelombang itu terlihat berantakan?
Standar kecantikan yang kita anut hari ini—putih, tinggi, langsing, rambut lurus—sebenarnya adalah warisan dari era kolonial yang masih betah menginap di kepala kita. Kita sering kali masih terjebak dalam pola pikir bahwa cantik itu harus mengikuti standar estetika bangsa lain, bukan standar kita sendiri.
Berdasarkan survei kecantikan di berbagai platform beberapa tahun terakhir, mayoritas perempuan Indonesia masih merasa bahwa memiliki kulit cerah adalah kunci utama kepercayaan diri. Padahal, kalau kita bicara data medis dan genetik, kulit kita yang kaya akan melanin ini justru merupakan anugerah untuk bertahan di bawah paparan sinar matahari tropis. Kartini sudah melampaui logika ini sejak dulu. Beliau memahami bahwa kecantikan bukan tentang seberapa mirip kita dengan orang lain, melainkan tentang seberapa berdaulat kita atas tubuh dan pikiran kita sendiri.
Dalam surat-suratnya, Kartini menunjukkan bahwa kecerdasan dan wawasan yang luas adalah riasan terbaik. Beliau memikat kawan-kawan Eropanya bukan dengan mencoba menjadi "Barat", tapi dengan menjadi versi terbaik dari seorang perempuan Jawa yang berpikiran maju. Ini adalah bentuk perlawanan yang sangat elegan terhadap standar kecantikan kolonial. Beliau seolah ingin berkata bahwa martabat kita tidak ditentukan oleh seberapa putih kulit kita, tapi oleh seberapa besar kontribusi dan pemikiran yang kita miliki.
Sobat Yoursay, jika Kartini yang hidup di tengah kungkungan tradisi dan dominasi kolonial saja bisa begitu bangga dengan identitas fisiknya, mengapa kita yang sudah merdeka justru sering kali menjajah diri sendiri dengan rasa insecure? Standar kecantikan modern yang sempit itu sebenarnya adalah tembok pingitan baru yang tidak terlihat. Tembok itu membuat kita ragu untuk tampil di depan publik hanya karena merasa tidak memenuhi kriteria cantik yang ada di layar ponsel.
Belajar dari korespondensi Kartini berarti belajar untuk melakukan "dekolonisasi" terhadap standar kecantikan di kepala kita. Cantik itu spektrumnya luas, seluas kepulauan Nusantara. Ada kecantikan dalam kulit sawo matang yang eksotis, ada daya tarik dalam rambut yang mekar alami, dan ada pesona dalam senyum yang tulus tanpa beban tuntutan sosial. Kartini mengajarkan bahwa identitas bukan untuk disembunyikan atau diubah demi validasi orang lain, melainkan untuk dirayakan.
Di momen Hari Kartini ini, yuk kita mulai berdamai dengan cermin. Menjadi Kartini masa kini bukan berarti kita harus selalu berkebaya setiap hari, tapi tentang bagaimana kita membawa diri dengan rasa bangga akan asal-usul kita. Jangan biarkan standar kolonial yang sudah usang itu mendikte cara kita mencintai diri sendiri.
Sobat Yoursay, mari kita buktikan bahwa perempuan Indonesia adalah perempuan yang merdeka jiwanya, yang percaya bahwa kecantikan berakar dari rasa bangga terhadap jati diri yang autentik, persis seperti yang Kartini tunjukkan lewat goresan penanya seratus tahun yang lalu.